RI Defisit 1 Juta Barel Minyak per Hari, Kedua Kadin Ungkap Risikonya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia menghadapi defisit minyak sekitar 1 juta barel per hari. Konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak mentah domestik hanya sekitar 600.000 barel.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie mengatakan, hal itu membuat ekonomi RI rentan terhadap gejolak harga minyak global.
Baca Juga
Dilantik Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil: 90% Investasi Ada di Sektor Energi
“Bagi Indonesia, kondisi ini adalah persoalan yang sangat serius. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak bumi mentah dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari,” kata pria yang akrab disapa Anin dalam pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut Anin, gejolak geopolitik memperlihatkan tingginya risiko pasar energi global. Harga minyak pada 2024 bergerak dari kisaran US$ 65 per barel hingga menembus US$ 100 per barel.
“Ketergantungan terhadap impor inilah yang membuat ekonomi kita sangat terekspos ketika harga minyak dunia bergejolak. Karena itu, Indonesia perlu mempercepat elektrifikasi transportasi dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan," jelasnya.
Anin menilai bahwa transisi energi tidak hanya menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Perubahan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia.
Baca Juga
ISF 2026 Dibuka, Kadin Tegaskan Transisi Energi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional
Investasi transisi energi global mencapai rekor US$ 2,3 triliun pada 2023. Sementara itu, potensi ekonomi net zero Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 3,8 triliun hingga 2050.
Berkaca dari hal itu, Kadin mendorong peluang tersebut ditangkap melalui investasi dan kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha. "Fokusnya mencakup kendaraan listrik, energi terbarukan, pasar karbon, ekonomi sirkular, waste-to-energy, dan kehutanan berkelanjutan," tegas Anin.
