DPR Desak Pemerintah Hilangkan Dualisme Harga Energi di Pasar
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno berharap skema baru penyaluran subsidi energi yang saat ini sedang digodok oleh pemerintah akan menghilangkan dualisme harga di pasar. Dengan kata lain, tidak ada lagi harga energi subsidi dan nonsubsidi.
Salah satu opsi skema yang dipertimbangkan pemerintah dalam penyaluran subsidi energi adalah dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Dengan demikian, masyarakat yang masuk kategori kurang mampu akan diberi uang tunai. Namun, harga energi yang dijual di pasar tidak disubsidi lagi.
“Menurut saya saat ini, ketika nanti sudah ada perubahan dari skema pemberian subsidinya dengan melakukan transfer langsung, secara perlahan tapi pasti, tidak ada dua harga di pasar. Tidak ada harga LPG subsidi atau LPG nonsubsidi. Jadi hanya ada satu harga saja untuk LPG-nya,” kata Eddy saat ditemui di InterContinental Hotel, Jakarta, dikutip Jumat (13/12/2024).
Kendati demikian, Eddy belum mendapat bocoran terkait berapa nominal uang tunai yang bakal diterima oleh masyarakat per bulannya untuk subsidi energi ini. Dia menyebut bahwa hal ini masih dalam kajian.
“Belum (dapat bocoran), tetapi kan kita harus lihat berapa secara agregat konsumsi per bulan setiap rumah tangga menggunakan tabung LPG. Ada yang mungkin menggunakan tiga tabung, ada yang empat tabung. Sekarang rata-ratanya berapa? Nah itu ada kesepakatannya,” ujar dia.
Baca Juga
Subsidi BBM Dipastikan Tetap Ada, Presiden Prabowo akan Umumkan Kriteria Penerima
Selain itu, Eddy juga tidak memungkiri bahwa mungkin saja nanti skema baru penyaluran subsidi energi bakal di-blending. Jadi, ada masyarakat yang mendapat BLT, dan ada juga pihak yang tidak menerima BLT, namun bisa membeli LPG subsidi dengan harga yang lebih murah seperti sekarang.
“Memang harus ada blending-nya, karena ada di tempat-tempat tertentu, kalangan masyarakat tertentu yang mungkin belum memiliki rekening bank misalnya. Jadi kan tidak bisa kemudian ditransfer. Mungkin ada cara lain,” terang Eddy.
Eddy menjelaskan, saat ini harga LPG subsidi (tabung 3 kg) dijual pada kisaran Rp 18.000-20.000. Tapi di dalam harga tersebut ada subsidi pemerintah sebesar Rp 33.000. Artinya harga keekonomian asli dari LPG 3 kg itu adalah Rp 53.000 per tabung.
Meski saat ini pemerintah sedang mencari skema terbaik dalam penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran, menurut Eddy perlu diperhatikan juga bahwa pengurangan konsumsi LPG juga bisa dilakukan dengan elektrifikasi rumah tangga, yakni dengan menggunakan alat masak listrik.
“Karena dengan elektrifikasi alat masak, kita bisa mengurangi surplus listrik yang sekarang ini kita masih miliki, kurang lebih 5 gigawatt (GW). Selain itu, tentu jauh lebih bersih dan jauh lebih bisa menghemat anggaran dari impor LPG yang sekarang kita lakukan,” tutur dia.
Baca Juga
Subsidi LPG dan Listrik di RAPBN 2025 Makin Besar, Bahlil Ungkap Penyebabnya
