Ternyata Ini Tantangan dan Hambatan Supply Chain Management Migas Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia sudah menargetkan agar di tahun 2030 produksi minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) untuk gas. Namun, ada sejumlah tantangan yang bisa menghambat tercapainya target tersebut.
Vice President Supply Chain Management (SCM) Regional 2 PT Pertamina EP, Bayu Kusuma Tri Aryanto menerangkan, supply chain management atau manajemen rantai pasok memiliki peran penting untuk mewujudkan target di tahun 2030 tersebut.
Kendati demikian, saat ini lifting minyak dan gas bumi (migas) nasional belum bisa berjalan secara maksimal. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang sempat melanda pada medio 2020 hingga 2022.
“Kita merasakan semua (kesusahan). Apalagi kemudian dari sisi supply chain kita juga dihantam dengan kondisi yang harga cenderung naik. Kemudian juga dari sisi harga crude juga ada turun. Itu tantangan yang kita hadapi bersama,” ujar Bayu dalam konferensi pers, Senin (6/5/2024).
Baca Juga
Lebih lanjut Bayu menerangkan, persoalan geopolitik juga menyebabkan supply chain global terganggu. Meski peperangan tersebut hanya terjadi di wilayah tertentu, namun memiliki pengaruh yang besar terhadap pasokan global, termasuk Indonesia yang juga terkena imbasnya.
Didorong oleh faktor-faktor tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pun akan menggelar Indonesia Upstream Oil & Gas Supply Chain Management (IOG SCM) Summit 2024.
Adapun tujuan dibuatnya event tersebut adalah untuk membahas solusi, terobosan teknologi, serta strategi efektif dalam mempercepat digitalisasi rantai pasok dan menyelesaikan permasalahan kompleks dalam aktivitas dan operasional hulu migas.
“Nah ini yang kami mendapat arahan dari Pak Deputi, bagaimana kawan-kawan dari CSM bisa memberikan solusi yang dari kita untuk kita. Karena sebetulnya ini berangkat dari profesi kita semua,” jelas Bayu.
Baca Juga
SKK Migas Ungkap Tren Dunia di 2024 yang Bisa Pengaruhi Kinerja Hulu Migas
Maka dari itu, Bayu mengatakan, dibentuklah lima Pokja yang nantinya akan merumuskan secara aktual apa saja kebijakan-kebijakan yang harus diperlukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan tentunya akan di-support oleh SKK Migas.
“Nah ini yang salah satu upaya yang menurut kami nantinya bisa menjadi output yang produktif dan positif untuk KKKS,” terang dia.
Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan menggelar Pra-kegiatan Indonesia Upstream Oil & Gas SCM Summit 2024 di Surabaya pada tanggal 10-11 Juni 2024 dan Batam pada tanggal 3-4 Juli 2024. Acara puncak akan diadakan di Jakarta Convention Center pada tanggal 14-16 Agustus 2024.

