Danantara Fund Bidik Investasi Pembuka Lapangan Kerja dan Dorong Industrialisasi
JAKARTA, Investortrust.id – Danantara Development Management Fund (DDMF) membidik investasi yang tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan bangsa.
CEO Danantara Development Management Fund, Sigit Puji Santosa, mengatakan bahwa investasi jangka panjang harus meningkatkan kapasitas produksi, membuka lapangan kerja, mengembangkan talenta, dan membangun industri bernilai tambah tinggi.
Baca Juga
DPR-Danantara Tetapkan 'Deadline' LRT City, Rampung Akhir 2027 dan September 2028
Pasalnya menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta basis manufaktur yang mampu menjadi pijakan bagi transformasi ekonomi.
Merujuk data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Trade in Value Added (TiVA) 2025, 82% nilai ekspor manufaktur Indonesia tercipta di dalam negeri. Angka ini setara dengan China sebesar 81% dan lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Korea Selatan, dan Vietnam.
“Namun, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih sekitar 0,3%. Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan skala, kompleksitas, dan daya saing industri nasional,” tegas Sigit, dikutip pada Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan situasi ekonomi dan iklim industri Indonesia saat ini, tahap industrialisasi pun dianggap perlu berfokus pada penguatan pemasok domestik, kapabilitas teknologi, inovasi, dan keterhubungan dengan pasar global.
Industri, seperti semikonduktor, kecerdasan artifisial, serta manufaktur berbasis teknologi dipercaya dapat menjadi sumber pertumbuhan baru, sekaligus memperluas kesempatan kerja berkualitas.
“Indonesia memiliki fondasi kuat, tetapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengembangkan industri dengan kompleksitas dan nilai tambah yang lebih tinggi agar mampu bersaing secara global,” ujar Sigit.
Transformasi tersebut membutuhkan pembiayaan jangka panjang tetapi DDMF justru melihat banyak proyek strategis yang belum sepenuhnya bankable.
“Karena menghadapi kesenjangan struktur komersial, risiko permintaan, pengadaan lahan, ketidakpastian kebijakan, koordinasi lintas lembaga, hingga ketidaksesuaian tenor pembiayaan,” sambungnya.
Jembatani Kesenjangan Investasi
Sigit menjelaskan bahwa DDMF dibentuk untuk menjembatani kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek yang layak secara ekonomi, tetapi memerlukan waktu lebih panjang untuk mencapai kelayakan finansial.
Baca Juga
Sebagai holding investasi yang fokus pada pembangunan nasional dan pelayanan publik, DDMF menjalankan peran katalitik melalui penyiapan proyek, penyusunan struktur investasi yang bankable, mobilisasi modal jangka panjang, serta pengawalan pelaksanaan proyek hingga menghasilkan dampak.
Dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, Sigit pun menekankan pentingnya dukungan publik terhadap mandat DDMF mendorong pembangunan nasional.
“Kami hadir untuk memediasi kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek-proyek yang secara ekonomi viable, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai hasilnya. Karena itu, kami menjalankan peran catalytic investment agar dampak strategis dan ekonomi proyek dapat dikapitalisasi,” papar Sigit.
Dalam menilai investasi, DDMF mempertimbangkan tiga dimensi secara bersamaan, yakni nilai dan dampak strategis, kelayakan ekonomi, serta kelayakan finansial.
Melalui pendekatan tersebut, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari imbal hasil. Melainkan juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok domestik, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan kapabilitas industri dan teknologi nasional.
Selanjutnya, peran katalitik DDMF dirancang untuk menarik keterlibatan investor swasta dan internasional melalui modal jangkar, kepastian pembelian, serta mekanisme berbagi risiko. Struktur pembiayaan yang tepat memungkinkan modal DDMF memobilisasi nilai investasi yang lebih besar, sekaligus menjaga disiplin tata kelola dan profil risiko proyek.
“Kami mengundang bank, investor, dan pelaku industri untuk bersama-sama melakukan leveraging. Melalui kolaborasi yang tepat, investasi dapat menciptakan peluang pembiayaan sekaligus dampak ekonomi yang lebih besar,” tandas Sigit.
Dia menyebut, prioritas DDMF mencakup sektor-sektor yang menjadi jangkar kebutuhan nasional, antara lain ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, dan kesehatan. Ada pula hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan ketahanan bencana, ekonomi rakyat dan desa, serta pengentasan kemiskinan.
“Melalui investasi pembangunan yang terukur dan kolaboratif, proyek strategis diharapkan tidak berhenti pada pembangunan aset. Proyek tersebut perlu menumbuhkan ekosistem industri, memperluas peluang usaha, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menghadirkan manfaat sosial-ekonomi jangka panjang,” tutupnya.
Dengan demikian, investasi dapat menjadi instrumen untuk membangun daya saing sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
