Peluang dan Tantangan Ekspor Nasional, Ekonomi Hijau Ikut Disorot
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Pengembangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI), Didi Sumedi menjelaskan, ada sejumlah tantangan dan peluang yang perlu dicermati bagi kemajuan ekspor Indonesia.
Salah satu yang disorot adalah peluang ekspor yang menjanjikan pada negara-negara kurang berkembang atau least developed countries (LDC). Negara yang masuk kelompok ini seperti Bangladesh, Etiopia, Kamboja, Myanmar, dan lainnya.
Perekonomian negara-negara ini terus meningkat dan diprediksi akan bertransformasi menjadi negara berkembang.
“Ini bergeser ke arah positif. Sehingga memberikan pesan kepada kita jika pasar-pasar tersebut layak untuk kita garap,” ujar Didi, dalam seminar yang diadakan secara virtual, Jumat (29/12/2023).
Baca Juga
Negara-Negara Ini Bisa Jadi Pasar Ekspor Potensial bagi Indonesia
Peluang lainnya adalah program ekonomi hijau dan perdagangan berkelanjutan. Faktor ini sekaligus menjadi tantangan bagi sektor ekspor nasional, karena ada perubahan pola perdagangan dunia.
Kelompok negara Uni Eropa dinilai makin concern pada ekonomi hijau dan mengedepankan sustainable trade.
“Ini juga merupakan tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk bisa. Karena ini berpacu di setiap negara kalau menarget pasar Uni Eropa akan berpacu untuk bisa memenuhi kriteria atau persyaratan tersebut (ekonomi berkelanjutan),” kata Didi.
Di samping itu, ada sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai oleh sektor ekspor nasional. Salah satunya, terkait gangguan logistik, distribusi, dan rantai pasok yang beberapa tahun belakangan berlangsung.
Baca Juga
Ini Komoditas Unggulan yang Jadi Primadona Ekspor ke Taiwan, Apa Saja?
Persoalan ini setidaknya sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19. Ketika kondisi pandemi mereda, tantangan ini tetap berlangsung seiring dengan ketegangan geo-politik global.
Misalnya perang Rusia-Ukraina menyebabkan harga energi melonjak signifikan. Alhasil, harga barang lainnya ikut naik dan mempengaruhi alur logistik.
Kemudian, dampak perang Israel-Palestina membuat kondisi Laut Merah dan Terusan Suez tidak memadai untuk dilewati jalur logistik. Kondisi ini memicu perubahan haluan angkutan laut mengitari Benua Afrika melewati Tanjung Harapan. Hal ini otomatis berdampak negatif baik dari sisi waktu maupun biaya.
“Hal yang seperti ini pulang-pulang yang perlu kita jaga dan kita manfaatkan, termasuk tadi tantangan-tantangan yang mungkin kita bisa hindari atau cari solusinya,” jelas Didi. (CR-13)
Baca Juga
Menteri KKP Ungkap Vietnam Sudah Investasi Benih Lobster, Bakal Buka Keran Ekspor Lagi?

