Boy Thohir: Uang Bukan Segalanya
Garibaldi “Boy” Thohir dibesarkan dengan pesan yang terus diulang ayahnya: uang bukan segala-galanya. Yang membuat seseorang mampu membangun usaha, bertahan saat krisis, dan mewariskan keberhasilan adalah nama baik, kepercayaan, planning yang baik, disiplin, dan kemampuan menjaga hubungan dengan sesama.
JAKARTA, Investortrust.id — Sepulang dari Amerika Serikat, pengusaha nasional Garibaldi “Boy” Thohir membawa sebuah rencana yang terasa masuk akal bagi seorang lulusan bisnis: bekerja di perusahaan besar, menimba pengalaman, dan membangun karier profesional. Salah satu pilihannya adalah Citibank. Namun, ketika rencana itu disampaikan kepada ayahnya, Muhammad Thohir, percakapan justru bergerak ke arah yang tidak diduganya.
Dalam perbincangan dengan Leon Hartono dari The Overpost, Jumat (09/10/2026), Boy mengulangi dialog dengan ayahnya. “Berapa gajinya?” tanya sang ayah. Boy menyebut angka sekitar Rp4 juta sebulan. Bukannya mendapat persetujuan, ia malah ditanya berapa biaya yang telah dikeluarkan keluarga untuk menyekolahkannya. Sang ayah, dalam ingatan Boy, menyebut pengeluaran sekitar Rp600 juta hingga Rp700 juta. Ibunya menyimpan catatannya.
Dengan penghasilan sebesar itu, sang ayah bertanya, kapan “investasi” pendidikan tersebut akan kembali? Boy sempat terkejut. Mengapa orang tua berhitung seperti pengusaha kepada anaknya sendiri? Namun, di balik percakapan itu, ayahnya sedang menyampaikan keinginan: Boy harus berani menjadi pengusaha.
Ketika Boy menduga dirinya diminta bekerja di Astra, sang ayah kembali menantang. Bukankah ia mengambil program kewirausahaan? Mengapa setelah belajar membangun bisnis justru ingin menjadi pegawai?
“Saya sudah sekolahin kamu. Kamu tinggal ngomong sama saya mau usaha apa,” ujar Boy, menirukan pesan ayahnya. Ia menggambarkan pengalaman tersebut seperti seseorang yang ingin belajar berenang, lalu langsung diceburkan ke kolam. Ada kegamangan, tetapi ia harus mulai bergerak.
Bertahun-tahun kemudian, Boy melihat percakapan itu sebagai bagian dari pendidikan keluarga yang membentuk dirinya. Orang tuanya memberikan kesempatan, tetapi juga menuntut keberanian dan tanggung jawab untuk menggunakannya.
Berkali-kali Boy mengingat pesan almarhum ayahnya, Muhammad Thohir, bahwa uang bukan segala-galanya. Pesan itu tumbuh dari pengalaman hidup sang ayah, yang menurut Boy memulai perjalanan dari keluarga sangat sederhana dan harus berjuang sejak usia anak-anak. “Kepercayaan dan nama baik itu yang nomor satu,” ujar Boy, mengenang nasihat ayahnya.
Dalam perbincangan dengan Leon, pengusaha nasional itu menguraikan perjalanan keluarganya, cara mendidik anak, pengalaman membangun bisnis, menghadapi krisis, memilih mitra, hingga pandangannya mengenai investasi. Benang merahnya adalah keyakinan bahwa uang memerlukan fondasi yang lebih kuat agar dapat menghasilkan keberhasilan yang berkelanjutan. “Kepercayaan dan nama baik itu yang nomor satu,” katanya.
Berangkat dari Minus
Boy menyebut dirinya sebagai generasi kedua dalam perjalanan usaha keluarga. Ketiga anaknya, bersama anak-anak saudaranya, merupakan generasi berikutnya yang menerima bekal nilai dari orang tua dan kakek mereka.
Menurut Boy, keluarga Thohir tidak dibangun dengan struktur korporasi keluarga yang sangat formal seperti sejumlah kelompok usaha lain. Namun, mereka memiliki pegangan bersama yang berasal dari pengalaman hidup ayahnya. “Orang bilang mulai dari nol. Kalau ayah saya, dari minus,” tuturnya.
Dalam cerita Boy, sang ayah tumbuh di Gunung Sugi, Lampung, jauh dari pusat kegiatan kota. Ibunya seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya memiliki truk yang digunakan untuk mengangkut barang. Ketika berusia sekitar 10 tahun, Muhammad Thohir kehilangan ayah. Sekitar setahun kemudian, ia meninggalkan rumah menuju Metro tanpa terlebih dahulu berpamitan kepada ibunya.
Keinginan melanjutkan sekolah menjadi pendorongnya. Menurut cerita yang diwariskan dalam keluarga, anak-anak di kampungnya ketika itu umumnya berhenti belajar setelah menyelesaikan sekolah dasar.
Di Metro, anak berusia sekitar 10 tahun itu harus mencari jalan untuk bertahan hidup. Ia bertemu seorang perempuan pedagang pakaian dan menawarkan bantuan untuk menjual barang dagangannya. Dagangannya laku, dan ia kemudian tinggal bersama perempuan tersebut. Perempuan itulah yang kelak dikenal Boy sebagai nenek angkatnya.
Sang ayah kemudian melanjutkan pendidikan, merantau lagi, dan membangun karier dari bawah. Pengalaman tersebut membuat pendidikan menjadi cita-cita penting bagi anak-anaknya. Ia ingin generasi berikutnya memperoleh kesempatan yang dahulu harus diperjuangkannya dengan meninggalkan kampung.
Namun, pendidikan juga harus melahirkan karakter. Boy mengenang bagaimana ayahnya hampir setiap hari mengingatkan bahwa uang bukan tujuan akhir kehidupan. “Saya bisa begini, dulu tidak punya uang, tidak punya apa-apa,” ujar Boy, menirukan penuturan sang ayah.
Pesannya tidak muluk-muluk: orang yang dipercaya memiliki kesempatan untuk maju. Karena itu, kerja keras, nama baik, dan kejujuran dalam menjaga amanah harus didahulukan.
Ayah Memberi Dorongan, Ibu Menjaga Disiplin
Pembentukan karakter Boy juga sangat dipengaruhi ibunya. Ia bahkan menilai peran sang ibu setidaknya sama besar, mungkin lebih besar, dalam menanamkan disiplin keluarga.
Berbeda dengan ayahnya, sang ibu berasal dari keluarga yang cukup berada. Menurut penuturan Boy, hubungan orang tuanya menghadapi hambatan karena perbedaan latar belakang. Keduanya kemudian membangun kehidupan bersama di Lampung dan menjalani masa-masa sulit.
Pengalaman mengikuti suami dari keadaan sederhana membuat ibunya sangat berhati-hati menggunakan uang. Ketika kehidupan keluarga membaik, kebiasaan hemat itu tidak hilang.
Boy mengenang pembagian peran yang khas. Ayahnya bisa menyetujui keinginan anak selama sekolah tetap menjadi prioritas. Namun, ketika tiba waktunya meminta uang kepada ibu, persetujuan itu belum tentu mudah diwujudkan. Ibunya memeriksa kebutuhan dan menjaga disiplin pengeluaran.
Boy tidak menutupi bahwa ia pernah menikmati fasilitas keluarga. Ketika SMA, ia mengendarai Corolla DX, mobil yang menurutnya bergengsi pada masa itu. Ia juga mengganti pelek dan menikmati kegemaran anak muda.
Meski demikian, pesan orang tua tidak berubah: fasilitas tidak boleh membuatnya sombong. “Kamu ingat, tidak boleh sombong,” katanya, mengingat nasihat ayahnya.
Kesederhanaan dalam keluarga itu tidak berarti anak-anak sama sekali tidak boleh menikmati hasil kerja orang tua. Yang dijaga adalah sikap: tetap menghormati orang lain, mau bergaul, dan memahami bahwa fasilitas bukan ukuran keunggulan seseorang. Nilai tersebut, menurut Boy, diteruskan kepada ketiga anaknya.
Sekolah untuk Ilmu dan Pergaulan
Boy melihat pilihan sekolah yang disiapkan ayahnya sebagai bagian dari visi pendidikan yang luas. Ia dan saudara-saudaranya memperoleh pendidikan dasar di SD dan SMP Fransiskus Asisi, sekolah Katolik, yang dikenangnya sangat menekankan disiplin.
Ia masih mengingat pengalaman berhadapan dengan suster dan pastor, termasuk ketika dirinya melakukan kenakalan kecil sebagai murid. Pengalaman itu meninggalkan kesan tentang aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi atas tindakan.
Setelah itu, ia melanjutkan ke SMA Negeri 3 Jakarta. Di sekolah negeri, ruang pergaulannya menjadi lebih beragam. “Saya bergaul dari anak menteri sampai anak tukang bakso,” tuturnya.
Menurut Boy, ayahnya ingin anak-anak mampu berhubungan dengan berbagai kalangan. Kemampuan tersebut kemudian terbukti berguna dalam bisnis: memahami orang, membaca situasi, serta membangun komunikasi tanpa terhalang status sosial.
Pendidikan di luar negeri memperluas jejaring itu. Dalam wawancara, Boy menyebut pendidikan sarjananya di University of Southern California dan pendidikan MBA di Northrop.
Di USC, ia memilih program kewirausahaan. Dengan nada bercanda, ia mengaku semula mengira program tersebut lebih banyak berisi pengembangan konsep dan produk sehingga dapat menghindari pelajaran yang kurang disukainya, seperti matematika dan akuntansi. Ternyata, membangun bisnis tetap menuntut kemampuan menyusun arus kas dan memahami angka.
Salah satu pelajaran yang diingatnya adalah kebutuhan merencanakan masa depan kepemilikan usaha. Setelah perusahaan dibangun dan dibesarkan, pemilik perlu memikirkan pilihan seperti penjualan kepada investor atau membawa perusahaan ke pasar modal. Pelajaran itu baru terasa sangat relevan ketika ia mengembangkan bisnis sendiri.
Gelar Saja Tidak Cukup
Usaha awal yang dipilih Boy adalah pembebasan dan jual beli tanah di Jakarta. Ia melihat peluang dari kawasan yang dikenalnya, termasuk sekitar tempat tinggalnya di Gudang Peluru, Tebet, dan jalur yang kemudian berkembang di sekitar kawasan Casablanca.
Dalam ingatannya, sang ibu menyediakan modal awal Rp200 juta. Uang itu ditempatkan dalam rekening tabungan atas namanya.
Boy mulai membeli tanah dan menawarkannya kepada pihak yang membutuhkan lahan untuk pengembangan. Ia menyebut pernah membeli dengan harga sekitar Rp350.000 per meter persegi dan menjualnya sekitar Rp700.000.
Pada awalnya, hasil usaha itu terasa menggembirakan. Ia mengenang saldo tabungannya meningkat hingga sekitar Rp500 juta setelah kurang lebih dua tahun bekerja.
Saat itu, ia mulai memahami dorongan ayahnya. Pendapatan dari usaha ternyata dapat melampaui bayangannya ketika mempertimbangkan pekerjaan bergaji tetap.
Namun, ceritanya tidak berhenti pada keuntungan. Pembebasan tanah harus dilakukan petak demi petak, dengan luas dan pemilik berbeda-beda. Setelah ia mempunyai komitmen harga kepada pembeli, sebagian pemilik lahan yang tersisa justru meminta harga jauh lebih tinggi.
Di situlah ia belajar bahwa margin yang terlihat besar di awal belum tentu menjadi keuntungan akhir. Pekerjaan itu juga memaksanya menanggalkan gengsi. Boy mengakui sempat merasa tidak nyaman: sudah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, tetapi harus turun langsung mengurus tanah dan bernegosiasi di lapangan.
“Ijazah saya tidak laku,” katanya, menggambarkan bahwa gelar tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Pemilik tanah tidak akan menerima penawaran hanya karena ia lulusan Amerika. Ia harus mendengarkan, membangun kepercayaan, serta memahami kepentingan orang yang ditemuinya.
Belakangan, Boy justru bersyukur mendapat pendidikan praktis tersebut. Urusan tanah menjadi bagian penting dalam banyak sektor, mulai dari pertambangan, perkebunan, properti, hingga pengembangan gerai usaha. Pengalaman itu pula yang menjadi dasar pesannya kepada anak-anak: keberhasilan perlu diusahakan sendiri.
Dari Menjual Motor ke Membiayai Motor
Di lingkungan keluarga, Boy juga mengenal bisnis distribusi sepeda motor melalui Wahana. Namun, pada awalnya ia mengaku kurang tertarik terlibat langsung dan memilih menekuni usaha tanah.
Seorang sahabatnya, almarhum Robianto, kemudian membantu mengembangkan bisnis tersebut. Hubungan pertemanan menjadi bagian penting dari proses belajar dan pengembangan usaha mereka.
Kesempatan melihat bisnis pembiayaan muncul ketika Boy menghadiri paparan publik sebuah perusahaan multifinance. Undangan itu, menurut ceritanya, datang melalui jejaring teman semasa belajar di Amerika.
Ia memperhatikan perbandingan antara penjualan sepeda motor dan pembiayaannya. Dari sana timbul pertanyaan: jika perusahaan lain dapat membangun bisnis dengan membiayai pembelian motor, mengapa mereka tidak mempelajarinya?
Pengalaman tinggal di Amerika ikut memengaruhi cara berpikirnya. Ia melihat pembelian kendaraan banyak dilakukan melalui kredit. Ia memperkirakan pola tersebut akan semakin berkembang di Indonesia.
Namun, menjual kendaraan berbeda dengan mengelola uang dan risiko pembiayaan. Karena itu, Boy dan rekannya mencari mitra yang memahami lembaga keuangan.
Dalam penuturannya, kemitraan dengan kelompok Ometraco menjadi bagian dari pengembangan WOM Finance. Ia belajar dari orang-orang yang lebih berpengalaman mengenai pendanaan, pengelolaan perusahaan pembiayaan, dan cara membangun organisasi.
Keputusan mencari mitra mencerminkan prinsip yang terus dipegangnya: seseorang tidak perlu mengerjakan semua hal sendiri. “Dunia sekarang makin kompleks, makin sulit,” ujarnya. Karena itu, ia membutuhkan mitra yang dapat saling melengkapi.
Krisis Datang Ketika Usaha Baru Tumbuh
Boy mengenang modal awal usaha pembiayaan tersebut sekitar Rp10 miliar, masing-masing Rp5 miliar dari kedua pihak, kemudian ditambah fasilitas pendanaan bank sekitar Rp40 miliar.
Namun, ketika usaha mulai berjalan, krisis ekonomi datang. Pembayaran pelanggan terganggu, akses pendanaan menyempit, dan perusahaan menghadapi tekanan berat.
Boy menggambarkan keadaan itu sebagai masa ketika usaha nyaris bangkrut. Ia dan rekannya juga merasa memiliki tanggung jawab besar karena modal serta kepercayaan telah diberikan oleh keluarga.
Mereka kemudian memusatkan perhatian pada kelangsungan usaha. Penjualan motor tetap dijalankan dengan penyesuaian, sedangkan penyelesaian pembiayaan bermasalah dilakukan melalui pendekatan langsung kepada pelanggan.
Menurut Boy, kenaikan harga kendaraan pada masa krisis memberi ruang untuk mencari penyelesaian karena nilai motor bekas ikut meningkat. Namun, pekerjaan menagih dan memulihkan arus kas tetap harus dilakukan satu per satu.
Di tengah tekanan, ia berusaha menghindari pemutusan hubungan kerja. Sebagian tenaga pemasaran dialihkan untuk membantu penagihan. “Kita saja susah, bagaimana mereka?” katanya.
Perusahaan melakukan efisiensi dan pengurangan gaji, sambil mengajak karyawan menghadapi keadaan bersama. Boy menyampaikan bahwa ketika kondisi membaik, kontribusi mereka akan diperhatikan.
Baginya, mempertahankan usaha berarti menjaga kemampuan organisasi untuk bertahan sekaligus memahami kehidupan orang-orang di dalamnya.
Filosofi Rumput
Dalam menghadapi kesulitan, Boy mengingat nasihat Anthony Salim tentang rumput. Rumput dapat menguning saat kemarau, terinjak, atau tertutup ketika sebuah tempat digunakan untuk acara. Namun, selama akar tetap hidup, rumput dapat kembali menghijau ketika hujan datang.
Boy menangkap pesan itu sebagai ajakan untuk menjaga daya tahan. Selama perusahaan masih mempunyai kemampuan untuk hidup, selalu ada kesempatan memperbaiki keadaan. “Asal jangan mati,” ujarnya.
Daya tahan tersebut bukan sikap pasif menunggu pertolongan. Ia harus melakukan efisiensi, menyelesaikan persoalan pelanggan, mencari pendanaan, dan menata kepemilikan.
Ketika mitra usahanya ikut menghadapi persoalan dalam krisis, Boy menuturkan dirinya harus berurusan dengan kurator untuk menyelesaikan kepemilikan saham. Proses itu menambah kompleksitas perjuangan mempertahankan perusahaan.
Namun, usaha yang tetap bertahan mempunyai kesempatan ketika pasar mulai pulih. Pengalaman tersebut mengajarkannya agar anak muda tidak terlalu cepat menyerah atau sibuk membayangkan kekayaan besar sebelum membangun bisnis yang sehat. “Kerja saja, mulai saja, usaha saja,” pesannya.
Pasar Modal dan Mitra Perbankan
Pengalaman hampir kehilangan usaha membuat Boy semakin memahami pentingnya sumber pendanaan yang berkelanjutan. Bisnis pembiayaan membutuhkan dana yang terus diputar. Kemampuan pemasaran harus ditopang akses pembiayaan yang memadai, pengelolaan risiko, dan tata kelola.
Ia kemudian membawa WOM Finance ke pasar modal dan membangun kemitraan dengan bank. Dalam ceritanya, pelajaran tentang perusahaan terbuka yang pernah diterima saat kuliah akhirnya menemukan penerapan nyata.
Boy menilai status perusahaan terbuka dapat mendorong transparansi dan mendukung keberlanjutan usaha. Namun, ia tidak melepaskan seluruh kepemilikannya.
Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa kelompoknya tetap menjadi pemegang saham dan kemudian menambah kepemilikan hingga sekitar 25%. Menurut Boy, langkah itu berkaitan dengan hubungan bisnis yang masih berjalan serta pertimbangan pencatatan investasi dalam kelompok usaha.
Ia mengenang bagaimana usaha yang dimulai dengan modal Rp10 miliar dan sempat menghadapi ancaman kebangkrutan kemudian mencapai valuasi sekitar US$150 juta ketika dibawa ke pasar modal. Angka itu disampaikannya sebagai ingatan mengenai perjalanan perusahaan.
Baginya, perubahan tersebut memperlihatkan arti ketekunan. Hasil besar tidak selalu terlihat ketika usaha baru dimulai, terlebih ketika perusahaan sedang berada di tengah krisis.
Belajar Batubara dan Memilih Menjadi Pemain
Selain bisnis tanah dan pembiayaan, Boy juga mulai mengenal pertambangan batubara sejak awal 1990-an. Menurut penuturannya, ia diajak berinvestasi dalam sebuah tambang di Sawahlunto, Sumatera Barat, melalui hubungan keluarga dan pertemanan.
Ia menyebut mengambil porsi sekitar 20% dalam usaha tersebut. Keterlibatan itu menjadi kesempatan awal untuk mempelajari pertambangan, sementara kegiatan bisnis lainnya tetap berjalan.
Boy juga mengembangkan usaha lain, termasuk jasa pengeboran. Sang ayah memberinya kebebasan untuk berusaha, dengan batasan agar bisnis pribadi tidak bertentangan atau bersaing langsung dengan usaha inti keluarga.
Pada bagian akhir transkrip, Boy mengenang sebuah tantangan dalam pembicaraan mengenai Adaro: apakah ia ingin menjadi penonton atau pemain dalam industri batubara? “Pemain dong,” jawabnya dalam cerita itu.
Namun, keinginan menjadi pemain segera diikuti pertanyaan praktis: dari mana uang untuk membeli perusahaan yang nilainya sangat besar?
Percakapan tersebut memperlihatkan pola yang berulang dalam perjalanan Boy. Peluang perlu dikenali lebih dahulu, kemudian ditelusuri melalui pembelajaran, jejaring, kemitraan, dan pembiayaan. Visi harus disertai pekerjaan nyata untuk membuatnya dapat diwujudkan. Cuplikan yang tersedia belum menguraikan lebih jauh proses transaksi Adaro tersebut.
Tongkat Estafet dari Ayah
Boy menuturkan ayahnya memutuskan pensiun pada usia sekitar 65 tahun. Sang ayah merasa telah tiba waktunya memberi ruang kepada generasi berikutnya. Ketika itu, Boy berusia sekitar 35 tahun dan menerima tanggung jawab lebih besar dalam usaha keluarga.
Keputusan pensiun tersebut disertai pesan tegas. Sang ayah merasa telah menunaikan kewajiban: memberikan pendidikan, mendampingi anak membangun keluarga, menyediakan bekal usaha, serta menanamkan nilai dan akhlak.
Selanjutnya, anak-anak harus membuktikan kemampuan mereka. Boy memahami adanya dilema bagi anak pengusaha. Ketika berhasil, orang dapat menganggapnya wajar karena menerima banyak kemudahan. Ketika gagal, fasilitas yang pernah diterima justru menjadi alasan untuk mempertanyakannya.
Ia memilih tidak terlalu memikirkan penilaian tersebut. Kesempatan yang tersedia perlu dijawab melalui hasil kerja. Dengan pendidikan, pengalaman, dan jejaring yang diberikan orang tua, menurut Boy, generasi berikutnya seharusnya berusaha mencapai kemajuan lebih jauh.
Pesan yang sama disampaikannya kepada anak-anaknya. Mereka memperoleh bekal, tetapi tetap perlu membangun kemampuan dan pencapaian sendiri.
Tidak Ada Jaminan Tujuh Turunan
Salah satu pelajaran paling kuat dalam ingatan Boy adalah perubahan pandangan ayahnya mengenai kekayaan lintas generasi. Ketika masih remaja, ia pernah mengagumi keberhasilan William Soeryadjaya membangun Astra. Dalam sebuah perjalanan perusahaan, Boy bertanya kepada ayahnya tentang besarnya kekayaan tokoh yang mereka hormati tersebut.
Saat itu, dalam ingatan Boy, muncul ungkapan bahwa kekayaan sebesar itu tidak akan habis hingga tujuh turunan. Namun, perubahan kepemilikan dan perjalanan bisnis keluarga Soeryadjaya kemudian menjadi bahan percakapan lain antara ayah dan anak. Boy mengenang ayahnya mengoreksi keyakinan bahwa kekayaan sebesar apa pun pasti menjamin masa depan.
“Ternyata saya salah,” ujar Boy, menirukan sang ayah. Pelajaran yang ditarik Boy adalah pentingnya suksesi dan pendidikan generasi berikutnya. Kisah itu ia sampaikan sebagai ingatan pribadi mengenai perubahan kendali usaha dan nasihat keluarga, bukan ukuran bahwa perusahaan Astra berhenti beroperasi atau seluruh kekayaan keluarga tersebut hilang.
“Harta sebanyak-banyaknya, kalau tidak punya succession plan yang bagus, anak-anak tidak dididik dengan value yang benar, seberapa pun bisa habis,” tuturnya. Menurut Boy, kesalahan memilih usaha dan mitra, pergaulan yang merusak, perjudian, serta penyalahgunaan narkoba dapat menghancurkan kekayaan dan kehidupan. Karena itu, pendidikan karakter harus berjalan bersama pendidikan bisnis.
Hitungan Sederhana untuk Ketiga Anak
Kepada ketiga anaknya, Boy menjelaskan tanggung jawab lintas generasi dengan ilustrasi angka. Jika seorang kakek meninggalkan kekayaan senilai 100 kepada tiga anak, masing-masing memperoleh sekitar 33. Apabila bagian tersebut tidak dikembangkan dan kembali dibagi kepada tiga anak, setiap orang pada generasi berikutnya hanya memperoleh sekitar 11.
Angka itu merupakan ilustrasi, bukan pengungkapan nilai warisan keluarga. Melalui contoh tersebut, Boy ingin anak-anak memahami bahwa mempertahankan gaya hidup dan kemampuan ekonomi keluarga memerlukan usaha. Kekayaan yang terus dibagi harus disertai kemampuan menciptakan nilai.
“Wealth preservation itu penting, tetapi tidak cukup,” katanya. Ia menegaskan bahwa anak perempuan dan laki-laki diperlakukan setara dalam prinsip tersebut. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta perlu diberi kesempatan untuk berkembang.
Semangat bekerja juga tidak semata-mata diarahkan untuk menambah kekayaan keluarga. Ada karyawan, kerabat, dan masyarakat sekitar yang kesejahteraannya ikut terkait dengan keberlangsungan usaha. “Kita mungkin cukup. Pegawai kita, saudara kita, apakah mereka cukup?” ujarnya.
Boy melihat manusia mempunyai kepentingan pribadi sekaligus tanggung jawab sosial. Keduanya perlu dijalankan secara seimbang.
Memilih Pasangan Berdasarkan Nilai
Ketika Leon bertanya mengenai pasangan hidup dan calon menantu, Boy menempatkan kesamaan nilai di atas kekayaan. Ia mencontohkan orang tuanya yang berasal dari keadaan ekonomi berbeda. Pengalamannya sendiri juga membentuk pandangan serupa. Istrinya, Linda, menurut Boy berasal dari keluarga biasa dengan ayah seorang anggota Angkatan Laut.
“Kita punya value yang sama,” katanya. Baginya, menikah dengan anak orang kaya tidak otomatis menjamin keberhasilan. Tanggung jawab, kemauan bekerja, dan karakter pasangan jauh lebih menentukan kualitas kehidupan bersama.
Dalam nasihatnya, Boy juga menggunakan pembagian peran yang tradisional. Ia menekankan kepada laki-laki agar berhati-hati memilih bisnis, mitra, dan pergaulan, serta kepada perempuan agar sungguh-sungguh mempertimbangkan karakter calon suami. Ia sekaligus menegaskan bahwa kekayaan bukan ukuran utama dalam memilih pasangan.
Boy percaya seseorang tetap dapat membangun pencapaiannya melalui kerja keras dan kepercayaan. Ia mengakui bekal yang diterima dari ayahnya, tetapi juga melihat tanggung jawab untuk menciptakan pertumbuhan dengan kemampuannya sendiri.
Investasi pada Hal yang Dipahami
Di luar perusahaan dalam kelompok usahanya, Boy mengaku juga berinvestasi pada saham perusahaan terbuka. Namun, ia tidak aktif melakukan perdagangan jangka pendek karena keterbatasan waktu.
Ia lebih tertarik pada perusahaan yang prospek dan fundamentalnya dinilai baik. Dalam sejumlah investasi, ia berusaha membangun kepemilikan yang cukup berarti agar dapat ikut menyampaikan pandangan dan memberikan kontribusi.
Boy mengaku lebih nyaman dengan sektor riil. Sebagian sangat besar investasinya, menurut penuturannya, berada di Indonesia karena ia masih melihat banyak peluang.
Ketika pembicaraan beralih ke kripto dan bitcoin, jawabannya terus terang: ia belum benar-benar memahami bidang tersebut.
Ia lalu bercerita sambil bercanda tentang pengalaman mengikuti ajakan membeli NFT melalui Peter Tanuri. Setelah percakapan dengan Leon, katanya, ia ingin menelepon Peter untuk menanyakan kembali nasib investasinya. “Pit, NFT gue bagaimana?” ujarnya.
Cerita itu memperlihatkan keterbukaannya terhadap hal baru sekaligus pengakuan atas batas pengetahuan sendiri. Pilihan utamanya tetap perusahaan dan kegiatan usaha yang lebih dapat ia pahami.
Boy juga tidak menutupi kelemahannya dalam belajar. Ia mengaku kurang menyukai membaca dan pelajaran formal tertentu. Namun, ia merasa lebih cepat memahami sesuatu melalui pengamatan, mendengarkan orang berbicara, serta menghubungkan berbagai informasi.
Teknologi, termasuk video dan YouTube, membantunya memperoleh pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan kebiasaannya. Meski demikian, ia menyadari bahwa kebiasaan membaca yang lebih baik akan memperluas wawasan.
Perusahaan Besar Membutuhkan Negara yang Maju
Di penghujung cuplikan wawancara, Boy mengaitkan keberhasilan pengusaha dengan kemajuan negara. Ia menggunakan perkembangan perusahaan-perusahaan China sebagai ilustrasi bagaimana pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat memperbesar ruang bagi dunia usaha.
Dari pengamatannya, semakin maju sebuah negara, semakin terbuka kesempatan bagi perusahaan untuk tumbuh besar. “It means that negaranya harus maju dulu,” katanya.
Pandangan itu menempatkan keberhasilan bisnis dalam konteks yang lebih luas. Pengusaha membutuhkan pasar yang berkembang, masyarakat yang semakin sejahtera, serta lingkungan usaha yang memungkinkan investasi dan kemitraan berjalan.
Leon kemudian mengajukan pertanyaan mengenai sektor masa depan, termasuk pusat data. Namun, jawaban lengkap Boy mengenai topik tersebut belum terdapat dalam cuplikan transkrip yang tersedia.
Dari kisah ayah yang merantau pada usia anak-anak hingga pengalamannya menghadapi krisis, Boy terus kembali pada nilai yang sama: menjaga nama baik, bekerja dengan disiplin, memilih mitra dengan cermat, serta memperlakukan orang lain secara manusiawi.
Warisan itulah yang ingin diteruskan kepada ketiga anaknya. Modal dapat membuka pintu, tetapi karakter dan kemampuanlah yang menentukan bagaimana kesempatan digunakan. “Uang itu hasil, bukan tujuan,” ujarnya. (PD)
