Pengamat Prediksi Sel Surya Sumbang 31% Suplai Energi Primer pada 2060
JAKARTA, investortrust.id – Praktisi Energi Satya W. Yudha memperkirakan suplai energi primer Indonesia untuk skenario tertinggi pada 2060 bisa mencapai 817 juta tonnes oil equivalent (TOE). Angka tersebut dihitung dengan asumsi rata-rata pertumbuhan ekonomi berkisar 6%.
Sedangkan bauran energi baru terbarukan (EBT) yang mendominasi diperkirakan adalah sel surya (solar cell) sekitar 27-31%. “Kalau kita melihat skenario tingginya dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6% per tahun, maka jumlah energi primer yang dibutuhkan pada 2060 setara dengan 817 juta TOE. Solar (sel surya) diprediksi penyumbang terbesar dan terbesar selanjutnya sumber daya nuklir,” kata Satya dalam acara Investortrust Power Talk: Energy Series di Perpustakaan Habibie & Ainun, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/6/2024).
Baca Juga
IMA: Potensi Pasar Batu bara Meredup, CCS dan CCUS Jadi Mahal
Berdasarkan riset Dewan Energi Nasional per Desember 2023, bauran EBT yang diproyeksikan menyumbang suplai sebagai energi primer terbanyak adalah sel surya hingga 31% dari total skenario tinggi di tahun 2060. Diikuti gas bumi dan biomassa sekitar 13-14%, batu bara sebesar 13%, dan nuklir sebesar 11%.
Kemudian, hydro (air) sebesar 5-6%, panas bumi atau geothermal (5%), minyak bumi (3%), biofuel (2-3%), angin (1%), dan new renewable energy (NRE) lainnya sekitar 2-4%. Sedangkan, biogas hanya sekitar 0,04% dari total suplai energi primer 817 juta TOE.
“Kira-kira batu bara masih ada ngak? Di sini disebutkan bahwa batu bara masih ada. Jadi kalau negara lain energi primer saja, batu bara sudah nol, sudah phase out. Indonesia tidak (phase out). Karena, kita miliki resources (batu bara) besar. Jadi kalaupun nanti digunakan untuk power plant harus batu bara yang bersih,” ujar Satya.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Batas Produksi Batu Bara RI Hanya 325 Juta Ton Tahun 2055
Sementara itu, Ketua Umum Indonesia Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau menekankan pentingnya penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS) dan carbon capture and utilization storage (CCUS) untuk menurunkan emisi pembangkit berbasis batu bara.
“Bersihkan batu bara, sehingga batu bara itu tidak punya polusi. Kemudian, teknologi yang lain, elektrifikasi kapal listrik segala macam, itu akan terjadi dengan sendirinya. Dan kalau itu terjadi, negara yang paling diuntungkan salah satunya adalah Indonesia,” kata Rachmat.

