Wamen BUMN: Profitabilitas Grup BUMN Gak Kalah dengan Temasek dan Berkshire Hathaway
JAKARTA, Investortrust.id – Grup Badan Usaha Milik Negara yang secara total memiliki aset sebesar Rp10.470 triliun, sejatinya memiliki tingkat profitabilitas yang tak kalah dengan holding-holding usaha kelas kakap dunia seperti Temasek Holding dari Singapura, hingga Berkshire Hathaway milik Warren Buffet.
Disampaikan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo dalam kesempatan Media Gathering yang digelar di Mandiri Club, Jumat (12/7/2024), tingkat profitabilitas perusahaan pelat merah yang bisa diukur dari rasio Return on Asset (ROA) yang berada di kisaran 3% dalam dua tahun terakhir, tak berbeda jauh dengan profitabilitas Temasek dan Berkshire Hathaway.
Baca Juga
Wamen BUMN: Dividen BUMN Besar, Digabung Pajak dan PNBP Jauh Lebih Besar Lagi
“Kita lihat dari total aset dan ROA Grup BUMN, sebenarnya kita itu di kisaran 3%. Kalau kita lihat benchmark di luar negeri pun ROA kita as a group dan ROE kita as a group itu not bad, kita bandingkan dengan Temasek, dengan Berkshire Hathaway, itu not bad,” kata pria yang akrab disapa Tiko.
Berdasarkan paparan yang disampaikan kemarin, pada tahun 2021 rasio ROA grup BUMN tercatat sebesar 1,4% dengan total aset saat itu sebesar Rp8.978 triliun. Tingkat ROA BUMN meningkat menjadi 3,2% pada tahun 2022 dengan total aset Rp 9.789 triliun, kendati harus turun tipis di tahun 2023 menjadi 2,8% dengan total aset Rp10.470 triliun.
Dalam kesempatan yang sama, Tiko juga menyampaikan, sebagai upaya untuk memberikan dampak ekonomi dan sosial BUMN di Tanah Air, sejak pandemi merebak tahun 2019 akhir hingga 2021 pihaknya aktif melakukan 3 fase penyehatan hingga membentuk BUMN yang inklusif dan mampu tumbuh berkelanjutan di periode 2024 -2034.
Baca Juga
Kembangkan 4 Destinasi Pilihan, Wamen Tiko: Ekosistem Pariwisata Mesin Pertumbuhan Baru Ekonomi
“Kita ada 3 fase. Fase waktu covid itu dimana kita (menjalani masa) resilience survival dan restructuring, dan kemudian sekarang kita masuk ke reimagine dan innovate. Nah disinilah kita mulai melakukan katalis untuk pertumbuhan di depan,” tuturnya.
Diakui Tiko, langkah tersebut bukanlah hal yang mudah dengan 118 BUMN yang harus dikelola oleh kementerian. Sehingga pada fase Reimagine dan Innovate selama dua tahun terakhir, Kementerian BUMN melakukan langlah reform span of control yang mengkonsolidasikan 181 BUMN menjadi 41 BUMN lewat holdingisasi.
“Memang gak mudah karena setelah Covid kita rapikan portfolio yang merger-merger seperti Pelindo, seperti Bank Syariah Indonesia. Kemudian kita juga inklusifikasi, kita selesaikan semua itu dengan mengurangi jumlah BUMN (lewat Klasterisasi, Merger, dan Holdingisasi pada tahun 2022) dari 181 BUMN ke 41 BUMN,” kata Tiko.
Apalagi range bisnis dan skala permodalan BUMN sangat lebar dari kelas aset yang jumbo seperti PT Pertamina, hingga BUMN sektor pertanian seperti PT Sanghyang Seri dengan skala aset yang jauh lebih mini.
“Lebar banget range itu. Enggak mungkin kita pegang secara direct semua. Kita Klasterisasi, Merger, dan Holdingisasi. Harapannya kita makin lama makin punya struktur yang berjenjang, bahwa kita mengelola bukan hanya melalui BUMN tapi juga melalui holding, termasuk holding untuk yang non-core,” kata Tiko.

