Abu Vulkanik Lewotobi Membuat 3 Bandara di NTT Ditutup dan 14.000 Penumpang Terdampak
JAKARTA, investortrust.id - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil langkah mitigasi dan pengawasan intensif menyusul erupsi beruntun Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak tiga bandara ditutup sementara imbas abu vulkanik, yakni Bandara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere, Bandara Soa di Bajawa, dan Bandara Haji Hasan Aroeboesman di Ende. Selain itu, lebih 14.000 penumpang terdampak di sejumlah jalur penerbangan.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada 17-18 Juni 2025, Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat mengalami tujuh kali erupsi. Kolom abu terpantau mencapai ketinggian 10.000 meter dan menyebar ke berbagai penjuru. PVMBG menetapkan status gunung pada level IV atau Awas.
Baca Juga
Ketua MPR Serahkan Infak Kemanusiaan Bencana Gunung Lewotobi NTT ke Baznas
Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa menyatakan, keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. "Kami terus memantau dan menyesuaikan operasional berdasarkan data terbaru," kata Lukman dalam keterangan tertulis, Rabu (18/6/2025).
Sebagai tindak lanjut, Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Denpasar menggelar rapat koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), AirNav Indonesia, operator bandara, maskapai penerbangan, dan penyedia layanan ground handling.
Dikatakan Lukman, dari informasi ASHTAM VAWR3701 yang diterbitkan AirNav Indonesia, abu vulkanik terdeteksi pada beberapa ketinggian, yakni 10.000 kaki ke arah barat, 35.000 kaki ke tenggara, dan 53.000 kaki ke barat. Kecepatan angin tercatat bervariasi antara 10 hingga 25 knot.
Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Cecep Kurniawan menambahkan, tiga bandara telah ditutup sementara waktu sebagai langkah mitigasi ke depan.
“Bandara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere ditutup hingga 19 Juni pukul 06.00 Wita, Bandara Soa di Bajawa hingga 18 Juni pukul 17.00 Wita, dan Bandara Haji Hasan Aroeboesman di Ende hingga 19 Juni pukul 07.00 Wita,” jelasnya.
Dia juga menyebutkan, sebanyak 26 penerbangan yang terdiri dari 12 penerbangan internasional dan 14 penerbangan domestik turut terdampak aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
''Ada beberapa titik lokasi bandar udara dengan jumlah penumpang terdampak terbesar yaitu Denpasar 10.560 penumpang, Labuan Bajo 2.166 penumpang, Lombok 772 penumpang dan Maumere 451 penumpang,'' papar Cecep.
Bandara lain yang turut merasakan dampak erupsi berada di wilayah Kupang, Bajawa, Ende, Sabu, serta sejumlah rute penghubung di wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.
Dirjen Lukman juga menekankan, seluruh operator penerbangan dan pengelola bandara wajib memberikan kompensasi kepada penumpang sesuai regulasi. Bentuk kompensasi antara lain penjadwalan ulang (reschedule), pengalihan rute (reroute), hingga pengembalian dana (refund) secara penuh.
Baca Juga
Erupsi Gunung Lewotobi di NTT Batalkan 30 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali
Sebagai langkah darurat, kata Lukman, salah satu maskapai di Labuan Bajo bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk menyediakan transportasi laut bagi penumpang yang tertahan.
''Di sisi navigasi udara, AirNav Indonesia telah mengaktifkan prosedur kontinjensi, termasuk pengoperasian Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, selama 24 jam penuh. Biasanya, bandara ini hanya beroperasi hingga pukul 02.00 Wita,'' tambahnya.
Pemantauan dan evaluasi akan terus dilakukan oleh Ditjen Perhubungan Udara secara lintas sektor untuk menjaga keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional penerbangan nasional di tengah situasi darurat ini.

