Target Perdagangan Indonesia-Rusia Capai US$ 10 Miliar, Kadin Libatkan UMKM dan Perkuat Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia, melalui peningkatan perdagangan, investasi dua arah, serta kerja sama industri.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut target pemerintah yang ingin melipatgandakan nilai perdagangan Indonesia-Rusia dalam lima tahun ke depan, dari sekitar US$ 5 miliar pada 2025. Target ini disampaikan Prabowo saat berpidato pada forum ‘The Far East: Development for the Benefit of the People’ di Vladivostok, Rusia awal September 2026, di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Saya menyukai ide yang dibicarakan oleh kedua presiden kita,” jelas Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie di Artotel Mangkuluhur Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Anindya menekankan bahwa peningkatan perdagangan perlu diiringi dengan keseimbangan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan pelaku usaha kedua negara.
Guna mendorong peningkatan ekspor, Kadin memperkenalkan buku ‘We Buy from Indonesia’ yang memuat sekitar 80 merek perusahaan global, seperti Apple, Adidas, Tesla, dan Airbus, yang telah membeli komponen tertentu dari Indonesia. Anin pun menilai, peluang yang ada perlu dimanfaatkan agar perusahaan-perusahaan tersebut meningkatkan pembelian produk dan komponen dari Indonesia.
Kadin juga mengembangkan platform yang mendukung pemerintah dan pelaku usaha dalam memetakan perdagangan ekspor Indonesia. Dengan nilai ekspor yang mencakup sekitar US$ 300 miliar di berbagai industri, pemetaan ini diharap membantu mengidentifikasi produk yang dijual, negara tujuan, serta nilai perdagangannya.
Melalui pendekatan tersebut, Kadin ingin memastikan bahwa peluang perdagangan tidak hanya berhenti pada pembicaraan di tingkat pemerintah atau penandatanganan kesepakatan. Pelaku usaha, khususnya anggota Kadin, diharapkan dapat memanfaatkan peluang secara konkret untuk memperluas pasar dan meningkatkan investasi.
Peran UMKM
Anindya juga menyoroti pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menjaga ketahanan perekonomian nasional. Ia menyebutkan, sekitar 92% produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mencapai US$ 1,5 triliun berasal dari aktivitas di luar pengeluaran pemerintah, termasuk konsumsi domestik, investasi, dan ekspor neto.
Sementara itu, sekitar 97% pelaku usaha yang menjadi bagian dari komunitas Kadin merupakan usaha kecil dan menengah. Oleh karena itu, besarnya peran pelaku usaha kecil dan menengah membuat mereka perlu dilibatkan dalam setiap agenda penguatan perdagangan dan investasi.
Baca Juga
Kadin Indonesia Gelar Forum Bisnis, Bidik Penggandaan Perdagangan dengan Rusia
Pengalaman krisis 1997-1998, kata dia, menunjukkan bahwa UMKM turut menjadi penopang perekonomian ketika perusahaan menghadapi tekanan.
“Jadi adalah tugas kita untuk memastikan mereka menikmati apa yang kita bicarakan,” tegas Anin.
Perluasan akses pasar dan kesempatan investasi diharapkan membuka ruang bagi UMKM untuk masuk dalam rantai pasok dan kemitraan industri kedua negara.
Potensi Empat Bidang
Dalam kerja sama bilateral, Anin merinci bahwa setidaknya empat bidang yang berpotensi dikembangkan, yakni perdagangan dan akses pasar, kemitraan industri, ketahanan pangan dan energi, serta transportasi dan konektivitas.
Pada sektor perdagangan, kedua negara dipercaya memiliki peluang untuk memperluas pertukaran produk, mulai dari minyak sawit, pangan, barang konsumsi hingga pupuk. Sementara itu, di bidang industri, Rusia memiliki keahlian dalam industri berat yang dapat dikolaborasikan dengan upaya Indonesia meningkatkan posisi dalam rantai nilai melalui industrialisasi.
Kerja sama ketahanan pangan dan energi juga dinilai strategis. Mengingat, Indonesia memiliki sumber daya lahan dan perairan yang luas, sedangkan pengembangan teknologi energi terbarukan dapat membuka peluang diversifikasi sumber energi di luar batu bara, minyak, dan gas konvensional.
Di bidang transportasi dan konektivitas, kerja sama kedua negara berpotensi mendukung kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sekitar 17.000 pulau.
“Jadi investasi dua arah itu penting. Kita telah mendengar tentang banyak investasi yang muncul dari kunjungan ke Vladivostok, Rusia,” sambung Anin.
Dalam kesempatan yang sama, dia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komite Kadin Indonesia-Rusia dan Belarus Didit A Ratam, yang dinilai telah bekerja keras mendorong agar hubungan kedua negara menghasilkan manfaat ekonomi nyata.
Anin pun berharap pembahasan dalam forum bisnis Indonesia-Rusia dapat menghasilkan diskusi produktif dan ditindaklanjuti melalui perdagangan serta investasi yang benar-benar terealisasi.
Dia mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Rusia memiliki akar sejarah panjang, yang terjalin sejak 1950-an atau sekitar 76 tahun. Kedekatan ini, antara lain tercermin dalam dukungan Rusia terhadap pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menjadi bagian penting dari sejarah olahraga Indonesia.
Selain itu, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, meresmikan Rumah Sakit Persahabatan pada 1963. Nama rumah sakit yang berarti friendship atau persahabatan ini, menjadi simbol hubungan kedua negara yang telah terbangun sejak awal perjalanan Republik Indonesia.
Bagi Anin, warisan hubungan historis tersebut dapat menjadi landasan untuk memperkuat kemitraan Indonesia-Rusia pada masa kini.
“Tantangannya adalah menerjemahkan kedekatan politik dan sejarah menjadi kerja sama ekonomi yang lebih luas, seimbang, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta dunia usaha kedua negara,” pungkasnya.
