Maksimalkan Digitalisasi Jasa Logistik, Gateway Container Line Targetkan Pertumbuhan Bisnis 9%
Jakarta, investortrust.id – Gateaway Container Line, perusahaan logistik nasional berskala global, menargetkan untuk membukukan pertumbuhan bisnis 9% tahun depan. Pertumbuhan sebesar itu diharapkan bisa diperoleh melalui bisnis less container load (LCL) yang memang menjadi fokus bisnis Perseroan.
Selama ini, kinerja Gateway ditopang dari jasa logistik ekspor-impor yang mengambil porsi 80%. Sisanya 20% diperoleh melalui jasa logistik domestic.
“Tahun 2023 ini kami tidak mencapai target. Target kami tahu ini sebenarnya bisa tumbuh 10%, tapi kami hanya bisa mencapai 8%. Tahun 2024 kami menargetkan pertumbuhan 9%,” ungkap Managing Director Gateaway Container Line, Hesty Rosmawaty, sesuai menjadi pembicara pada forum bisnis bertema "Enabling Indonesia-India Economic Integration" yang diselenggarakan Indonesia-India Business Forum bersama Kedutaan Besar India di Indonesia dan Investortrust, di Jakarta, Jumat (15/12/2023).
Saat ini, lanjut Hesty, Gateaway sudah memiliki berbagai lokasi dalam pengiriman LCL, seperti Medan, Bandung, Cikarang, Semarang, Surabaya, Makassar, dan pusatnya berada di Jakarta.
Di tengah derasnya perkembangan digitalisasi di ekonomi, Gateaway juga telah menerapkan beberapa fitur yang mempermudah akselerasi data seperti penggunaan NLE, CEISA 4.0, SiTol. Hesty mengakui, digitalisasi sangat penting dalam pengembangan bisnis, termasuk di jasa logistik. Pihaknya menyadari bahwa digitalisasi mau tidak mau harus diimplementasikan untuk mempermudah pekerjaan, dan menghindari kesalahan dalam memberikan layanan pada pelanggan.
“Digitalisasi tentunya sangat penting saat ini, karena sekarang semua serba otomatis. Hal-hal yang sifatnya manual ini lambat lain akan ditinggalkan karena prosesnya memakan waktu, potensi kesalahan juga sangat besar karena manual, jadi otomasi akan sangat penting,” ungkapnya.
Selanjutnya, Gateaway juga sudah menerapkan beberapa kemudahan bagi customer untuk mengakses layanan dan memonitor proses pengantaran melalui website mereka. Hesty menegaskan bahwa saat ini, selain website yang dapat digunakan untuk mempermudah akses, mereka sedang membangun aplikasi yang serupa dengan website.
“Kami juga sudah mempunyai management system, mencakup booking online, sehingga customer bisa booking ekspor impor kapan saja melalui sistem. Semua dokumentasi juga bisa mereka pantau melalui situ, jadi warehouse management system kami sudah terimplementasi. Tracking juga sudah dilengkapi dengan GPS (global positioning system), sehingga customer bisa melihat posisi kargonya di mana, kami juga sudah menerapkan predictive tracking system, kapal-kapal yang mau datang ekspor impor juga sudah bisa dicek dari situ,” tutur Hesty.
Menanggapi masih tingginya biaya logistik, Hesty mengakui ada sejumlah faktor. Di antaranya hambatan dalam kepabeanan, seperti persyaratan yang tidak terpenuhi membuat biaya tidak terduga yang dikeluarkan dapat lebih mahal daripada harga barang itu sendiri.
“Itu terjadanya adanya biaya-biaya tidak terduga, yang biasanya terjadi di proses customs (kepabeanan), itu sering sekali. Jadi mungkin ada eksportir dan importir yang kurang comply terhadap persyaratan tax sehingga menimbulkan biaya yang luar biasa, yang di atas dari harga barang itu sendiri,” jelasnya.
Untuk itu, lanjutnya, saat ini Gateaway fokus untuk mengedukasi customer mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan agar biaya-biaya tidak terduga tidak perlu dikeluarkan dan proses pengiriman ekspor impor berjalan dengan lancar.
“Jadi fokus kami sekarang adalah mengedukasi customer apa saja sih yang harus diketahui dan dibutuhkan pada saat mau melakukan transaksi logistik. Kesalahan sedikit saja itu akan menimbulkan kerugian. Jadi itu salah satu concern kami,” kata Hesty. (CR-4)

