APLSI: Elektrifikasi Transportasi dan Ekspor Listrik Jadi Peluang Ekonomi RI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Elektrifikasi transportasi menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) yang mahal sekaligus menekan beban subsidi energi dalam anggaran negara. Prcepatan penggunaan kendaraan listrik perlu berjalan seiring dengan pengembangan pasokan listrik dan pembenahan infrastruktur ketenagalistrikan.
Menurut Anggota Dewan Kehormatan Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Adrian Lembong, transisi energi tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan. Pemerintah juga perlu mendorong pemanfaatan listrik di sektor transportasi, membuka peluang ekspor listrik, memperkuat jaringan transmisi, hingga mengembangkan penyimpanan energi.
"Elektrifikasi transportasi dapat membantu mengurangi konsumsi BBM dan ketergantungan terhadap minyak yang harganya dipengaruhi dinamika pasar global. Selain itu, berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara, terutama ketika pemerintah harus menanggung subsidi energi," kata Adrian dalam media briefing bertajuk "Transitioning Indonesia's Power System: Economic and Fiscal Impacts" di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga
PLN Perkuat Layanan REC & GEAS sebagai Solusi Listrik Hijau Terverifikasi
Namun, kata dia, percepatan elektrifikasi perlu diikuti kesiapan sistem kelistrikan. Pertumbuhan kebutuhan listrik dari kendaraan listrik harus ditopang pasokan yang memadai, infrastruktur penyaluran andal, serta pengembangan sumber energi yang lebih bersih.
Adrian juga menyoroti peluang Indonesia mengekspor listrik ke negara lain, termasuk Singapura dan Malaysia. Menurut dia, ekspor listrik dapat mendatangkan dana dari luar negeri dan membuka peluang bisnis bagi industri energi nasional. Peluang tersebut dapat menjadi salah satu sumber nilai ekonomi bagi pengembangan sektor ketenagalistrikan.
Meski demikian, ekspor listrik harus memperhitungkan kebutuhan di dalam negeri dan kelayakan ekonomi proyek. "Pemerintah perlu menilai apakah pasokan yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri domestik, sekaligus memastikan penjualan ke luar negeri memberikan manfaat yang sepadan dengan biaya investasi," kata dia.
Adrian turut menyinggung Norwegia sebagai contoh negara yang memanfaatkan tenaga air untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik sekaligus mengembangkan perdagangan listrik. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya melihat pengembangan energi dari sisi pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan peluang ekonomi lintas negara.
Di luar peluang ekspor, penguatan jaringan transmisi menjadi salah satu pekerjaan penting dalam mempercepat transisi energi. Infrastruktur transmisi memungkinkan listrik dari pembangkit disalurkan ke pusat konsumsi dan membantu menghubungkan sumber energi terbarukan dengan jaringan kelistrikan.
Adrian mengakui pembangunan transmisi membutuhkan biaya besar dan menghadapi tantangan pembebasan lahan. Kendala tersebut perlu menjadi bagian dari perencanaan karena jaringan transmisi yang tidak memadai dapat membatasi penyaluran listrik dan menghambat pemanfaatan energi terbarukan.
Penyimpanan energi juga menjadi salah satu solusi. Teknologi ini memungkinkan listrik disimpan ketika produksi berlebih dan digunakan kembali saat permintaan meningkat atau produksi pembangkit energi terbarukan menurun. Penyimpanan energi dapat membantu sistem kelistrikan mengelola perbedaan antara waktu produksi dan waktu konsumsi listrik. "Dalam kondisi tertentu, fleksibilitas tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan mengoperasikan pembangkit gas untuk memenuhi lonjakan permintaan," kata Adrian.
Baca Juga
PLN Gandeng 107 Koperasi Merah Putih untuk Layanan Pembayaran Listrik
Teknologi penyimpanan juga dapat meningkatkan pemanfaatan listrik dari pembangkit surya. Listrik yang dihasilkan ketika matahari bersinar dapat disimpan untuk digunakan pada waktu lain, sehingga pemanfaatan energi terbarukan tidak sepenuhnya bergantung pada kesesuaian waktu produksi dan kebutuhan.
Selain aspek teknis, Adrian menekankan pentingnya memperhitungkan nilai ekonomi dari pengurangan emisi. Valuasi karbon dan kredit karbon dapat memengaruhi keekonomian proyek ketenagalistrikan, terutama proyek yang menghasilkan manfaat berupa penurunan emisi gas rumah kaca.
Untuk itu, kerangka penetapan harga karbon dan aturan mengenai kepemilikan manfaat pengurangan emisi perlu dibuat secara transparan. Kepastian tersebut penting bagi investor dan pengembang proyek untuk menghitung potensi pendapatan, biaya, serta risiko investasi.
