Harga Emas Dunia Naik 1,6%, Sentuh Level Tertinggi Sepekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia naik untuk 2 hari berturut-turut pada Jumat (9/10/2026) setelah aksi beli saat harga rendah mendorong logam mulia itu ke level tertinggi dalam sepekan. Namun, pelaku pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi menekan daya tarik emas.
Harga emas di pasar spot naik 1,6% menjadi US$ 4.198,99 per ons pada pukul 15.13 waktu AS. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 1,43% menjadi US$ 4.216,3 per ons. Pemulihan tersebut terjadi setelah harga emas spot menyentuh level terendah dalam 2 bulan pada Rabu (7/10/2026). Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS sebelumnya menekan harga logam mulia yang tidak memberikan bunga maupun pendapatan rutin kepada pemegangnya.
Baca Juga
Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O’Connell, mengatakan kenaikan harga emas didorong aksi beli investor yang memanfaatkan penurunan harga untuk mendapatkan aset tersebut dengan harga lebih murah. “Aksi berburu barang murah di harga rendah, karena harga terendah telah terbentuk di kisaran US$ 4.000,” kata O’Connell.
Menurut dia, pasar juga telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta berlanjutnya pembelian bersih emas oleh lembaga resmi, termasuk bank sentral. Untuk itu, kenaikan harga emas lebih lanjut masih menghadapi tantangan jika tidak ada kejutan besar yang mengubah arah pasar.
“Dapat diperdebatkan bahwa kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut sudah diperhitungkan, begitu pula ekspektasi akan berlanjutnya pembelian bersih sektor resmi. Tanpa adanya peristiwa Black Swan, saya sulit melihat harga emas melonjak lebih tinggi secara meyakinkan,” ujarnya.
Prospek kebijakan Federal Reserve masih menjadi perhatian. Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem pada Kamis (8/10/2026) mengatakan bank sentral AS perlu menaikkan suku bunga lagi untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 19%. Sementara itu, probabilitas setidaknya 1 kenaikan sebesar 25 basis poin hingga Desember mencapai 84%. Satu basis poin setara dengan 0,01 poin persentase.
Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai data inflasi AS berikutnya dapat menjadi pemicu pergerakan harga emas dalam skala lebih besar. Data indeks harga konsumen (CPI) akan menjadi perhatian investor untuk memperkirakan langkah Federal Reserve selanjutnya. “Rilis data CPI minggu depan mungkin akan menjadi katalis bagi pergerakan besar emas selanjutnya,” kata Tan.
Dia memperingatkan inflasi yang bertahan tinggi dapat mendorong Federal Reserve menjalankan siklus kenaikan suku bunga yang lebih agresif. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga emas spot kembali menguji level dukungan psikologis US$ 4.000 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Naik Dekati US$ 4.165, Pasar Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga
Level US$ 4.000 menjadi perhatian karena berada dekat dengan titik terendah yang disebut pelaku pasar sebagai acuan pembelian saat harga terkoreksi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat dan ekspektasi suku bunga berubah, pergerakan dolar AS serta imbal hasil obligasi dapat kembali menentukan arah harga emas.
Di pasar fisik, permintaan emas di India melemah pada pekan ini ketika harga kembali pulih. Kenaikan harga membuat sebagian konsumen menahan pembelian, terutama setelah sebelumnya pasar mengalami koreksi.
Aktivitas perdagangan emas di China, konsumen utama logam mulia dunia lainnya, juga terpantau lesu. Perdagangan berlangsung dalam periode yang lebih pendek karena libur, sehingga aktivitas pasar belum menunjukkan dorongan permintaan yang kuat.
