Bulan Ini, Starlink Siap Uji Coba Operasional di IKN
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menyatakan Starlink sudah siap untuk diuji coba di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Mei 2024 ini.
Budi Arie menyebut layanan internet berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) itu sudah lolos uji laik operasi (ULO). Uji coba operasional baru dapat dilakukan setelah Starlink mengantongi surat keterangan laik operasi (SKLO).
"Uji coba layanan segala macam, begitu pada Mei (2024), pertengahan Mei (2024) lah di IKN Nusantara," katanya ketika ditemui oleh awak media di kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Selasa (30/4/2024).
Baca Juga
Penyedia Jaringan Telekomunikasi Keberatan Starlink Layani Pelanggan Ritel
Budi Arie menjelaskan pengujian di IKN meliputi uji kecepatan. Sekadar catatan, menurut data Ookla per September 2023, kecepatan tertinggi layanan internet Starlink bisa mencapai 122 Mbps di Swiss.
"Uji coba di IKN, (diujicoba) teknologinya seperti apa. Dia bilang kecepatannya 100 Mbps (megabit per detik), apa benar? Apa alat-alatnya? Teknologinya memungkinkan untuk itu tidak. Misalnya kaya handphone nih diuji coba, diuji langsung," tuturnya.
Harganya Tidak Akan Bersaing
Terkait dengan kekhawatiran dari penyelenggara jaringan telekomunikasi, Budi Arie menyebut harga yang ditawarkan oleh Starlink tidak lebih kompetitif dari layanan fixed broadband berbasis kabel fiber optik.
"Enggak usah khawatir, harganya enggak beradu lah, Dia (Starlink) cocoknya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Jadi begini, harganya enggak akan kompetitif kalau di perkotaan. Teknologi satelit itu cocoknya di daerah-daerah. Masa di Jakarta pakai satelit," bebernya.
Untuk harga yang akan ditawarkan Starlink, Kemenkominfo menyerahkan sepenuhnya pada pasar. Sebagai catatan, Starlink telah menyatakan harga langganan paket standar untuk pelanggan pribadi tanpa batas penggunaan atau unlimited sebesar Rp 750.000 per bulan. Perlu diingat, biaya tersebut belum termasuk harga perangkat untuk menangkap sinyal Rp 7,8 juta dan biaya pengiriman Rp 345.000.
"Kalau dia (Starlink) kalau mau ke (pelanggan) ritel ya silakan. Enggak usah terganggu begitu. Justru daerah-daerah Indonesia bagian timur itu sulit kalau enggak ada teknologi satelit," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Jerry M Swandy mengatakan Starlink berpotensi mengganggu ekosistem bisnis telekomunikasi. Terlebih, Starlink juga diizinkan untuk melayani pengguna akhir atau ritel.
“Karena kalau Starlink masuk di wilayah retail atau kota, nanti bisa mengganggu ekosistem dari sisi harga dan dari sisi bagaimana penyerapan layanan itu sendiri kepada masyarakat atau user,” katanya ketika ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (29/4/2024).
Baca Juga
Jerry berharap Kemenkominfo membuka ruang diskusi dengan operator telekomunikasi, termasuk anggota Apjatel membahas kehadiran Starlink di Indonesia. Harapannya, akan ada solusi yang menguntungkan semua pihak dari diskusi tersebut.
“Pandangan Apjatel untuk Starlink kita sepertinya masih harus membahas dengan rekan-rekan Kemenkominfo terhadap penggelaran Starlink ini. Cakupannya sampai seluas mana?" ujarnya.

