Profesor Ini Bilang Indonesia Sedang Mengembangkan Bahan Bakar Khusus, Apa Itu?
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia sedang mengembangkan bahan bakar khusus untuk berbagai keperluan, termasukuntuk kendaraan bermotor dan pesawat bermesin jet. Salah satubahan bakar khusus itu adalah bio-hidrogen.
“Kami sedang meneliti dan mengembangkan bahan bakar berbasis bio, termasuk bio-avtur atau bahan bakar pesawat terbang bermesin jet. Juga bio-hidrogen,” kata Ketua Institut Demokrasi, Sains, Teknologi dan Inovasi (IDSTI) The Habibie Center yang juga Profesor Riset di Badan Tiset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Eniya Listiani Dewi.
Prof Eniya mengungkapkan hal itu pada kuliah umum dan diskusi Pioneering Sustainable Solutions for a Changing World di The Habibie-Ainun Library di Jakarta, Senin (09/10/2023). Acara yang digelar The Habibie Center bersama The Technical University of Munich (TUM) Campus Straubing itu juga menghadirkan Ketua Dewan PengawasHabibie Center Ilham Akbar Habibie, Rektor TUM Volker Sieber, Managing Director TUM Asia Markus Watcher, Duta Besar Jerman untuk Indonesia dan Timor Leste Ina Lepel, serta peneliti Habibie Center Herawati.
Baca Juga
Ilham Habibie: Keberlanjutan Adalah Kunci Mewujudkan Indonesia Maju 2045
Menurut Eniya, penelitian dan pengembangan bahan bakar bio merupakan salah satu upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang polutif. Langkah itu juga akan efektif mengurangiemisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) agar Indonesia mampu mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2026.
Bahan bakar bio adalah jenis bahan bakar yang diproduksi dari bahan organik yang memiliki sifat terbarukan melalui proses fermentasi atau konversi termal dari bahan-bahan, seperti tanaman, alga, limbah organik, dan biomassa lainnya.
Termasukbahan bakar bio di antaranyabioetanol, biodiesel, biogas, dan biomassa padat, seperti serbuk kayu dan briket. Bahan bakar bio dianggap lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan bahan bakar fosil, seperti bensin, minyak diesel (solar), dan batu bara.
Bio-hidrogen disebut-sebut sebagai bahan bakar bio yang paling potensial. Pada bio-hidrogen, hidrogen dikonversi secara biologis menjadi bio-hidrogen melalui mikroorganisme. Salah satu bahan yang bisa diproses untuk menghasilkan bio-hidrogen adalahlimbah cair dari pabrik pengolahan kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME).
Baca Juga
Dukung Ekonomi Hijau, OJK Ingatkan Korporasi Terbitkan Laporan Keberlanjutan
Sangat Potensial di Indonesia
Prof Eniya Listiani Dewi menjelaskan, bahan bakar bio, termasuk bio-hidrogen, sangat potensial dikembangkan di Indonesia. “Jadi, bahannya dari limbah hasil fermentasi. Kamidapat membuat gas bio-hidrogen menggunakan limbah sumber daya bio, seperti POME, sagu, kakao, dan lainnya. BRIN semestinya memang lebih memperhatikan ekonomi sirkular berbasis bio sebagaimana penelitian kami,” ujar Eniya.
Eniya menegaskan, penelitian keberlanjutan harusmenjadi topik besar serta menjadi fokus para peneliti dan inovator di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.
Prof Eniya Listiani Dewi juga menggarisbawahi pemaparanRektor TUM, Volker Sieber tantang bio-teflon. Ia menganjurkan masyarakat berhati-hati terhadappenggunaanteflon sebagai wajan atau panci untuk memasak. Pemasak antilengket berbahan bakupolytetrafluoroethylene(PTFE) –-fluoropolimer tetrafluoroetilena sintetis atau senyawa polimer-- itu membahayakan Kesehatan manusia dan tidak ramah lingkungan.
“Saya tertarik pada penggunaan polimer berbasis bio, seperti disampaikian Prof Sieber. Jika semua orang masih menggunakan teflon untuk memasak sesuatu, tolong gantilah karena itu sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan lingkungan,” tegas dia.
Baca Juga
Survei: Target Implementasi Keberlanjutan Perusahaan RI Masih Bersifat Jangka Pendek
Para peneliti, kata Eniya, sejauh ini belum menemukan pengganti teflon. Karena itu,penelitian tentang polimer berbasis bio seperti dipaparkanProf Sieber sebelumnya bisa menjadi fokus penelitian di Indonesia.
“Kita harus bisamenciptakan ekonomi sirkular berbasis bio, apalagiIndonesia punyabegitu banyak sumber daya alam yang dapat digunakan sebagai bahan bakuproduk. Itudimulai dari penelitian,” tutur dia.
Eniya mengungkapkan, saat ini para peneliti di dunia tengah menyoroti isu daur ulang karbon. Pada diskusi lingkungan di Tokyo pekan lalu yang dihadiri para peneliti dari 20 negara, para peneliti menekankan bahwadaur ulang karbon dapat menjadi solusimasa depan.
“Saya baru saja tiba dari Tokyo, selamaseminggu kami membahas hidrogen dan daur ulang karbon. Penggunaan karbon untuk membuat nilai tambah lain dari metanol, termasukmenghasilkanprotein, seperti Anda kemukakan, benar-benar merupakan hal yang luar biasa,” papar dia.
Ke depan, menurut Prof Eniya, penerapan ekonomi sirkular adalah keniscayaan. “Semua orang berbicara tentang ekonomi sirkular. Penelitian saat inilebih banyak mengekspossudut pandang keberlanjutan,” ujar dia. (CR-3)

