WPCitra Gelar Halal Fair di ICE BSD, 6-9 Desember Ini
JAKARTA, investortrust.id - WPCitra akan menggelar Halal Fair selama tiga hari, 6-9 Desember 2024, di ICE BSD Tangerang sebagai event halal pamungkas tahun ini. Acara tersebut menghadirkan sedikitnya 150 exhibitor dari sejumlah sektor bisnis, seperti fashion, kuliner halal, travel haji dan umrah, multiproduk, serta merchandise halal.
“Bukan sekedar ritel, Halal Fair juga akan berkonjungsi dengan Halal Indonesia International Trade Show (HIITS) sebagai wahana jejaring bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) halal ke pasar global,” kata Project Director WPCitra, Satrio Sukur dalam keterangan resmi yang diterima investortrusrt.id, Senin (2/12/2024).
Satrio mengungkapkan, para pengusaha bisnis halal dari sejumlah negara, seperti Mesir, Malaysia, Uzbekistan, dan Tunisia siap menjadi mitra kolaborasi dan promosi pelaku bisnis halal nasional.
“Sebagai bentuk komitmen kami untuk mendorong kemajuan bisnis produk halal dan meningkatkan literasi ekonomi syariah, Halal Fair yang kami gelar sejak 2019 menyuguhkan sesuatu yang baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang dinamis,” ujar dia.
Baca Juga
Pengembangan Sektor Produktif Syariah dan Halal Komponen Penting Capai Visi Asta Cita
Menurut Satrio Sukur, sesuai dengan misi Never Stop In Halal Ways, Halal Fair siap menjadi bagian solusi mewujudkan Indonesia pusat halal dunia. Halal Fair ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran atas keberlanjutan program ekonomi syariah dan halal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 secara eksplisit menyebutkan agenda pembangunan ekonomi dan keuangan syariah yang dirumuskan secara pararel dalam master plan ekonomi syariah 2024-2029,” tutur dia.
Sebagai sebuah sistem, kata Satrio, ekonomi syariah mampu menjadi pilar untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Melalui kerangka kebijakan dan roadmap tersebut, pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan.
“Tantangannya bagi kami pelaku usaha bisnis halal adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai moral dan rasional dari ekonomi syariah dan bisnis produk halal sehingga inklusif dan universal sesuai prinsip rahmatan lil’alamiin,” papar dia.
Satrio menjelaskan, Halal Fair – The Most Inspiring Halal Event diharapkan menjadi wahana untuk mempromosikan serta memasarkan produk halal dan gaya hidup halal, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Tanah Air.
Fakatanya, menurut Satrio, keberlanjutan program ekonomi syariah dan halal juga didorong daya beli terhadap produk halal yang terus meningkat. Permintaan terutama berasal dari kalangan masyarakat muslim Indonesia yang merupakan kelas menengah dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan dinamis.
“Dalam jangka pendek, event Halal Fair ditargetkan turut mendorong transaksi dan perputaran bisnis dalam pemenuhan kebutuhan produk halal dalam negeri dari produsen nasional,” tegas dia.
Satrio mengemukakan, kegairahan berbelanja produk halal dalam rangkaian event Halal Fair terus mengalami tren positif, khususnya pada produk fashion dan kuliner. “Masyarakat sepertinya sudah mengidentikkan Halal Fair dengan salah satu agenda belanja produk fashion syar’i terbaru sambil family time me-recharge pemahaman tentang gaya hidup halal melalui berbagai sharing dari asatidz (para guru) dan praktisi bisnis halal,” kata dia.
Baca Juga
Gempuran Produk Halal Impor Masih Jadi Tantangan Industri di Dalam Negeri
20% Exhibitor Baru Fashion dan Kuliner
Satrio Sukur mengungkapkan, terdapat sekitar 20% exhibitor baru pada Halal Fair kali ini yang berasal dari produk fashion dan kuliner. “Transaksi pada dua kategori bisnis ini juga cukup tinggi di setiap Halal Fair yang kami gelar,” tutur dia.
Dia menambahkan, sejumlah brand fashion syar’i yang akan hadir di antaranya Najaah, Vanara, Taqeeya, Muslim Madani, Samase, Fadkhera, dan brand fashion favorit lainya. “Yang berbeda dari Halal Fair kali ini, Vanara mengemas program branding dan promosi yang kreatif untuk pengunjung dengan menggelar talkshow bersama psikolog Intan Erlita, mengusung topik kesehatan mental, Memaafkan,” ujar dia.
Para pengunjung, kata Satrio, juga dapat menyaksikan dan mengikuti Halal Culinary Festival dengan program menarik bersama dua Master Chef Indonesia, Amanda dan Heru. Dalam Chef’s Table Experience, pengunjung bisa berinteraksi langsung menikmati makanan sambil ngobrol akrab dengan chef-nya.
Selain itu, para pengunjung bisa mengikuti talkshow bisnis halal, Cooking Live Show. Juga seputar produk makanan halal, seperti food market dengan promo spesial. “Bahkan anak-anak bisa mengikuti program Koki Cilik lewat kreasi donat Jepang dari Nakambun,” ucap Satrio.
Tak kalah menarik, menurut Satrio Sukur, Halal Fair berkolaborasi dengan RIHLA, rangkaian kajian Islam yang dikemas kreatif dalam konsep seminar dengan memadukan narasi, visualisasi, dan multimedia berupa film pendek dan tilawah.
“Pengunjung keluarga tidak perlu khawatir, ada RIHLA Kids, halal play park terbesar seluas 800 m2 yang dirancang khusus untuk anak hingga usia 12 tahun. Mereka bisa menikmati berbagai zona permainan penuh petualangan seru dan edukatif, seperti Toddler Station, zona craft and painting, fun games, dan science show,” ujar dia.
Baca Juga
Dukung Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia, BSI Genjot Global Hub dan Islamic Ecosystem
Acara itu pun akan dihadiri sejumlah public figure, di antaranya Ricky Harun, Herfiza, Dini Aminarti, Uki Kautsar, Cut intan, dan Nadzira Shafa Aska. “Sebanyak 12 asatidz juga siap memberikan sharing dengan berbagai tema, mulai keluarga, muamallah, hingga bisnis. Selain itu, pengunjung berkesempatan konsultasi dalam intimate session langsung dengan asatidz,” papar dia.
Satrio Sukur optimistis program-program acara yang selalu refresh dan sajian produk halal berkualitas dalam perhelatan tersebut bisa menarik perhatian 30 ribu pengunjung selama tiga hari. Sejumlah loyal sponsor yaitu Wardah, Kahf, dan Biodef siap memberikan promo spesial bagi pengunjung.
“Acara ini juga mendapat dukungan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jakarta, Kemenparekraf, serta Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS),” tutur Satrio.

