Kadin Indonesia Dorong Kolaborasi Industri dan Inovasi Bisnis melalui ‘Go-See and Pitch’ di Fasilitas VKTR
Poin Penting
|
MAGELANG, investortrust.id — Kadin Indonesia mendorong kolaborasi industri dan inovasi bisnis melalui program Go-See and Pitch yang mempertemukan dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan calon mitra strategis di fasilitas perakitan PT VKTR Sakti Industries (VKTS), Magelang, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Kadin Indonesia melalui Kadin Indonesia Institute (KII) itu memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat langsung perkembangan industri kendaraan listrik sekaligus mengikuti sesi pitching bisnis. Melalui pendekatan ini, Kadin Indonesia ingin mendorong pertukaran pengetahuan, memperkenalkan inovasi, dan membuka ruang kolaborasi konkret antarpelaku usaha.
Rektor Universitas Paramadina dan Ketua MWA IPB 2007–2012, Prof Didik J Rachbini menilai perkembangan kendaraan listrik komersial perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni transformasi struktur ekonomi Indonesia. Keberhasilan transisi energi akan lebih berarti apabila mampu mendorong tumbuhnya industri pendukung, teknologi, sumber daya manusia, dan rantai pasok di dalam negeri.
“Elektrifikasi kendaraan jangan hanya dipandang sebagai pergantian teknologi dari kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perubahan ini menjadi momentum untuk memperkuat industri nasional, menciptakan nilai tambah, dan meningkatkan daya saing Indonesia,” kata Didik.
Baca Juga
Didik mengungkapkan, kendaraan listrik komersial memiliki posisi strategis karena penggunaannya berkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi, mulai dari transportasi publik, logistik, pertambangan, hingga berbagai aktivitas industri. Dengan pasar yang besar, elektrifikasi kendaraan komersial berpotensi menciptakan permintaan baru bagi industri komponen, manufaktur, teknologi baterai, hingga layanan pendukung.
“Kalau ekosistemnya dibangun dengan benar, kendaraan listrik bisa menghasilkan efek berganda. Bukan hanya mengurangi emisi, tetapi juga menciptakan investasi, lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan pasar baru bagi industri nasional,” ujar dia.
Persoalan berikutnya, menurut Prof Didik, adalah memastikan proses tersebut tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Indonesia perlu memperbesar kandungan dan kemampuan industri dalam negeri sehingga manfaat ekonomi dari pertumbuhan kendaraan listrik dapat dinikmati secara lebih luas.
“Indonesia harus berusaha agar transisi kendaraan listrik tidak sekadar menjadikan kita sebagai pasar atau tempat perakitan. Kita harus bergerak menuju penguasaan teknologi dan rantai nilai yang lebih dalam,” tegas dia.
Dia menambahkan, pesan tersebut sejalan dengan agenda Go-See and Pitch yang dirancang Kadin Indonesia untuk mempertemukan pelaku usaha dengan industri, pemerintah, akademisi, dan calon mitra strategis. Melalui kunjungan langsung ke fasilitas industri dan sesi pitching bisnis, program ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga melahirkan peluang kolaborasi yang konkret.
Direktur PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, Erika M Hamizar mengatakan, keikutsertaan VKTS dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan secara langsung kemampuan fasilitas VKTS, sekaligus memperkenalkan peran kendaraan listrik komersial dalam agenda dekarbonisasi dan industrialisasi nasional.
“Kami melihat elektrifikasi kendaraan komersial bukan hanya sebagai kontribusi terhadap lingkungan melalui pengurangan emisi, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi industri yang dapat menciptakan multiplier effect yang jauh lebih besar bagi Indonesia,” tandas Erika.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat menegaskan, pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan. Transformasi menuju ekonomi hijau membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus berjalan seiring dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Karena itu, transformasi menuju ekonomi hijau dan ekonomi berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan,” papar Jumhur.
Menteri Jumhur menjelaskan, pembangunan industri juga harus diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Dengan demikian, agenda keberlanjutan tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengemukakan, dunia usaha memiliki peran penting dalam menerjemahkan berbagai agenda pemerintah ke dalam kegiatan ekonomi yang konkret. Kadin Indonesia, melalui KII, berupaya menjadi penghubung antara pemerintah, industri, akademisi, dan pelaku usaha untuk memperluas ruang kolaborasi.
Baca Juga
“Kadin Indonesia senantiasa berkomitmen menjadi fasilitator dan enabler dalam mendukung berbagai program pemerintah dan menerjemahkannya melalui sinergi bersama dunia usaha. Program pemerintah tidak dapat berjalan sendiri,” kata Anindya.
Didik Rachbini mengakui, forum seperti Go-See and Pitch menjadi penting karena mempertemukan gagasan dengan kemampuan industri secara langsung. Model kolaborasi semacam ini diperlukan agar kebijakan industrialisasi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterjemahkan menjadi investasi dan kegiatan produksi yang menciptakan nilai tambah.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang pertemuan antara gagasan, teknologi, modal, dan kemampuan industri. Dari sinilah kolaborasi konkret dapat lahir dan kemudian berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru,” kata dia.
Dia menekankan, kegiatan di fasilitas VKTS tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa agenda kendaraan listrik, industrialisasi, dan ekonomi hijau memiliki keterkaitan yang semakin erat. Tantangannya bukan sekadar mempercepat penggunaan kendaraan listrik, melainkan membangun ekosistem industri yang mampu menangkap manfaat ekonomi dari perubahan tersebut.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat, kata Didik Rachbini, elektrifikasi kendaraan komersial berpeluang menjadi salah satu pintu masuk bagi Indonesia untuk memperkuat industri nasional sekaligus menjalankan agenda penurunan emisi.
“Transformasi hijau pun tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi dapat berkembang menjadi strategi pertumbuhan ekonomi dan penguatan daya saing industri Indonesia,” tandas dia.
