'Lifting' Minyak 2026 Belum Capai Target, SKK Migas Siapkan Skenario Baru Kejar 610.000 Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menghadapi sejumlah kendala untuk mengejar target lifting minyak nasional sebesar 610.000 barrel oil per day (BOPD) pada 2026. Dengan sisa waktu dua bulan hingga akhir tahun, SKK Migas menyiapkan sejumlah skenario baru untuk mendekatkan realisasi lifting dengan target yang telah ditetapkan.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti mengatakan, berbagai tantangan yang dihadapi sepanjang 2026 berpotensi menekan pencapaian lifting minyak nasional. Namun, pihaknya masih mengupayakan langkah-langkah untuk memperkecil selisih antara realisasi dan target akhir tahun.
Baca Juga
Penerimaan Negara dari Hulu Migas Diproyeksi 109% Target APBN 2026, Ini Pendorongnya
“2026 tentunya banyak kendala yang kami hadapi dan menekan target lifting nasional pada akhir 2026 dari yang sudah ditargetkan sebesar 610.000 barel untuk oil. Ini tentunya masih ada sisa waktu dua bulan. Kami optimistis melalui beberapa skenario lifting yang baru, tentunya akan terus diupayakan untuk mendekatkan kepada target lifting 2026 tersebut,” ujar Desti dalam konferensi pers Forek Hulu Migas 2026, Selasa (20/10/2026).
Salah satu tantangan utama berasal dari kondisi mayoritas wilayah kerja migas yang sudah memasuki fase matang atau mature. Kondisi tersebut membuat produksi menghadapi tekanan penurunan alami (natural decline), sehingga diperlukan kegiatan pengeboran secara masif untuk menahan laju penurunan produksi.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana kita berusaha untuk menekan penurunan, natural decline, tidak terlalu tajam melalui kegiatan masif pengeboran. Tentunya ini menjadi kontribusi utama kegiatan hulu migas yang akan memberikan dampak terhadap peningkatan dari investasi hulu migas,” sebut Desti.
Untuk mendorong investasi dan penemuan cadangan baru, SKK Migas menilai kepastian hukum, investasi, dan fiskal perlu terus diperkuat. Ketiga faktor tersebut dinilai penting untuk menjaga minat investor dalam mengembangkan wilayah kerja serta mendukung pencapaian target produksi nasional.
“Mandat dari hulu migas untuk mencapai dan memenuhi target produksi dan lifting nasional, tentunya tidak lepas dari beberapa hal yang perlu kita kawal. Yang pertama adalah adanya kepastian hukum, kepastian investasi, dan kepastian fiskal yang memberikan peningkatan investasi dan upaya-upaya untuk mendorong appetite dari para investor agar terus melakukan penemuan-penemuan cadangan baru yang nantinya akan berkontribusi terhadap target capaian produksi nasional,” sebutnya.
Baca Juga
Forek Hulu Migas Kembali Digelar, SKK Migas Bidik Investasi dan Genjot 'Lifting' Nasional
Selain kepastian berusaha, Desti menekankan perlunya stimulus fiskal yang atraktif untuk meningkatkan daya saing investasi. Menurut dia, upaya mengoptimalkan potensi migas tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya, tetapi juga membutuhkan kebijakan yang mampu mempercepat pengembangan potensi menjadi produksi.
SKK Migas juga mendorong respons yang lebih cepat terhadap kebutuhan industri melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, SKK Migas, dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pengeboran, menahan penurunan produksi dari lapangan-lapangan matang, serta memperbesar peluang pencapaian target lifting minyak nasional.
