Kemenkominfo Sebut Investasi Pengembangan AI di RI Tembus US$ 7,5 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan, Indonesia menjadi negara yang menerima pendanaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria menyebut, investasi pengembangan kecerdasan buatan di Indonesia sepanjang 2022-2023 mencapai US$ 7,5 miliar.
Indonesia hanya kalah dari Singapura yang begitu berambisi menjadi pusat pengembangan kecerdasan buatan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga
Cegah Hacker, Kemenkominfo Gandeng BSSN di World Water Forum
“Indonesia juga berada di peringkat kedua di Asia Tenggara setelah Singapura dalam hal pendanaan AI pada periode 2022–2023 dengan total investasi sebesar US$7,5 miliar,” katanya di Pullman Hotel, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2024).
Nezar mengungkapkan sebanyak 26,7 juta pekerja di Indonesia terbantu oleh kehadiran kecerdasan buatan. Mereka tidak hanya datang dari sektor teknologi informasi, tetapi juga antaranya informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, pemerintahan dan pertahanan, perdagangan dan pertambangan, hingga agraria.
Walaupun demikian, Nezar tak menampik bahwa kehadiran teknologi tersebut membawa sejumlah tantangan. Tak terkecuali penyebaran misinformasi yang dihasilkan kecerdasan buatan hingga hilangnya pekerjaan akibat masifnya otomasi.
"AI membawa sejumlah tantangan, yang paling terdengar adalah bias algoritma yang menyebabkan tindakan diskriminatif," ungkapnya.
Baca Juga
Tingkatkan Keamanan Investor, BEI Terbitkan Peraturan Delisting dan Relisting
Hal tersebut tidak terlepas dari tidak adanya kemampuan kecerdasan buatan memahami etika dan nilai-nilai kemanusiaan. Kemampuan kecerdasan buatan masih terbatas dalam menerjemahkan perintah dari pengguna.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah prompt atau instruksi yang efektif. Menurur Nezar, prompt yang dirancang dengan baik dapat mengarahkan kecerdasan buatan untuk merespon secara relevan, akurat dan inovatif.
“Siapa yang jago bikin prompt akan lebih maju dalam memanfaatkan AI," tegasnya.

