Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Rp 180 Triliun dan Lepas Ekspor Perdana Baterai EV
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memasuki fase baru pengembangan ekosistem industri setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi senilai Rp 180 triliun sekaligus melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) dari kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Momentum tersebut menandai perluasan mata rantai industri di kawasan industri Weda Bay, dari pengolahan dan pemurnian nikel hingga material baterai, baterai kendaraan listrik, aluminium, truk dan alat berat berbasis listrik, serta industri pendukung energi terbarukan.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melanjutkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya di Indonesia. Peluncuran 11 proyek hilirisasi dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan industri Weda Bay menjadi bagian dari perkembangan kapasitas industri Indonesia dalam menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Hari ini kita akan meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Kemudian kita juga akan meluncurkan 11 proyek hilirisasi, terdiri dari komersialisasi 4 proyek industri dan dimulai pembangunan 7 proyek industri baru, di kawasan ini, Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park,” ucap Presiden Prabowo, dikutip Jumat (9/10/2026).
Dari 11 proyek tersebut, empat proyek memasuki tahap komersialisasi yang ditandai dengan ekspor perdana, yaitu PT Blue Sparking Energy yang berfokus pada material baterai kendaraan listrik (EV), PT REPT Battero Energy Indonesia yang memproduksi baterai EV, PT Pioneer Aluminium Industries yang produksi aluminium elektrolitik, serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat berbasis listrik.
Sementara itu, tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan. Pertama, PT Guang Ching Nickel Cobalt memproduksi material baterai. Kedua, PT Inno Prima Material memproduksi separator baterai. Ketiga, PT Tinci Materials Indonesia yang memproduksi elektrolit baterai. Keempat, PT Weda Bay Aluminium membangun smelter aluminium.
Baca Juga
AI Butuh Nikel dan Tembaga, Wamenkomdigi: Hilirisasi Harus Berkelanjutan
Kemudian kelima, PT Bintang Karya Aluminium akan mengembangkan fasilitas peleburan aluminium. Keenam, PT Foton Guangqing Motor Indonesia yang berfokus pada produksi truk listrik (electric dump truck). Ketujuh, PT Flatsolar Energy Indonesia yang memproduksi kaca fotovoltaik sebagai komponen utama panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi surya.
Presiden Direktur PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kevin He, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan semakin luasnya keterhubungan mata rantai industri di kawasan Weda Bay, dari pengolahan bahan baku hingga manufaktur produk bernilai tambah.
“IWIP telah memasuki fase baru. Dari pengolahan dan pemurnian nikel, kini semakin banyak mata rantai industri hadir dan terhubung di dalam kawasan, mulai dari bahan baku baterai, aluminum kendaraan listrik, truk dan alat berat listrik," tutur Kevin.
Menurut Kevin, perkembangan ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi harus berlanjut menjadi industri manufaktur dengan teknologi, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah yang semakin besar di Indonesia.
Perluasan industri tersebut juga membawa dampak ekonomi yang lebih luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan kebutuhan barang dan jasa, serta tumbuhnya kesempatan usaha di sekitar kawasan. Saat ini, lebih dari 100.000 karyawan telah menjadi bagian dari ekosistem kawasan industri Weda Bay, sementara 11 proyek yang diluncurkan dalam momentum tersebut diproyeksikan membuka hingga 13.950 lapangan kerja.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai Rp 180 Triliun, Ini Rinciannya
“Perkembangan kawasan industri Weda Bay bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas industri, tetapi juga tentang semakin banyaknya aktivitas produksi, kesempatan kerja, dan peluang usaha yang dapat tumbuh di Indonesia. Kami ingin keberadaan industri di kawasan ini memberikan manfaat yang semakin luas, termasuk terbukanya ruang bagi peningkatan investasi, produksi, penyerapan tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah,” ujar Kevin.
Kevin menambahkan, keberlanjutan pengembangan industri di kawasan industri Weda Bay membutuhkan dukungan Pemerintah Indonesia serta kolaborasi antara dunia usaha, tenaga kerja, dan berbagai pemangku kepentingan.
