PLN: Operasional PLTS Tak Akan Berjalan Tanpa Digitalisasi
JAKARTA, investortrust.id - PT PLN (Persero) menyebut operasional Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tidak akan berjalan lancar tanpa adanya dukungan sistem digitalisasi yang memadai.
VP Digitalisasi Kelistrikan PT PLN, Agus Tri Susanto mengatakan, PLN memiliki target di tahun 2040 akan masuk pembangkit-pembangkit PLTS yang besarnya 28 gigawatt (GW). Ini dilakukan untuk menggantikan PLTU batu bara dan mewujudkan net zero emission (NZE) 2060.
Kendati demikian, Agus menyebut yang menjadi permasalahan adalah jika PLTS ini masuk, maka PLN harus memiliki sistem yang kuat untuk mengadopsi teknologi tersebut. Sebab, PLTS bersumber dari matahari, sehingga jika matahari tertutup awan, maka PLTS tidak bisa berproduksi.
Baca Juga
Demokrat Buka Suara Usai Andi Arief Diangkat Jadi Komisaris PLN
“Dalam waktu mungkin 1-2 menit itu tertutup awan maka produksi PLTS turun. Berarti pembangkit lain harus bisa suplai. Nah, ini kalau tidak ada digitalisasi, kita bisa bayangkan tuh operatornya,” jelas Agus alam acara Urgensi Digitalisasi Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, Rabu (24/7/2024).
Maka dari itu Agus menekankan pentingnya mengakselerasi digitalisasi di sektor energi ini. Apalagi, di fase kedua transformasi digital PLN, akan dibangun smart grid atau jaringan cerdas, yakni jaringan yang mampu mengikuti fluktuasi dari produksi PLTS.
“Kita nyebutnya PLTS itu punya sifat intermittent. Intermittent itu dia artinya gak ajeg. Jadi kadang dia hilang, kadang masuk banyak, kadang tiba-tiba setengah saja. Nah ini kalau sistemnya gak kuat, tidak cerdas, itu bisa kebayang. Bisa jadi blackout,” papar dia.
Baca Juga
Maka dari itu, PLN juga akan mengembangkan defense system, metode untuk mengamankan diri sendiri, yang mana dalam hal ini adalah pembangkit. Ini dibutuhkan supaya tidak terjadi kerusakan jika terjadi beban yang sangat tinggi.

