Desabumi Galang Rp100 Juta, Relawan Siap Tempuh 16 Jam Bantu Korban Karhutla Kalbar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut menanti para relawan muda yang akan mengantarkan bantuan bagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Melalui kolaborasi yang dipimpin Yayasan Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia, relawan, dan donatur, bantuan senilai Rp100 juta telah dihimpun untuk mendukung kebutuhan warga sekaligus menghadirkan dukungan moral di tengah dampak bencana.
Penyaluran bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, melibatkan relawan Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Dari Pontianak, mereka bersiap menjangkau Pulau Datok di Kabupaten Kayong Utara serta Desa Ulak Medang di Kabupaten Ketapang, dengan menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan kebutuhan koordinasi logistik.
Baca Juga
Boy Thohir, Amanat Sang Ayah, dan Kesempatan Kedua dari Tuhan
Pendiri Desabumi, Gamma A. Thohir, mengatakan kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurut dia, jarak antardaerah tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling membantu. “Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa,” ujar Gamma dalam kegiatan pelepasan relawan dan penyerahan bantuan secara simbolis, Jumat (09/10/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung secara hibrida, menghubungkan peserta di Titik Temu Agora, Jakarta, dengan relawan, mahasiswa, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom. Pertemuan itu menjadi kesempatan bagi penyelenggara untuk mendengarkan langsung kondisi warga sekaligus memastikan kesiapan tim sebelum pendistribusian bantuan.
Dalam dialog tersebut, para petugas pemadam kebakaran menjelaskan sulitnya menangani kebakaran di lahan gambut. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan kembali muncul di lokasi berbeda, sehingga penanganannya membutuhkan kewaspadaan tinggi. Para petugas juga menekankan pentingnya patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini, terutama selama musim kemarau.
Dampak karhutla turut dirasakan Astika Dwi Wulandari, mahasiswa Universitas Tanjungpura. Ia menceritakan bahwa asap mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Menurut penuturannya, paparan asap bahkan sulit dihindari meskipun warga berada di dalam ruangan.
Astika mengapresiasi kebijakan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan Universitas Tanjungpura untuk melindungi mahasiswa dalam situasi tersebut. Pengalamannya memperlihatkan bahwa dampak karhutla menjangkau kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.
Mendengarkan pengalaman warga dan petugas, Gamma mengibaratkan kehidupan berbangsa sebagai tubuh manusia. Setiap bagian memiliki fungsi berbeda, tetapi secara spontan saling membantu ketika salah satunya mengalami kesulitan.
“Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar,” katanya.
Gamma, yang berdasarkan keterangan Desabumi mulai terlibat dalam kegiatan sosial sejak usia 15 tahun, menilai kepedulian perlu ditanamkan sebagai bagian dari karakter generasi muda. Pendidikan, pencapaian profesional, dan keberhasilan pribadi semestinya berjalan beriringan dengan kemauan memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain,” ujar Gamma.
Ia menambahkan, kontribusi tidak harus menunggu seseorang memiliki kedudukan tertentu atau sumber daya besar. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui waktu, tenaga, pikiran, maupun materi sesuai kemampuan masing-masing. “Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu,” katanya.
Baca Juga
Jaringan Boy Thohir Masuk MGLV, Data Center dan AI Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Dukungan senilai Rp100 juta yang dihimpun dalam kegiatan tersebut mencakup penyediaan sembako dan kebutuhan dasar masyarakat, pembekalan pengetahuan bagi relawan, serta kebutuhan logistik dan transportasi penyaluran. Tim juga menyiapkan interaksi sosial dan kegiatan hiburan sederhana untuk membantu membangkitkan semangat warga terdampak.
Pendiri SRE Indonesia, Zagy Berian, menekankan bahwa pelaksanaan aksi kemanusiaan harus disertai tata kelola yang baik. Menurut dia, donasi yang diterima membawa kepercayaan dan harapan masyarakat sehingga setiap tahap penyalurannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Ada banyak doa dan harapan yang dititipkan masyarakat kepada teman-teman relawan. Karena itu, tugas kita bukan hanya memastikan bantuan sampai, tetapi juga menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab,” ujar Zagy.
Ia meminta seluruh tim mengupayakan pencatatan dan dokumentasi pengeluaran, aktivitas, serta proses pendistribusian bantuan. Pembagian peran yang jelas, kedisiplinan, dan komitmen bersama juga diperlukan agar kontribusi para donatur dan relawan memberikan manfaat optimal.
“Setiap pengeluaran, aktivitas, dan proses penyaluran bantuan harus kita upayakan tercatat dan terdokumentasi dengan baik, sehingga seluruh kontribusi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Zagy menilai kekuatan kolaborasi terletak pada kesediaan setiap pihak untuk mengambil peran. Sebagian memberikan dukungan dana, sementara yang lain meluangkan waktu atau turun langsung menjangkau masyarakat. “Kami berharap bantuan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sembako di posko-posko pengungsian, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada masyarakat terdampak bahwa mereka tidak menghadapi situasi ini sendirian,” ujarnya.
Ketua Tim Relawan, Tiara, yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Tanjungpura, mengatakan seluruh anggota tim telah mempersiapkan diri untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan selama empat hari. Persiapan mencakup kondisi fisik, kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, dan perencanaan kegiatan pendampingan.
“Kami menjalani kegiatan kerelawanan ini dengan sepenuh hati. Setiap anggota tim telah mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat,” ujar Tiara.
Ia menjelaskan, tim turut menyiapkan kegiatan hiburan sederhana untuk menghibur dan membangkitkan semangat warga yang sedang menghadapi masa sulit. Tiara berharap seluruh relawan dapat menjaga kesehatan dan kekuatan selama menjalankan tugas.
Baca Juga
Gamma Thohir Targetkan Nusantara United Juara Liga 2 Musim Ini
Gamma juga mengingatkan para relawan untuk mengutamakan kesehatan, keselamatan, serta kekompakan selama perjalanan dan penyaluran bantuan. Keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan tersebut, menurut dia, menjadi wujud kepedulian yang perlu terus ditumbuhkan antargenerasi.
Melalui aksi ini, Desabumi membawa misi kepedulian lingkungan dan masyarakat yang dijalankan melalui kolaborasi serta dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, SRE Indonesia melibatkan jejaring generasi muda yang bergerak dalam pengembangan energi terbarukan, keberlanjutan lingkungan, dan partisipasi masyarakat dalam transisi energi.
Selain membantu kebutuhan darurat, kegiatan tersebut menekankan pentingnya pencegahan karhutla melalui edukasi, patroli, deteksi dini, dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Pengalaman petugas menghadapi kebakaran gambut menjadi pengingat bahwa dukungan bagi warga perlu berjalan bersama upaya mengurangi risiko bencana berulang.
