Stafsus Erick Sebut Tawaran Harga Divestasi Vale Kemahalan, Negoisasi Masih Berlangsung
JAKARTA, investortrust.id – Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengungkap, harga divestasi saham yang ditawarkan oleh Vale Indonesia masih jauh dari harga wajar.
Untuk itu negosiasi dengan PT Vale Indonesia masih terus berjalan, hingga menemukan harga yang cocok terkait divestasi saham tersebut.
"Masih negosiasi, artinya enggak masuk dengan hitungan kita, dengan nilai yang dimaksud. Harusnya enggak segitu, harusnya lebih murah," ujar Arya sebagaimana dikutip Antara, Senin (27/11/2023).
Baca Juga
Meski tidak menyebut angka yang dipatok, Arya mengatakan, pada dasarnya nilai saham Vale Indonesia disebut fleksibel, sehingga masih dapat untuk terus dinegosiasi.
"Walaupun fleksibel tapi kan ada juga angkanya. Karena fleksibel makanya kita tawar lagi, gitu kan," kata Arya,
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, kesepakatan awal (head of agreement/HoA) terkait dengan divestasi saham PT Vale Indonesia sebesar 14% telah ditandatangani.
Baca Juga
BNI Bidik Pertumbuhan Kredit 10% Tahun 2024, Ini Faktor Pendukungnya
Diketahui, pemegang saham terbesar Vale Indonesia adalah Vale Canada dengan kepemilikan saham 43,79%. Berikutnya, MIND ID dengan kepemilikan 20%, dan Sumitomo Metal Mining sebesar 15,03 persen. Sedangkan, kepemilikan publik pada Vale sebesar 21,18%.
Pemerintah perlu meningkatkan kepemilikan saham di Vale melalui divestasi pemegang saham lain, seiring dengan masa operasi dan kontrak Vale Indonesia yang akan berakhir pada 28 Desember 2025.
Divestasi Vale dilakukan demi kepentingan nasional seiring dengan rencana hilirisasi dan industrialisasi yang dilakukan pemerintah. Divestasi juga menjadi syarat bagi Vale untuk bisa memperpanjang kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan (IUP).
Vale memiliki kawasan eksplorasi tambang, yang salah satunya, berada di Sorowako-Towuti, Sulawesi Tenggara. Produksi tambang Vale nikel, dengan rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai 75.000 metrik ton.

