PP Presisi Bidik Kontrak Baru Rp 7,820 Triliun
JAKARTA, Investortrust.id – PT PP Presisi Tbk (PPRE), perusahaan jasa pertambangan dan konstruksi pada 2025 menargetkan kontrak baru naik 10%-15% menjadi Rp 7,820 triliun-Rp 7,480 triliun year on year (yoy) dari realisasi kontrak 2024 sebesar Rp 6,8 triliun.
“Kami menargetkan pertumbuhan perolehan kontrak baru pada 2025 sebesar 10% hingga 15%," kata Direktur Utama PT PP Presisi Tbk Arzan dalam keterangannya, Jumat (11/4/2025).
Dia mengatakan, target kontrak 2025 akan difokuskan pada sektor jasa pertambangan dan membuka peluang kerja sama dengan perusahaan lain dalam lini bisnis pertambangan.
Baca Juga
PP Presisi (PPRE) Raih Kontrak Baru Rp 6,7 Triliun, Bagaimana dengan Target 2024?
"Melihat besarnya potensi pasar di sektor tambang ke depan, PPRE semakin termotivasi untuk mendorong peningkatan nilai kontrak baru sebagai upaya strategis dalam mengakselerasi pendapatan perusahaan dan menciptakan nilai tambah pemangku kepentingan," kata dia.
Sepanjang 2024, PPRE mencatatkan perolehan kontrak baru sebesar Rp 6,8 triliun meningkat sebesar 1,49% dibandingkan 2023 sebesar Rp 6,7 triliun.
Pada 2024, PP Presisi berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 194 miliar meningkat 12,34% dibandingkan laba bersih 2023 sebesar Rp 172 miliar. Sejalan dengan itu, pendapatan PPRE mencapai sebesar Rp 3,7 triliun meningkat 11,47% dibandingkan 2023 sebesar Rp 3,4 triliun.
Baca Juga
PP Presisi (PPRE) Kedepankan Keselamatan Kerja dengan Teknologi Terbaru
Segmen bisnis jasa pertambangan dan konstruksi mendominasi pendapatan PPRE sebesar 94,5%, dan sisanya berasal dari lini bisnis pendukung, seperti ready mix dan penyewaan alat berat.
“Kami berupaya meningkatkan pendapatan di tengah kondisi pasar yang dinamis. Kami akan terus fokus pada efisiensi operasional, inovasi produk, serta memberikan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham kami,” ujar dia.
Adapun rasio keuangan, khususnya rasio leverage, menunjukkan tren penurunan yang positif. Salah satunya terlihat dari penurunan rasio DER interest bearing, dari 0,60x per Desember 2023 menjadi 0,51x per Desember 2024. "Penurunan signifikan pada utang berbunga ini menunjukkan kemampuan PPRE dalam menjaga rasio leverage tetap berada dalam batas covenant yang ditetapkan perbankan," kata dia.

