Potensi Zakat Rp 350 Triliun, Baznas Gandeng Kadin Perluas Penghimpunan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 350 triliun. Tapi, realisasi penghimpunannya baru sekitar 1-8% dari potensi tersebut. Untuk mempersempit kesenjangan itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkuat kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengungkapkan, optimalisasi penghimpunan ZIS membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), digitalisasi, kelembagaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha.
“Baznas punya potensi yang luar biasa. Zakat, infak, sedekah sampai ratusan triliun, tapi sampai saat ini baru tercapai 8% sampai 10%,” ujarnya, seusai Rapat Koordinasi Nasional Baznas 2026, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga
Prabowo dan Kabinet Bayar Zakat, Baznas Optimistis Target Rp 60 Triliun Tercapai
Menurut Sodik, kerja sama dengan Kadin diharapkan dapat membantu Baznas menggali potensi zakat yang belum tergarap secara optimal. Dengan dukungan dunia usaha, penghimpunan dana ZIS diharapkan meningkat sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Bagaimana sinergi untuk menggali potensi ZIS yang besar, sebanyak-banyaknya terkumpulkan untuk kesejahteraan umat dan bangsa, untuk mendukung program-program pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, peran Kadin sebagai induk organisasi dunia usaha tak hanya terbatas pada mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial melalui pembayaran zakat.
“Mudah-mudahan dengan pengusaha-pengusaha dan juga karyawan-karyawan dari perusahaan-perusahaan di Kadin bisa terus membayar zakat dan bisa meningkatkan jumlahnya,” ucapnya.
Baca Juga
Kadin dan Baznas Perkuat Kolaborasi, Dorong Mustahik Jadi Muzakki Lewat Dunia Usaha
Selain memperluas penghimpunan zakat, Kadin juga membuka peluang kerja sama dalam peningkatan profesionalisme pengelolaan zakat melalui berbagai pelatihan.
“Supaya semakin tinggi tingkat profesionalismenya, baik manajemen dari zakat ini maupun juga nanti misalnya pekerja migran di luar negeri bisa mempunyai profesionalisme yang nanti membuat penerima zakat menjadi pemberi zakat,” ujar Anindya.
Ia menilai, kerja sama dengan Baznas dan Kadin berpotensi diperluas karena kolaborasi di tingkat daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, telah berjalan sebelumnya.
“Kadin ini juga identik bukan saja pengusaha yang ingin maju, mendorong upaya-upaya presiden mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, kemiskinan hilang menjadi 0%, tapi juga tidak lupa untuk membayar zakat,” kata Anindya.
