Kilang Pertamina Kontributor Terbesar Kedua Dekarbonisasi
YOGYAKARTA, investortrust.id – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus mengembangkan berbagai inisiatif untuk menurunkan emisi karbon sebagai upaya mendukung program net zero emission (NZE). Saat ini, Kilang Pertamina memberikan kontribusi terbesar kedua dalam dekarbonisasi di grup Pertamina, setara 3,3 juta ton CO2.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Adityawarman, dalam presentasi kepada pemimpin redaksi media massa dalam perjalanan dengan Kereta Luar Biasa dari Jakarta ke Yogyakarta, Jumat (15/12/2023). Sejumlah direksi Pertamina berkunjung ke Yogyakarta, antara lain untuk menghadiri acara Anugerah Jurnalistik Pertamina 2023.
Taufik Adityawarman menjelaskan, dalam kurun waktu 2010-2022, grup bisnis Pertamina mampu meruduksi emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 7,9 juta ton. Dari jumlah itu, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memberikan kontribusi terbesar kedua, setara 3,3 juta ton CO2.
Sementara itu, dari 2022 hingga 2030, KPI berambisi mengurangi lagi emisi karbon sebesar 1,3 juta ton. Dengan demikian, pada 2030, emisi karbon yang dihasilkan seluruh fasilitas kilang KPI tinggal 9,4 juta ton, dari level 14,2 juta ton CO2 pada 2010 dan 10,7 juta ton pada 2022.
Lebih detail Taufik memaparkan, untuk mendukung program NZE, ada tiga inisiatif utama yang ditempuh KPI. Pertama, meminimalisasi gas buang dengan Flare Gas Recovery System (FGRS) sehingga dapat mengolah gas buang untuk diolah kembali.
Kedua, penggunaan sumber daya atau utilitas eksternal untuk meminimalisasi penggunaan own use di kilang. “Inisiatif ketiga adalah Advanced Process Control, agar dapat memaksimalkan yield produk,” kata Taufik.
Sedangkan untuk pengembangan bisnis hijau (green business initiative), KPI memproduksi BBM rendah sulfur atau non-sulfur dan rendah emisi, termasuk agar mengacu standar Euro 5. Selain itu, Kilang Pertamina memproduksi bahan bakar netral karbon seperti HVO, Sustainable Aviation Fuel (SAF), hidrogen, metanol, dan amonia.
“Bisnis hijau lainnya adalah carbon capture, yakni menangkap emisi karbon untuk digunakan lebih lanjut atau disimpan, termasuk memenuhi flare recovery unit,” kata Taufik.
Program lain untuk menunjang NZE adalah reforestasi dengan penanaman mangrove di sekitar kilang. “Target kita mereduksi sekitar 3,3 juta ton emisi karbon sampai 2030,” tutur Taufik.
KPI menghasilkan bahan bakar pesawat jenis Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau BioAvtur dengan kapasitas 9.000 bph. Ini merupakan campuran CPO 2,4%. “Produk SAF telah dipakai untuk penerbangan Garuda rute Jakarta – Solo,” ujar Taufik.
Menurut dia, untuk memproduksikan green diesel 100% dibutuhkan bahan baku berupa minyak sawit yang sudah dibersihkan dari bau dan pewarna.
Sedangkan untuk jenis SAF, bahan bakunya berupa inti sawit (kernel) yang harganya lebih mahal. “Untuk BBM jenis ini Pertamina sudah bisa memproduksi 3.000 barel/hari dari Cilacap. Produknya pernah dipakai untuk genset saat pertemuan G20 di Bali,” kata Taufik.
Baca Juga
Top! Kilang Pertamina Dumai Hemat Biaya Operasional Rp 176,4 Miliar per Tahun
Pertamina juga mengolah BBM dengan bahan baku minyak jelantah (used cooking oil). Produk tersebut sudah selesai menjalani uji laboratorium dan diuji coba di kendaraan. Ini akan dikembangkan dalam skala industri dengan kapasitas 9.000 barel/hari.
Taufik mengatakan pula bahwa kilang BBM Pertamina dinilai sudah mencukupi ketika memiliki kapasitas 1,4 juta barel/hari. Level ini merupakan titik keseimbangan antara kebutuhan untuk menjaga ketahanan energi dan kebutuhan untuk menjaga kapasitas kilang dari bahan bakar fosil.
Defisit Migas
Sementara itu, investortrust.id mempertanyatan impor migas yang masih besar, yang bisa memberatkan neraca perdagangan. Sebab, surplus perdagangan nonmigas selama ini tergerus oleh defisit migas. Kalau memang arahnya adalah energi terbarukan, kenapa tidak sektor ini saja yang disubsidi pemerintah, bukan lagi subsidi bahan bakar fosil.
Untuk menuju transisi energi, kata Taufik, KPI ditugaskan untuk menyediakan BBM dalam konteks mendukung ketahanan energi nasional. Dalam bauran energi nasional sekarang saat ini, energi fosil masih memegang peranan 40%, sedangkan energi terbarukan sekitar 18%. Porsi energi fosil akan terus dikurangi bertahap di masa mendatang, diganti energi terbarukan.
Kemampuan produksi kilang Pertamina saat ini dapat memenuhi 60% dari permintaan BBM nasional. Sehingga sisanya, 40% masih harus diimpor oleh PT Patra Niaga. Dari kapasitas 1.050.000 barel per hari KPI saat ini, sekitar 700 ribu bph untuk BBM dan sisanya untuk petrokimia.
Dengan selesainya proyek Kilang Balikpapan, tahun depan KPI menambah kapasitas menjadi 1.150.000 ribu barel/hari. “Saat ini, progresnya di Balikpapan hampir 90%,” kata Taufik.
Proyek kilang Balikpapan memperoleh pendanaan sebesar US$ 3,1 miliar. Investasi yang sudah berjalan mencapai US$ 1,6 miliar untuk tahun ini, dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sekitar 43,2%.
Taufik menekankan, KPI selalu mengedepankan aspek keberlanjutan dalam proses bisnisnya sehingga rating ESG-nya kini berada di 24,2.
Selain itu, KPI sudah mulai melaksanakan proyek pengembangan hilirisasi gas, dengan menggandeng British Petroleum (BP). Proyek ini menghasilkan blue ammonia dan beberapa produk lain, dengan pembeli siaga dari Korea dan Jepang. (CR-3)
Baca Juga
Pertamina NRE - Kilang Pertamina Internasional Bersinergi Wujudkan Efisiensi Energi

