Potensi Investasi Ekspor Listrik ke Singapura Rp 818 T, Pertamina NRE Gandeng China Bangun Pabrik Panel Surya
JAKARTA, investortrust.id - Pertamina New and Renewable Energy (NRE) siap mengambil peran dalam rencana pemerintah yang akan melakukan ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura. Adapun potensi investasi ekspor listrik hijau ke Singapura ini sebesar US$ 30 miliar-US$ 50 miliar (Rp 491 triliun- Rp 818 triliun).
Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE Fadli Rahman menyebut, pihaknya akan melakukan groundbreaking dengan perusahaan tier 1 asal China dalam proyek manufaktur panel surya guna mendukung rencana ekspor listrik bersih tersebut.
Baca Juga
Pacu pengembangan PLTS dan PLTB, Pertamina NRE Akuisisi 20% Citicore Filipina Rp 1,9 Triliun
“Dalam waktu dekat ini kita akan ada groundbreaking untuk kerja sama dengan salah satu tier 1 solar manufacturing company. Ini akan menjadi supporter utama atau menjadi poin utama kita untuk support dari ekspor listrik ke Singapura,” kata Fadli di Jakarta, Kamis (19/6/2025).
Kapasitas ekspor listrik ke Singapura diperkirakan mencapai 3,4 gigawatt (GW). Adapun untuk memenuhi permintaan tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan akan membutuhkan 18,7 GWp produksi panel surya dan 35,7 GWh produksi baterai.
Selain akan berkontribusi dari sisi manufaktur dalam proyek ekspor listrik, tidak menutup kemungkinan Pertamina NRE akan terlibat sebagai pengembang yang menyuplai listrik bersih. “Tentunya kita sambil mengeksplore potensi untuk kita bergerak di sana sebagai developer. Namun, at least kita mulai dahulu dari sisi manufacturing,” beber Fadli.
Sebelum ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, perusahaan yang terlibat dalam proyek ekspor listrik ke Singapura adalah swasta. Sedangkan untuk PT PLN (Persero) tidak diprioritaskan.
Baca Juga
Pertamina NRE dan Prancis Garap 'e-Fuels', BBM Masa Depan dari Angin hingga Matahari
Dia mengungkapkan, PLN memiliki tugas berbeda, yakni memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri. Sebab, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, ditargetkan penambahan kapasitas sebesar 69,5 gigawatt (GW).
“Perusahaan yang terlibat swasta. PLN bisa iya, bisa tidak. PLN ini kan perusahaan listrik negara yang tanggung jawabnya besar, dia harus membangun 69 GW sampai dengan 2034, dia harus membangun jaringan 48.000 kms atau 8.000 km,” ucap Bahlil.
Proyek ekspor listrik bersih ini memiliki potensi investasi sebesar US$ 30 miliar-US$ 50 miliar untuk pembangkit panel surya dan sebesar US$ 2,7 miliar untuk manufaktur panel surya dan battery energy storage system (BESS). Adapun potensi penambahan devisa negara sebesar US$ 4 miliar-US$ 6 miliar per tahun dan potensi penambahan penerimaan negara US$ 210-US$ 600 juta per tahun.

