Danantara Fund Dorong Transisi Energi dan Hilirisasi Bebaskan RI dari ‘Middle Income Trap’
JAKARTA, investortrust.id – Danantara Development Management Fund (DDMF) menegaskan pentingnya transisi energi dan hilirisasi sebagai strategi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Managing Director Development Investment Danantara Development Management Fund, M. Rachmat Kaimuddin, menilai bahwa transisi energi bagi Indonesia, tidak hanya terkait pengurangan emisi. Melainkan juga jadi peluang untuk memperkuat ketahanan energi, mendorong industrialisasi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
Baca Juga
Danantara Fund Bidik Investasi Pembuka Lapangan Kerja dan Dorong Industrialisasi
“Transisi energi bagi Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Rachmat dalam Executive Interview: How Does the Energy Transition Help Indonesia Escape the Middle Income Trap? pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026, dikutip Sabtu (10/10/2026).
Menurut Rachmat, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri berbasis energi bersih. Namun, kekayaan sumber daya tersebut perlu diikuti peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan pengembangan rantai pasok agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Peluang tersebut tercermin dari perkembangan investasi hilirisasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat, realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp 584,1 triliun, meningkat 43,3% (yoy) dan menyumbang 30,2% terhadap total realisasi investasi nasional sebesar Rp 1.931,2 triliun.
Transisi energi juga membuka peluang pengembangan industri kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, dan manufaktur pendukung. BloombergNEF melalui Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan, transformasi Indonesia menuju ekonomi dengan emisi nol bersih membuka peluang ekonomi senilai US$ 3,8 triliun hingga 2050.
“Potensi tersebut menunjukkan besarnya peluang investasi, sekaligus kebutuhan untuk memperkuat kapasitas industri domestik,” imbuh Rachmat.
Dari sisi ketahanan energi, elektrifikasi transportasi dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang masih diimpor. Langkah ini membutuhkan dukungan peningkatan kapasitas pembangkit dan jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun industri.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sekitar 76% dari jumlah tersebut atau 52,9 GW berasal dari energi baru dan terbarukan, serta sistem penyimpanan energi.
Pelaksanaan target tersebut diperkirakan membuka peluang investasi hingga Rp 2.133,7 triliun.
Baca Juga
DPR-Danantara Tetapkan 'Deadline' LRT City, Rampung Akhir 2027 dan September 2028
Besarnya kebutuhan investasi dimaksud, menegaskan pentingnya kesiapan proyek dan skema pembiayaan jangka panjang. Pasalnya, proyek energi, infrastruktur, dan hilirisasi membutuhkan perencanaan serta struktur investasi yang mampu memberikan kepastian bagi investor, sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial.
Dalam konteks tersebut, DDMF menjalankan mandat untuk mendukung pembangunan nasional melalui investasi pada proyek strategis, dengan fokus pada ketahanan dan kedaulatan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi dan industrialisasi.
Anak usaha BPI Danantara tersebut juga berperan dalam mempersiapkan proyek agar layak investasi dan mampu menarik partisipasi modal swasta.
“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi. Kami berperan mengembangkan dan menyiapkan proyek strategis, sekaligus berpartisipasi melalui penempatan modal,” jelas Rahmat.
Melalui pendekatan itu, DDMF berupaya mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan sumber pembiayaan jangka panjang. Integrasi transisi energi, hilirisasi, dan investasi pun diharap dapat memperkuat struktur perekonomian nasional, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat langkah Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi pada 2045.
