Wamenkomdigi Soroti Transparansi dan Akuntabilitas AI Mode Google
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti inovasi terbaru Google dalam dunia pencarian internet, yakni artificial intelligence (AI) mode. Teknologi ini memungkinkan hasil pencarian tidak lagi menampilkan daftar sumber (tautan biru) seperti biasanya, melainkan memberikan jawaban dalam bentuk ringkasan yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Nezar, aspek etika dalam pengembangan teknologi AI dengan mencantumkan sumber harus tetap diperhatikan, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas.
“Transparansi berarti dia harus merujuk pada sumber-sumber yang dipakai untuk pengelolaan atau pelatihan machine learning, juga akuntabilitas, jadi dia bisa dipertanggungjawabkan data-data yang dipakai,” kata Nezar seusai peluncuran "Pedoman Publisher Rights" di kantor Kemenkomdigi, Jakarta, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
Indosat (ISAT), Ericsson, dan Google Hadirkan Business Support System Berbasis Cloud
Nezar menambahkan bahwa evolusi berbagai produk AI selama ini cukup memperhatikan aspek etika. Dia berharap, hal ini dapat terus dilakukan ke depan. Namun, keputusan akhir mengenai implementasi AI mode masih dalam tahap diskusi.
“Ini memang masih terus dalam diskusi dan perkembangannya sangat dinamis. Kita berharap ini semua menjadi faktor-faktor yang akan memperkaya pengaturan kita nantinya ke depan,” ujarnya.
AI mode sendiri merupakan bagian dari upaya Google meningkatkan pengalaman pencarian pengguna dengan merangkum informasi langsung dari berbagai sumber. Namun, tidak adanya tautan sumber memunculkan tantangan baru terkait kredibilitas informasi dan dampaknya terhadap lalu lintas situs web.
Baca Juga
Masuki Babak Baru, Investor Bakal Bisa Mengakses Dompet Bitcoin Melalui Akun Google
Di sisi lain, Nezar juga menyinggung pentingnya pelabelan pada produk AI. Cara ini tetap dibutuhkan untuk menghormati hak cipta dan membedakan konten yang dibuat manusia dengan yang dihasilkan AI. "Secara prinsip ya (harus ada label AI), karena untuk menghormati hak cipta. Namun, bagaimana implementasinya, nah ini lagi didiskusikan," tutup Nezar.
Keputusan Google mengintegrasikan fitur AI ke dalam mesin pencarinya mendapatkan sorotan. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana Google memastikan keakuratan jawaban AI, mengingat model AI dapat menghasilkan bias atau kesalahan dalam menyajikan informasi.
Sebagai perbandingan, OpenAI dan Microsoft telah menerapkan sistem watermark pada konten AI mereka guna memastikan transparansi. Langkah serupa juga didorong oleh para pakar agar AI mode Google dapat sesuai regulasi yang berlaku. (C-13)

