Kemenkop UKM Dorong Koperasi Masuk PMO Kopi Nusantara
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM)mendorong koperasi-koperasi produsen kopi masuk ke dalam program Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara yang sudah diluncurkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Sekretaris Kemenkop UKM, Arif Rahman Hakim, hal tersebut ditujukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas biji kopi di dalam negeri.
Saat ini, kata Arif, sistem rantai pasok kopi di dunia menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya hambatan tarif, ketatnya persaingan dan persyaratan untuk masuk ke pasar global, serta beberapa persyaratan sertifikasi berkelanjutan.
Baca Juga
"Namun kami optimistis, melalui sinergi dan kerja sama seluruh pihak dalam payung PMO Kopi Nusantara, Indonesia mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas biji kopi," kata Arif Rahman Hakim dalam keterangan tertulis yang diterima investortrust.id di Jakarta, Jumat (29/3/2024).
Arif Rahman, yang menyempatkan diri untuk berdialog dengan pengurus Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah di Desa Cisalak, Kabupaten Subang, mengungkapkan, PMO Kopi Nusantara terdiri atas unsur perusahaan pelat merah dan swasta nasional, asosiasi, dan lembaga penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).
“PMO Kopi Nusantara sudah memiliki sembilan proyek percontohan (pilot project) di enam wilayah di seluruh Indonesia dengan total lahan yang difasilitasi hingga saat ini lebih dari 6.500 ha yang dikelola 2.500 petani,” tutur dia.
Arif mengemukakan, dalam proses pendampingan, PMO Kopi Nusantara melibatkan BUMN produsen pupuk, perkebunan, perbankan, asuransi, perdagangan, serta pemda. Melalui PMO Kopi Nusantara diharapkan terbentuk ekosistem industri kopi Indonesia yang dapat menyejahterakan seluruh kelompok, khususnya para petani.
"Jadi, ekosistem bisnisnya sudah ada. Diharapkan koperasi kopi masuk ke dalam supply chain, sehingga mampu menjadi market leader di pasar internasional,” ujar dia.
Dia menambahkan, Kemenkop UKM memiliki program yang seiring dan sejalan, yakni program Korporatisasi Petani, di mana para petani berlahan sempit dikelompokkan ke dalam wadah koperasi agar bisa masuk skala ekonomi.
“Skema PMO dapat diterapkan pada koperasi, termasuk petani kopi. Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah di Subang ini saya yakin bisa masuk skema PMO," tegas Arif.
Baca Juga
Koperasi GLB Butuh Investor
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Produsen Gunung Luhur Berkah (GLB), Miftahudin Shaf menjelaskan, Koperasi Produsen GLB telah mencetak perkebunan kopi yang berlokasi antara lain di Kabupaten Subang, Cianjur, dan Bogor.
Di bidang pertanian, Koperasi Produsen GLB juga dipercaya Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sebagai pengelola gudang dalam sistem resi gudang (SRG) kopi, padi, dan gabah.
"Terdapat tiga gudang yang berhasil dikelola, yakni Gudang SRG Sri Ampeli, Gudang SRG Rizki Wijaya, dan Gudang SRG Mitra Tani," kata Miftahudin.
Koperasi Produsen GLB, menurut Miftahudin, merupakan koperasi yang memiliki fokus kegiatan usaha di bidang perkebunan dari hulu sampai hilir, dari mulai pembenihan, budidaya, pascapanen, sampai perdagangan (trading).
“Koperasi Produsen GLB menjadi satu-satunya koperasi di Jawa Barat yang telah memiliki izin pengelolaan gudang dalam resi gudang untuk komoditas kopi,” tutur dia.
Saat ini, kata Miftahudin, Koperasi Produsen GLB tengah membutuhkan investor untuk mengolah potensi 10 ribu ha hasil kerja sama lahan dengan perhutani. Pada 2023, Koperasi Produsen GLB memiliki omzet hingga Rp 17 miliar.
Dengan investasi Rp 50 juta per ha, investor akan mendapatkan sekitar 2.500 pohon. Angka tersebut sudah termasuk biaya bibit, penanaman, perawatan hingga panen.
"Ini akan menghasilkan saat memasuki usia dua tahun. Pada tahun ke-4, modal sudah bisa kembali, sudah masuk tahap profit revenue sharing sebesar 30% untuk koperasi dan 70% untuk investor. Tiap tahun, harga kopi selalu meningkat, tak pernah ada kata turun," papar Miftahudin.
Baca Juga
Koperasi Produsen GLB saat ini memiliki mitra offtaker di Mesir (Alpostan Company), Arab Saudi (Al-Sahabh Trading Company dan Abdul Wahid Trading Co), Lebanon (Arc Build/Ghaleb K Faour), dan Indonesia (PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sulotco Jaya Abadi, dan Mayora).
Miftahudin mengapresiasi berbagai kebijakan dan dukungan Kemenkop UKM terhadap pengembangan koperasi dalam menjalankan usaha, khususnya untuk Koperasi Gunung Luhur Berkah.
Produk Kopi Koperasi Gunung Luhur Berkah, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Humas Kemenkop UKM.

