Skalanya UKM, Semangatnya Global
Industri logistik adalah salah satu industri yang paling merana gara-gara pandemi. Saat pandemi Covid-19 mencapai puncaknya pada 2020-2021, berbagai negara melakukan lockdown (penutupan wilayah) demi mencegah penyebaran virus mematikan itu. Di dalam negeri, pemerintah juga membatasi mobilitas masyarakat agar Covid tidak meluas ke seantero negeri.
Tak pelak, rantai pasok (supply chain) pun terganggu, baik di level global maupun nasional. Apalagi kegiatan bisnis nyaris terhenti saat Covid-19 berkecamuk. Kala itu, industri logistik benar-benar berada di tubir stagnasi.
Yang mengejutkan, industri logistik pula yang paling cepat beradaptasi dengan pandemi. Tak sampai setahun, industri ini langsung bangkit. Sayang, kebangkitan industri logistik tidak berlangsung mulus. Akibat gejolak ekonomi dunia, industri logistik global kembali mengalami turbulensi.
Salah satu pemain logistik yang mampu bertahan dari terjangan pandemi dan gejolak ekonomi dunia adalah PT Gateway Container Line, perusahaan lokal yang melayani less container load (LCL) atau layanan pengiriman angkutan kontainer yang menggabungkan dan mengonsolidasikan barang-barang kiriman dari berbagai pengirim dalam satu kontainer.
Perusahaan berskala usaha kecil dan menengah (UKM) yang melayani jasa konsolidasi pengiriman ekspor-impor bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu terus bertumbuh. Gateway Container Line bahkan digadang-gadang menjadi perusahaan LCL lokal paling mapan di Tanah Air.
Saat pertama kali didirikan, Gateway Container Line hanya mempekerjakan enam karyawan, sekarang mereka punya 320 karyawan. Dengan aset Rp 222 miliar, angka penjualan mereka tahun lalu tembus Rp 436 miliar. Kantor Gateway Container Line kini tersebar di berbagai kota, dari Jakarta, Bandung, Cikarang, Semarang, Surabaya, Belawan, hingga Makassar.
Uniknya, bisnis mereka betul-betul mengandalkan arus kas. Hebatnya lagi, Gateway Container nyaris tak pernah mengalami masalah ketidaksesuaian arus kas (cashflow mismatch). Tak kalah mencengangkan, Gateway Container Line sejak awal berdiri sudah membukukan profit dan belum pernah menderita kerugian.
“Kami memang perusahaan berskala UKM, tapi semangat kami adalah semangat global,” tegas Managing Director PT Gateway Container Line, Hesti Rosmawati dalam wawancara podcast Konvergensi dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) investortrust.id, Primus Dorimulu di Jakarta, baru-baru ini. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa Anda ceritakan bagaimana Gateway Container Line bisa eksis selama pandemi Covid-19?
Pandemi Covid-19 merupakan situasi yang menarik karena semua mengalami dampaknya, dan ini merupakan yang pertama kali terjadi. Kami bersyukur karena kami hanya mengalami sedikit hambatan pada 2020. Kami mengalami penurunan pengiriman sekitar 8%.
Situasinya saat itu seperti apa?
Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020. Seperti para pelaku bisnis yang lain, saat itu kami pun kaget dan bingung. Oh, apa yang harus kami lakukan?
Di satu sisi, kegiatan logistik tak bisa berhenti. Tapi di sisi lain, pemerintah menganjurkan agar kami banyak bekerja dari rumah (work from home/WFH). Tapi syukurlah, pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa industri logistik adalah salah satu industri primer yang dibolehkan beraktivitas penuh.
Jadi, kami tidak WFH. Tapi memang ada pembatasan, misalnya kami harus memperbaiki infrastruktur office. Jarak pun dibatasi dengan segala pemeriksaan oleh pemerintah setempat.
Strategi yang Anda terapkan waktu itu?
Kami langsung merapatkan barisan. Kami berpikir keras untuk memutuskan apa yang harus kami lakukan, karena kan semua industri terhenti saat itu. Kalau semua industri, terutama industri manufaktur terhenti, industri logistik akan terhenti.
Strategi kami waktu itu adalah membuat keputusan apa yang perlu kami reduce, apa yang bisa kami efisienkan. Pada 2020, kami juga koreksi forecast dan target, kami turunkan (pengiriman) sekitar 8%.
Kondisi itu berlangsung berapa lama?
Nah, pada 2021 justru kami kaget karena ternyata industri logistik langsung growth.
Bukankah saat itu ada Covid varian baru?
Betul, itu sedang parah-parahnya. Para pelaku bisnis logistik sepertinya saat itu salah diagnois. Kami piker, kalau produksi berhenti, industri otomatis terhenti. Ternyata tidak. Produksi tetap berjalan karena perusahaan-perusahaan mikir gimana caranya gue hidup.
Customer kami yang awalnya hanya mikirin spareparts mesin jahit, karena demand alat kesehatan (alkes) saat itu tinggi, mereka tetap impor. Alkes, baju-baju hazmat, itu semua diimpor. Kuantitasnya besar sekali. Belum lagi farmasi yang naik signifikan. Jadi, industri yang masih terkorelasi dengan pandemi itu oke.
Anehnya pula, penjualan barang-barang yang semula kami pikir tidak akan terbeli, seperti baju, sepatu, ternyata juga naik. Saat itu saya nggak habis pikir, kenapa di Indonesia justru pengiriman naik.
Ya sudah, kami jalani saja, kami sudah bicara dengan shipping line (perusahaan pelayaran), mereka lebih parah. Mereka juga salah diagnosis, mereka sudah parkirkan semua kapal. Maka kapal yang masuk Indonesia nggak banyak. Jadi, volume demand tinggi, tetapi kapal nggak ada.
Sampai 2022, itu masih terjadi, sampai semester II, sampai Oktober pun masih terjadi. Kapal nggak ada. Blessing in disguise, karena kapal nggak ada, akhirnya logistic price naik sehingga profit naik.
Kami membukukan profit yang nggak pernah kami achieve. Kondisi ini tidak hanya dialami Gateway Container Line. Jadi, pada 2020 turun 8%, lalu pada 2022 naik luar biasa, tapi sampai menjelang akhir tahun saja. Pada Desember kembali menurun.
Sebetulnya apa yang terjadi saat itu?
Kami menyebutnya operation turbulence. Profit naik, tetapi kami harus kerja ekstra karena kapal nggak ada, petugas Ditjen Bea dan Cukai juga sama, mereka tidak stand by 24 jam. Tetapi karena kami sudah hadapi beberapa situasi, semua bisa diatasi. Apalagi kami juga berhubungan dengan para stakeholder bagus.
Sebagai contoh, ada tren yang unik di pasar domestik saat itu. Impor tanaman hias booming. Jad, bukan hanya pengiriman di dalam negeri atau antarkota dan antardaerah saja yang melonjak. Impor tanaman dari Thailand banyak sekali, di antaranya Aglaonema, salah satu jenis tanaman hias terbaik dari Thailand.
Itu baru tanamannya saja, belum printilannya, seperti pot bunga, itu banyak sekali. Pengiriman pot di pasar domestik pun naik tajam karena banyak tanaman impor yang masuk.
Apakah rantai pasok sudah pulih sekarang?
Justru sekarang kelebihan kapal. Awalnya kan kekurangan kapal. Pada 2021-2022, shipping line atau vessel owner melihat potensi pasar sedemikian besar. Mereka kan mengalami kenaikan profit hingga 1.000% dari sebelumnya. Maka dengan uang itu, mereka beli kapal lagi, beli yang lebih besar dengan harapan kondisinya berlangsung lama. Tapi apa yang terjadi? Pada 2022, semester akhir, demand menurun.
Global demand mengalami slowdown karena banyak hal, seperti perang Rusia-Ukraina, lalu ada BRICS (aliansi beranggotakan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) yang ditujukan untuk menyaingi Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Global demand turun, padahal kapal sudah telanjur dibikin. Juga ada lonjakan inflasi global yang direspons kenaikan suku bunga yang dipicu kenaikan suku bunga The Fed.
Akhirnya misdiagnosis, sekarang kapal banyak. Tapi mereka berusaha menyamai profit tahun lalu, maka kapal diparkirin lagi, nggak banyak yang dioperasikan. Diparkirin dengan harapan space naik lagi, dipakai lagi, harga naik lagi. Tetapi itu belum terjadi sampai saat ini. Jadi, sekarang shipping line mengalami turbulence kedua, terjadi pulldown.
Positioning Gateway Container ada di mana?
Gateway Container Line didirikan pada 2009. Saat itu kantor kami masih di area Pelabuhan Tanjung Priok sebelum pemerintah mengeluarkan regulasi bahwa tidak boleh ada office di dalam pelabuhan.
Saat perusahaan ini didirikan, kami sudah memiliki goals. Visi kami jelas, kami ingin menjadi leader di bisnis konsolidator. Kami mengumpulkan barang-barang industri, biasanya yang kita lihat bentuknya sudah kontainer di jalan. Mungkin orang mikirnya kalau mau kirim barang ekspor-impor berarti harus pakai kontainer. Tapi kami tidak.
Teman-teman pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu kan punya barang kecil-kecil, cuma 1-2 kodi mau diekspor ke Singapura atau ke Korea. Nah, itu kami kerjakan. Kami kumpulkan sampai full satu kontainer, baru kami kirim. Maka dalam kurun waktu tidak terlalu lama, kami bertumbuh cepat.
Kami eksis di konsolidasi barang. Jadi, teman-teman pelaku industri yang belum bisa ekspor dalam jumlah banyak, mereka kirimnya lewat kami. Kalau volumenya sedikit kan nggak bisa ke shipping line. Kalau full baru bisa langsung ke shipping line.
Kami menyebutnya LCL (less container load atau layanan pengiriman angkutan kontainer yang menggabungkan banyak barang kiriman dari berbagai pengirim dalam satu kontainer). LCL itu harus ke konsolidator seperti kami.
Awalnya, saat pertama kali perusahaan ini didirikan, kami hanya punya enam karyawan, sekarang sudah 320 karyawan. Kantor kami pun tersebar di Jakarta, Bandung, Cikarang, Semarang, Surabaya, Belawan, dan yang terbaru di Makassar. Kantor di Makassar itu targetnya grab pasar Indonesia timur. Kami memang perusahaan berskala SMI (small medium enterprise) atau usaha kecil dan menengah (UKM), tapi semangat kami adalah semangat global.
Gateway Container melayani pengiriman ekspor ke negara mana saja dan produk apa yang dikirim?
Hampir semua negara. Kami adalah perusahaan konsolidator terbesar ke Uni Emirat Arab (UEA), tepatnya ke Dubai. Produk yang diekspor macam-macam, terutama tekstil. Market terbesar sejak kami berdiri sampai saat ini adalah tekstil. Dubai adalah pasar terbesarnya. Kita awalnya memang besar di tekstil, lalu terdisrupsi oleh China.
Pengiriman tekstil yang kami layani jenisnya macam-macam. Sudah jadi kain, ada yang bahan bakunya dari poliester, katun, atau campuran. Selain ke Dubai, ekspor tekstil terbesar yang kami layani yaitu ke negara-negara lain di Asean, terutama Thailand, kemudian ke Jepang, AS, Eropa. Ekspor ke Eropa tereduksi 70% sejak 2009 sampai sekarang.
Yang unik dari kami adalah kami melayani pengiriman ekspor ke negara-negara yang jarang orang dengar, seperti Bangladesh. Kami merupakan satu-satunya konsolidator yang memiliki direct service di Jakarta. Bangladesh itu, untuk Chattogram Port-nya hanya kami selaku konsolidator.
Begitu pula Pakistan dengan Karachi Port-nya, itu hanya kami sebagai konsolidator. Untuk pelabuhan India ada dua, yaitu Nhava Sheva dan Chennai, itu kami pelopor direct service ke sana. Sebetulnya kami masuk hampir ke semua negara, tetapi negara-negara yang saya sebutkan tadi adalah main market-nya.
Bukankah Gateway Container bisa masuk ke partai besar, misalnya ekspor CPO dan batu bara?
Saat ini kami belum mengambil sektor itu. Kami lebih mengarah ke consumer goods, mesin, tekstil, dan otomotif. Tapi mitra kami di sektor batu bara atau oil and gas butuh peralatan. Nah, kami handle alat-alatnya. Namun kami belum handle alat beratnya, misalnya untuk pengangkutan komoditas dan alat kegiatan produksi pertambangan.
Artinya ke depan akan ke sana?
Diversifikasi produk mungkin ya.
Bisa dijelaskan kinerja keuangan dan kondisi perusahaan saat ini?
Aset kami sekarang sekitar Rp 222 miliar. Sales tahun lalu Rp 436 miliar, dengan margin Rp 11-38 miliar. Dari awal berdiri, perusahaan ini sudah membukukan profit, belum pernah mengalami rugi.
Apa rahasianya?
Goals kami sudah jelas dari awal. Kebetulan kami berempat, yaitu Pak Bagyo, Pak Santo, Pak Surya, dan saya sendiri punya background sama, sebagai konsolidator. Kami sudah paham bisnisnya dan punya spirit yang sama.
Untuk menjadi konsolidator kan kalau nggak punya passion pasti susah. Bayangin, tiap minggu, tiap hari Jumat mikirin kontainer penuh apa nggak. Kalau nggak punya passion pasti frustrasi. Teman-teman lain banyak yang tumbang.
Kami bisa eksis karena goals kami jelas, kami setting model bisnisnya memang konsolidator. Kami tahu plus minusnya, customer segment-nya juga jelas, ya langsung profit. Bulan kedua langsung profit. Kami justru agak bingung kalau ada yang bakar-bakar duit.
Punya rencana menggandeng investor untuk membesarkan skala bisnis?
Kemarin sempat ada yang mau berinvestasi, ada beberapa. Teman-teman kami juga mau, tapi saat ini kami masih membatasi bahwa Gateway Container dikelola kami saja. Untuk saat ini, kalau pun bermitra, yang bisa hanya bank karena modal kerja kami tidak pakai bank sama sekali. Bisnis kami sebagai konsolidator tidak kenal kata kredit. Sejak awal kami berdiri, semua cash basis.
Tidak ada cashflow mismatch?
Tidak ada. Kalau impor, saat kapal tiba, mereka bisa ambil. Nah, untuk ambil barang, mereka kirim dokumen ke kami. Saat ambil dokumen, mereka harus bayar.
Kami memang pernah mengalami cashflow mismatch (ketidaksesuaian arus kas). Kami tidak sebutkan siapa institusinya. Tapi akhirnya kami jadikan pelajaran. Untungnya core business kami sudah kuat, sehingga kami bisa recover dari masalah tersebut.
Sebagai perusahaan UKM, Gateway Container juga melakukan digitalisasi?
Saya bangga karena untuk perusahaan berskala UKM, kami sangat concern pada digitalisasi. Saat ini mungkin konsolidator lokal yang mempunyai sistem berbasis web tak banyak. Kami salah satu pionir lokal.
Customer di mana pun, staf kami di mana pun bisa mengakses web kami selama ada internet. Booking online juga baru kami yang punya. Bahkan, saat pandemi, kami termasuk perusahaan konsolidator yang paling awal menciptakan e-DO (e-delivery order).
Saat ini Pak Presiden Jokowi juga menerapkan National Logistics Ecosystem (NLE). Bisa dicek, Gateway Container adalah satu-satunya konsolidator yang terafiliasi dengan NLE. Walaupun belum implementasi, kami sudah siap. Kami yakin beberapa tahun ke depan pasti akan terimplementasi. Kami sudah berbasis information technology (IT), online semuanya.
Jadi, digitalisasi benar-benar menjadi concern kami, walaupun kadang-kadang user-nya justru belum. Mungkin dari 100 customer kami, yang mau pakai digital baru 1-2. Sebegitu rendahnya minat terhadap digitalisasi.
Anda sepakat bahwa sistem digital adalah keniscayaan?
Harus, dalam 7-8 tahun ke depan semua akan menggunakan sistem digital. Saat itu terjadi, kami sudah siap.
Negara mana yang paling nyaman untuk bisnis LCL?
Untuk payment ya Singapura karena mereka hub dunia. Bisnis kami pertama kali berjalan justru ke Singapura. Di sana payment luar biasa, memang prudent, regulasi mereka sangat amat memudahkan.
Kedua, Vietnam oke, paling enak kerja sama dengan Vietnam untuk urusan human resources, kerja mereka cepat sekali, regulasi pemerintahnya pun sama sekali tidak menyulitkan. Jadi, untuk dua negara ini, kami tidak worried, kalau ada apa-apa pasti selesai cepat.
Jepang juga sama. Di awal, kami sulit sekali bekerja dengan Jepang karena loyalty mereka sangat tinggi, sehingga kalau mereka sudah bekerja susah digoyang, susah mengubah partnership mereka.
Tapi akhirnya pada 2019 kami bisa bekerja sama. Waktu itu terharu banget saya, pertama kali bisa bermitra dengan Jepang, tidak pernah terjadi konflik, tidak terlalu demanding juga. Selama etika bisnis dijalankan, Jepang itu enak banget, tidak terlalu worried suddenly mereka akan meninggalkan atau mengubah kerja sama.
Produk yang diekspor ke Jepang?
Banyak, tekstil ada, garmen ada, terutama untuk pakaian dewasa. Uniqlo ada yang produksi di kita juga. Sekarang produk-produk brand dunia yang diproduksi di Indonesia sangat banyak, di Cikarang, Tangerang, Bandung, dan daerah lainnya.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia terus turun, bahkan banyak perusahaan besar bangkrut. Bagaimana Anda melihatnya dari sisi logistik?
Persaingan, industri TPT dalam beberapa tahun terakhir terdisrupsi sekali oleh China, yang harganya lebih murah. Saya pribadi memandang produk kita bagus banget, tinggal nanti pemerintah melihat kenapa harga TPT kita tidak kompetitif di luar. Produk kita sebenarnya disukai di luar negeri.
Mungkin ada faktor-faktor tertentu yang akhirnya menyebabkan perusahaan TPT di sini banyak yang gulung tikar. Tapi memang faktor generasi penerus juga berpengaruh. Ada beberapa customer kami setelah pindah generasi ter-decline, mungkin passion-nya beda.
India kini menjadi negara dengan populasi terbesar di dunia (populasi India 1,43 miliar dibanding China 1,425 miliar). Apakah Gateway Container sudah mengantisipasi hal ini?
India kan pasar utama ekspor batu bara Indonesia. Juga CPO (minyak sawit mentah) dan alloy steel. Kami tidak masuk ke tiga komoditas itu. Kami bermain di situ, tapi nggak banyak. Meski demikian, India sudah dekat dengan kami sejak awal berdiri. Perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, seperti Indorama kan punya pengusaha India. Teman kami sudah lama sekali bermitra dengan mereka. Buyer-buyer TPT di Dubai itu semua trader-nya orang India.
Kami memandang India adalah market yang sangat potensial di masa depan. Kami tiap tahun menyelenggarakan Gateway Conference, kami memprediksi next negara mana yang akan jadi bintang. India sering disebut di conference kami karena negara dengan populasi besar punya bonus demografi. Roda ekonomi tumbuh cepat, industri juga akan tumbuh cepat kalau pemerintahnya menerapkan keputusan yang tepat.
Jadi, India jadi concern kami di logistik. Begitu ekonomi tumbuh, pasti logistik ikut, kami dari hulu ke hilir. Kami meningkatkan penetrasi ke India. Kami sedang mencari beberapa partner lagi di India karena pasarnya begitu luas. Apalagi Indonesia punya perdagangan bilateral dengan India. Selain itu, ekspor beberapa komoditas dipermudah. Jadi, kami perdalam penetrasi ke India.
Adapun untuk impor, kita banyak mengimpor parts mesin dari India.Kami juga handle mesin industri, termasuk essence oil, raw sugar,dan lain-lain.
Rencana ke depan untuk pasar India konkretnya seperti apa?
Ini pengalaman pertama kami business matching dengan India. Kami punya roadmap bisnis global dengan India karena India dalam kondisi sangat baik. Karena itu, sebagai langkah awal, kami engage dulu Kedubes India. Mereka tahu Gateway Container seperti apa. Ke depan, kami akan lebih banyak lagi berinteraksi, industri apa saja yang sangat membutuhkan logistik, terutama di sisi konsolidasi, tergantung seberapa banyak informasi yang bisa kami gali.
Dengan China bagaimana?
Volume impor terbesar kan memang dari China. Kalau ekspor nggak banyak, Gateway Container tidak banyak melayani ekspor ke China. Ekspor ke China kan besar-besar, sedangkan kami di sektor konsolidasi.
Sebaliknya, impor dari China banyak, seperti spareparts, chemical, akesoris baju, kancing, semuanya dari China. Pakaian jadi tidak kami ambil karena tidak diperbolehkan negara, kami hanya ambil raw material-nya saja. Juga aksesoris pakaian, kancing, hiasan, sampai hanger, banyak sekali item-nya.
Berkaca pada pengalaman Anda berbisnis LCL dengan berbagai negara, regulasi mana yang mesti segera diperbaiki pemerintah?
Boleh nyebut institusi nggak? Ha, ha, ha… Stakeholder yang paling penting bagi kami sebagai pelaku industri logistik adalah Ditjen Bea dan Cukai karena regulasi paling banyak dikeluarkan oleh mereka. Memang sistem Bea Cukai terus diperbaiki, sekarang menjadi lebih baik, apalagi sekarang semua sudah mengarah ke digitalisasi, semua sistem online.
Tetapi gini, mereka keluarkan sistem online, yaitu Sistem Layanan Informasi Mandiri (SLIM) Bea Cukai. Sekarang semua dikomunikasikan lewat portal tersebut. Di situ ada tenggat, misalnya pengurusan ekspor harusnya 10 hari. Namun dalam praktiknya kadang bisa lebih, bahkan bisa menjadi 30 hari, working days, bukan calendar days.
Para pelaku eksportir dan importer kan tidak terlalu paham untuk mengerjakan suatu dokumen apa saja yang dibutuhkan. Begitu kami submit kurang 1, mereka baru kasih informasi di hari ke-10, atau ke-9 menjelang batas akhir bahwa mereka belum bisa keluarkan dokumen karena kurang ini, kurang itu. Kami lalu mengajukan lagi, itu dihitung hari pertama lagi, terus sampai terpenuhi.
Masalahnya, selain makan waktu, dalam 30 hari ini biaya yang timbul juga besar. Padahal, tidak semua eksportir-importir itu perusahaan besar. Mungkin nilai barang yang mereka impor atau ekspor hanya Rp 30 juta, tetapi biaya yang harus mereka keluarkan saat ada sedikit masalah bisa Rp 100 juta. Itu masih terjadi. Itu pengalaman nyata customer kami.
Bukankah semua sudah terintegrasi dalam OSS?
Betul. Pengurusan dokumen ekspor-impor sebetulnya sudah online service, sudah ada Online Single Submission (OSS). Bagi kami yang awam, OSS itu sistem terintegrasi, semua stakeholder berkumpul di OSS. Tapi saat kami submit kok nggak ada respons, lama. Kami tetap harus bikin form, harus ke A, ke B, ke C.
Saya pikir, apa bedanya dengan dulu? Sekarang tinggal submit di internet saja, harusnya semua jauh lebih mudah. Dulu kami datang langsung. Begitu ada yang salah, kami dipingpong. Sekarang pemerintah punya program digitalisasi, tujuannya mempermudah. Tapi masih ada kelemahan. Mungkin sebaiknya dibedah lebih dalam, kenapa hal-hal seperti itu masih terjadi.
Kemarin teman kami, pelaku UMKM, sampai batal ekspor karena saat keluar surat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) tiba-tiba di pelabuhan ada masalah sehingga nggak bisa jalan. Akhirnya timbul kerugian ratusan juta rupiah.
Kami minta tolong ke pihak-pihak terkait, terutama Ditjen Bea dan Cukai sebagai regulator di pelabuhan, apakah ada kebijakan, misalnya sistem mengalami error saat mereka launching sistem baru, sistem kita di-approve agar tetap bisa ekspor.
Misalnya sekarang Ditjen Bea dan Cukai memberlakukan Customs Excise Information System and Automation (CEISA) 4.0. Saat sistem ini mengalami error, timbul biaya banyak. Kami harus bayar sewa kontainer, bayar biaya tracking, dan lain-lain.
Jika kesalahan itu disebabkan sistem, bukan karena pelaku usaha, apakah ada kebijakan, misalnya biaya dikurangi? Di negara-negara lain, seperti Brazil, biaya ekspor-impor dikurangi kalau sistemnya error.
Kasus terbaru, kami punya gudang konsolidasi di Marunda. Dulu cukup dengan Surat Keputusan (Skep) Dirjen Bea dan Cukai bahwa gudang kami menjadi tempat penyimpanan sementara. Dalam Skep itu tidak ada batasan sampai berapa tahun.
Tetapi kemarin ada perubahan aturan bahwa gudang harus dilengkapi dokumen Tanda Daftar Gudang (TDG). Jadi, kami harus lakukan pendaftaran baru melalui OSS. Kami sudah dua kali melakukannya. Ternyata dari Kasudin di Jakarta, kami dioper lagi ke Bekasi. Padahal sudah ada Skep.
Hanya untuk TDG aja sebegitu sulitnya. Ditjen Bea dan Cukai sekarang tidak mengakui Skep jika tidak dilengkapi TDG, padahal kami sudah registrasi gudang sejak 2012. Kami sangat concern mau membantu UMKM dari segi perizinan karena kami paham bahwa dalam proses ekspor-impor itu, jika mereka salah ambil langkah, biayanya sangat mahal.
Harapan Anda untuk pemerintah?
Kami berterima kasih sekali kepada pemerintah karena sistem yang dibangun pemerintah sudah sedemikian baik. Pemerintah sudah upgrade sistemnya. Tetapi harapan kami, mungkin ada sedikit kebijakan. Saat sistem itu mengalami error, sebaiknya ada kebijakan yang tidak memberatkan para eksportir-importir. Mohon dikaji.
Kedua, ini terkait dengan UMKM. Para pelaku UMKM perlu terus didorong agar naik kelas. Semua pihak harus mendorong mereka. Kami pun sedang fokus ke UMKM. Kemarin kami ke Surabaya, bekerja sama dengan Kamadjaja Logistics, meluncurkan portal khusus untuk UMKM.
Kami bantu di sisi ekspor-impor, kami juga siap memberikan edukasi tentang ekspor-impor. Dari sisi akademis, kami berusaha membuka kerja sama dengan kampus, membuka peluang magang, mahasiswa juga kami encourage agar menjadi pengusaha. ***

