Di Balik Konflik Timur Tengah, Indonesia-Rusia Jajaki Kerja Sama Migas
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah memanasnya konflik bersenjata Iran dengan Israel di Timur Tengah, Pemerintah Indonesia fokus menjalin kerja sama dengan Rusia di bidang minyak dan gas bumi (migas).
Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia seusai mendampingi Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Rusia pekan lalu. Dia menyebut, Rusia terbuka untuk bekerja sama dengan Indonesia.
“Oleh-oleh dari Rusia, yang pertama, saya mendampingi Presiden Prabowo di sana membahas tentang energi. Rusia terbuka untuk bekerja sama dengan kita. Pada sektor pertama adalah pengembangan sumur-sumur tua, atau sumur-sumur baru yang ada di Indonesia,” kata Bahlil saat ditemui dalam acara "Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 Lemhannas", di Jakarta, Selasa (24/6/2025).
Baca Juga
AS Kena Batunya Imbas Serang Iran karena Inflasi dan Harga Minyak Melonjak, Ini Penjelasan Pakar
Bahlil menerangkan, kerja sama ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan lifting minyak nasional. Presiden Prabowo sendiri menargetkan pada 2028-2029, lifting minyak nasional mencapai 1 juta barrel oil per day (BOPD).
“Harus kita akui bahwa Rusia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai pengalaman panjang di bidang perminyakan. Kita mempunyai sumur, tetapi teknologi, kita harus butuh belajar dan kolaborasi (dengan negara lain),” jelas mantan Menteri Investasi tersebut.
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa Rusia juga menawarkan impor minyak dan gas terhadap Indonesia.
Terkait ini, penjajakan sudah dilakukan dan selama beberapa hari ke depan, Bahlil akan melakukan pertemuan dengan perwakilan perusahaan dari Rusia.
“Saya besok rapat dengan tim dari Rusia, dari pengusaha-pengusaha BUMN-nya Rusia yang akan datang ke Indonesia. Mulai besok saya rapat maraton. Artinya potensi itu ada, tetapi dalam konteks saling menguntungkan,” beber dia.
Baca Juga
Bahlil pun menegaskan bahwa Indonesia menganut asas politik bebas aktif. Dengan kata lain, Indonesia tidak menutup pintu kerja sama dengan negara mana pun. Menurutnya, ini penting untuk kemajuan Indonesia yang sedang mengupayakan swasembada energi.
“Indonesia menganut asas politik bebas aktif, dan dalam konteks ekonomi menganut asas ekonomi bebas aktif. Artinya, kita tidak terikat pada satu negara mana pun, selama itu menguntungkan dan sama-sama menguntungkan, termasuk di sektor minyak dan gas,” tegas Bahlil.

