Industri Penerbangan Pulih, Garuda malah Waspada, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Industri jasa penerbangan sudah pulih, bahkan kondisinya sudah sama dengan sebelum pandemi. Tapi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk justru waspada dan lebih berhati-hati.
“Kami harus terus berhati-hatimelihat angka-angka ini, bahkan kami katakan harus mewaspadainya,” kata Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Irfan menjelaskan, saat terjadi pandemi Covid-19, seluruh dunia tidak siap, sehingga berbagai negara memberlakukan penutupan wilayah (lockdown) dan membatasi mobilitas masyarakat. Alhasil, seluruh maskapai penerbangan terkena dampaknya.
Baca Juga
“Nah, hari ini kita menyaksikan jumlah penerbangan pelan-pelan meningkat. Begitu pula jumlah penumpang. Jadi, industri penerbangan dari sisi jumlah penumpang sudah recover untuk domestik. Sudah dalam posisi sama seperti sebelum pandemi,” ujar dia.
Meski demikian, menurut Irfan Setiaputra, manajemen Garuda tidak mau gegabah melihat angka-angka yang menunjukkan perkembangan positif tersebut.
“Kami harus terus berhati-hati melihat angka-angka ini. Kami nggak bisa kemudian menganggap angka ini akan terus meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenapa? Karena banyak behaviour penumpang yang berubah. Itu sebabnya, kami sekarang sangat fokus ke behaviour penumpang,” papar Irfan.
Irfan mengungkapkan, salah satu perilaku yang dicermati manajemen Garuda adalah event para pelancong (travellers). Dulu, biasanya mereka bepergian ke Bali dalam sebulan sekali, sekarang berubah menjadi seminggu sekali. Dengan demikian, jumlah penumpang penerbangan ke Bali kini lebih banyak.
Baca Juga
Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
Bisa Normal Lagi
Orang yang berwisata ke luar negeri pun, kata Irfan, berubah dari setahun sekali menjadi 2-3 kali dalam setahun. Alasannya sama karena ada masa sekitar dua tahunorang-orang tidak bepergian dan tidak naik pesawat akibat pandemi.
“Saya katakan mesti mewaspadai ini karena kan bisa menjadi stabil lagi seperti sebelum pandemi. Artinya, wisatawan yang sekarang ke Bali seminggu sekali bisa jadi balik lagi menjadi sebulan sekali. Itu akan sangat pengaruh terhadap industri penerbangan. Jadi, itu perlu kami waspadai,” tandas dia.
Menurut Irfan, Garuda akanmeningkatkan jumlah penerbangan secara hati-hati sesuai kebutuhan. “Kami tidak akan jorjoran. Kami ingin tambah pesawat bertahap dengan tingkat keterisian kursi (seat load factor/SLF) tetap tinggi,” tegas dia.

