Logistik, Strategi Pemenangan Perang yang jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Banyak yang menyebut kehebatan pasukan Romawi dari sisi persenjataan dan besarnya pasukan menjadi kunci setiap kemenangannya saat menaklukkan Eropa, Afrika hingga Timur Tengah. Termasuk mampu menguasai Inggris lewat peristiwa Invasi Romawi ke Britania Raya tahun 43 masehi.
Bayangkan, Jenderal Aulus Plautius yang diutus Kaisar Claudius di Roma memimpin puluhan ribu pasukan infantri, kavaleri dan mengangkut amunisi menyusuri jalan darat sejauh 1.600 km, dan berikutnya melintasi Selat Dover agar bisa mencapai daratan Inggris. Britania Raya pun takluk di tangan Aulus Plautius.
Hingga puncak kejayaannya di bawah Kaisar Trajanus sekitar tahun 117 M, Romawi menguasai wilayah yang meliputi tiga benua, membentang dari Inggris di utara hingga Mesir di selatan, serta dari Portugal di barat hingga Irak di timur.
Tapi tak sepenuhnya benar persenjataan dan masifnya pasukan menjadi penentu. Ada kunci keberhasilan utama mereka lainnya yang tak bisa dikesampingkan, logistik.
Logistik sejauh ini diartikan sebagai proses merencanakan, mengatur, dan mengawasi perpindahan barang, jasa, atau informasi dari tempat asal ke tempat tujuan secara aman dan tepat waktu. Nah para sejarawan sepakat bahwa sejak lama Kekaisaran Romawi memang telah menerapkan ilmu logistikos, demikian istilah awal logistik dari bahasa Yunani, yang artinya adalah rasio atau perhitungan.
Mumpuni dalam menerapkan ilmu rasio atau perhitungan logistikos, membuat Romawi mampu memindahkan empat legiun (setara dengan 6.000 personel) beserta pasukan bantuan (auxiliaries) dan kuda saat invasi ke Britania Raya
Tak heran, sejarawan militer berdarah Swiss-Prancis, Antoine-Henri Jomini, mendefinisikan la logistique pada tahun 1830 sebagai seni dalam mengatur pergerakan, menentukan waktu perjalanan, rute, serta sarana komunikasi dan pasokan untuk pergerakan pasukan. Logistik identik dengan persiapan perang.
Sehingga populerlah ungkapan militer, "An army marches on its stomach."
Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh keberanian atau kecakapan bertempur, hingga persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan memastikan setiap prajurit memperoleh makanan, senjata, peralatan, dan dukungan logistik secara berkelanjutan.
Logistik jadi Urat Nadi Pertumbuhan Ekonomi
Namun pada periode damai, infrastruktur logistik yang andal seperti jalan tol, pelabuhan modern, didukung moda transportasi jaringan kereta api, penerbangan hingga sistem digital, mengubah ilmu ini menjadi urat nadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Logikanya begini, infrastruktur logistik yang baik pastinya akan menghilangkan hambatan jarak. Pengiriman bahan baku yang biasanya memakan waktu 5 hari misalnya, bisa didatangkan hanya dalam 1 hari. Kecepatan pengiriman akan menurunkan biaya penyimpanan, dan produksi tentunya.
Efisiensi dari alur logitik yang baik, pada ujungnya akan meningkatkan produktivitas, dan menciptakan skala keekonomian yang baik. Harga jual pun dipastikan kompetitif. Sebuah produk akhirnya bisa dipasarkan jauh melintasi perbatasan antarnegara dengan cepat.
Dulu, sulit melihat hasil produksi manufaktur di Solo bisa dipasarkan di Kota Frankfurt, Jerman. Tingginya biaya logistik membuat para produsen ‘emoh’ menjual barangnya terlalu jauh dari pusat produksi.
Baca Juga
DHL Tawarkan Pengiriman Kargo Berat hingga 3 Ton dengan Layanan Ekspres
Jadi, logistik yang lebih kuat akan mendorong volume perdagangan yang lebih tinggi, yang dapat meningkatkan pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Lewat logistik yang apik pula, membantu sebuah negara masuk ke dalam rantai pasok dan nilai global.
Sesuai dengan hasil kajian Zhaofang Chu di tahun 2012. Profesor di University of Science and Technology of China ini meneliti hubungan antara investasi logistik dan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data 30 provinsi di China selama 1998–2007. Chu menyimpulkan bahwa investasi logistik berdampak signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan (khususnya di China), dengan kontribusi yang lebih besar di wilayah pedalaman.
Indonesia, Negara dengan Biaya Logstik Tinggi
Lantas bagaimana dengan Indonesia, yang memiliki biaya logistik yang sangat mahal. Setidaknya mengacu laporan Bappenas/PPN pada tahun 2022, biaya logistik di Indonesia mencapai 14,29%dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu Bank Dunia sempat menyebut, jika dihitung secara makro komprehensif dengan rantai pasok ekspor, biaya logistik di Tanah Air bisa menembus angka 24% dari PDB atau setara PDB, setara dengan Rp 1.820 triliun.
Maka, Indonesia membutuhkan skema logistik yang lebih efisien agar dana yang terbuang dalam proses pengiriman barang bisa ditekan, dan bisa menciptakan harga produk yang kompetitif.
Bank Dunia dalam sebuah kajiannya juga menyebut logistik yang lebih baik akan mengurangi biaya dan waktu perdagangan. Pada ujungnya membantu meningkatkan peluang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memungkinkan negara-negara terutama negara perekonomian berpendapatan rendah dan menengah, untuk berpartisipasi dalam rantai nilai global secara terukur.
Pemerintah sendiri telah bertekad untuk menurunkan biaya logistik menjadi 12% dari PDB di tahun 2029, sehingga bisa mendekati standar efisiensi global dan memperkuat daya saing ekspor Indonesia. “Kita menargetkan dari 14,29% (biaya logistik)menjadi 12% (terhadap PDB) di tahun 2029,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan belum lama ini.
Dukungan Perusahaan Logistik yang Mumpuni
Komitmen pemerintah untuk menekan biaya logistik perlu diapresiasi. Sistem kepelabuhanan terus diperbaiki. Masa dwelling time di pelabuhan mulai dipercepat, sehingga arus barang tak lagi tersendat di titik ketibaan barang dari jalur laut.
Namun tak cuma itu, dibutuhkan pula sokongan dari para pelaku industri logistik untuk ikut mendukung terbentuknya skema rantai pasok dan logistik yang efisien. Yang jelas, dibutuhkan dukungan entitas logistik yang mumpuni, agar pemerintah tak bekerja sendiri.
Tak terhitung perusahaan-perusahaan logistik di Tanah Air yang tentunya berlomba-lomba ikut berkontribusi menciptakan alur barang yang efektif efisien. Namun layak untuk menyebut nama DHL Express sebagai sebuah perusahaan logistik yang ikut berkontribusi menekan biaya logistik di Tanah Air.
Secara global, DHL Express memang telah dikenal sebagai pemimpin dalam industri logistik global dengan jangkauan operasional lebih ke 220 negara.
Baca Juga
DHL Dorong Kesiapan Tenaga Kerja Muda Lewat Program GoTeach 2025
Sebagai perusahaan logistik yang memiliki layanan pengiriman internasional tepat waktu atau Time Definite International (TDI), serta didukung infrastruktur jaringan kuat, dan terintegrasi, DHL telah menarik basis pelanggan yang sangat luas. Setidaknya saat ini perusahaan tercatat melayani sekitar tiga juta pelanggan di berbagai belahan dunia.
Saat ini DHL Express juga mengelola 3 pusat transit global, serta 20 pusat transit regional yang tersebar secara strategis di berbagai belahan bumi. Selain pusat transit, kekuatan fisik perusahaan juga terlihat dari kepemilikan lebih dari 3.850 fasilitas pendukung serta penyediaan 128.000 titik layanan yang memudahkan aksesibilitas bagi para pelanggannya.
Dalam aspek operasional udara, DHL Express menunjukkan dominasi yang signifikan dengan mengoperasikan armada pesawat khusus berjumlah lebih dari 275 unit. Armada udara ini melakukan mobilisasi melalui lebih dari 2.400 jadwal penerbangan setiap harinya untuk memastikan setiap produk dan paket sampai ke tujuan dengan efisiensi waktu yang optimal.
Tak heran dengan kapasitas logistik yang luar biasa tersebut, perusahaan mampu menangani 248 juta pengiriman dengan waktu yang sudah ditentukan setiap tahunnya secara konsisten.
DHL Express memang bukan pembangun jalan, pelabuhan atau bandara. Namun ia merupakan pengelola jaringan logistik yang menggunakan infrastruktur tersebut untuk menghubungkan produsen dan konsumen lintas wilayah dan lintas negara.
Di sinilah kontribusinya terhadap perekonomian menjadi penting. Ia tak sekadar memindahkan barang, tetapi "memindahkan peluang ekonomi" ke tangan para pelaku ekonomi domestik.
Di Indonesia, Jakarta Distribution Centre mulai beroperasi pada 2019 untuk meningkatkan proses pengiriman dan konektivitas dengan berbagai gateway domestik.
Dorong UMKM Go Global
Bagi entitas bisnis besar, DHL Express telah menjadi kata kunci solusi pengiriman antar wilayah hingga cross border yang reliable.
Namun bagaimana dengan UMKM, yang sejatinya berkontribusi sebesar 60% pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan jumlah pelaku UMKM yang diperkirakan berkisar antara 65 hingga 66 juta unit. Sektor penyerap hingga 97% dari total tenaga kerja nasional masih menyimpan persoalan dalam hal aksesibilitas ke pasar yang jauh lebih besar.
Sejauh ini, jika tak mengandalkan perusahaan logistik, perusahaan besar masih bisa membangun departemen ekspor, menyewa konsultan kepabeanan, membuat kontrak dengan perusahaan freight forwarding, bahkan membangun gudang di luar negeri.
Sementara UMKM yang menjadi tulang punggung kontribusi PDB dan serapan tenaga kerja masif ini justru layaknya berhadapan dengan tembok besar jika berurusan dengan proses ekspor.
Baca Juga
Nah, DHL Express ternyata bukan perusahaan logistik yang semata hanya melayani pelanggan manufaktur yang membutuhkan kapasitas pengiriman besar. UMKM pun ternyata cukup dominan masuk dalam radar layanan DHL Express.
Sekadar informasi saja, DHL Express di Indonesia punya jumlah pelanggan yang cukup besar dari kalangan usaha bermodal cekak alias UMKM ini. Setidaknya, seperti disampaikan Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, Ahmad Mohamad, sekitar 40% pelanggan DHL Express Indonesia berasal dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah.
Bagi Ahmad, ini merupakan pertanda bahwa minat UMKM domestik untuk bisa ikut terlibat dalam perdagangan global juga semakin besar.
Berikan Solusi bagi UMKM
Sejauh ini, usaha modal skala cekak ini memang menemui hambatan berupa keterbatasan akses logistik. Apalagi masih ada cara pikir yang salah di kalangan pelaku usaha kecil, bahwa layanan logistik cross border hanyalah untuk skala usaha dan pengiriman barang dalam jumlah masif.
Sementara ituUMKM domestik membutuhkan solusi logistik yang fleksibel dan sesuai kebutuhan.
Maka tak salah jika DHL Express terus memperluas cakupan Service Point-nya di sejumlah kota besar, untuk memberikan akses dan kemudahan para pelaku UMKM menembus pasar internasional.
Baca Juga
DHL Express dan UOB Indonesia Bersinergi Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Layanan Go Green Plus
“Service point hadir untuk mendukung meningkatnya pergerakan pengiriman ekspor, impor dan domestik yang didorong oleh pelaku UMKM, penjual online, pekerja kreatif, serta pelanggan korporasi yang membutuhkan layanan pengiriman waktu kritikal melalui jaringan udara global DHL serta rute ekspres domestik,” kata Ahmad medio April lalu di Jakarta (1/4/2026).
Baru-baru ini, DHL Express memang kembali memperluas tentakel service point-nya untuk dapat merangkul lebih banyak pelanggan, termasuk dari kalangan pelaku usaha kecil. Salah satunya Service Point di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Service point ini dibangun untuk semakin memperkuat jaringan titik layanan dan memberikan kemudahan lebih bagi para pelanggan di area tersebut.
Berada di lokasi strategis dekat Pondok Indah, Cipete, TB Simatupang, dan Cilandak, service point itu melayani ekosistem pelaku usaha, brand ritel, komunitas ekspatriat, dan bisnis digital first yang tengah bertumbuh pesat di Jakarta Selatan.
Dengan demikian, DHL Express membantu membuka jendela dunia bagi para pelaku usaha yang sebelumnya hanya mengandalkan pasar domestik, lewat sejumlah service point yang didirikan.
Service point ini pun bakal membuka peluang bagi UMKM menjadi usaha unggul. Seperti dikatakan Ahmad, kini keunggulan tidak lagi soal siapa yang memulai lebih dulu, tetapi siapa yang mampu berkembang lebih cepat dan konsisten dengan perluasan pasar yang semakin luas. Perluasan pasar ini tentu dengan bantuan layanan logistik yang andal seperti DHL Express, sehingga usaha dan bisnis yang mereka jalankan pun ikut terjaga keandalannya.
Tak sekadar membuka service point, dukungan terhadap UMKM domestik juga ditunjukkan oleh DHL Express lewat program GoTrade, sebuah inisiatif strategis DHL yang bertujuan membantu UMKM menembus dan berkembang di pasar global.
Berkolaborasi dengan UOB Indonesia, DHL menggelar program GoTrade perdana di Indonesia dengan mengusung tema “Empowering Business Beyond Borders” pada tahun 2025 lalu.
Buat para pelaku usaha kecil menengah yang mengikuti program GoTrade, mereka akan dibekali pemahaman mengenai prosedur kepabeanan, hingga proses logistik untuk terjun ke perdagangan lintas batas. Selepas mengikuti program GoTrade, maka para pelaku usaha UMKM akan memahami dengan baik praktik terbaik untuk mengekspor produk ke pasar global, dengan memanfaatkan jaringan internasional DHL yang mencakup 220 negara dan wilayah.
Program GoTrade di Indonesia sejatinya serupa dengan yang telah dilansir DHL di Thailand setahun sebelumnya.
Jadi, sudah bukan pemandangan yang aneh jika sebuah karya tembikar dari Demangan, Yogyakarta, bisa dipajang di sebuah galeri seni di Manhatttan, New York, Amerika Serikat.
Baca Juga
Untuk semakin memperkuat dukungannya pada skala usaha menengah kecil tadi, belum lama ini DHL Express juga menghadirkan layanan Heavy Weight Express, yakni layanan pengiriman udara khusus dengan kapasitas hingga 1.000 kilogram per koli dan 3.000 kilogram per pengiriman, untuk menopang pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
“Fokus kami bukan sekadar transaksi, tetapi membangun kemampuan UMKM agar bisa tumbuh secara konsisten di pasar global,” tutur Ahmad.
Jika sebuah UMKM mampu memperluas pasarnya ke level global, bisa dipastikan ia pun harus meningkatkan kuantitas produknya karena konsumen yang bertambah. Ini bisa diartikan sang pelaku usaha UMKM tersebut akan membutuhkan bahan baku lebih banyak, dan tenaga kerja yang lebih besar. Serapan tenaga kerja lebih besar tentunya berimplikasi pada peningkatan daya beli masyarakat yang terlibat dalam industri tersebut. Tingkat konsumsi pun diyakini akan meningkat.
Pada ujungnya satu UMKM tersebut telah mampu menjadi sebuah stimulus kecil pergerakan perekonomian secara lokal. Dan tentu sebuah keniscayaan jika skala usahanya semakin meningkat, ia akan menambah jumlah tenaga kerja, dan multiplier effect di perekonomian pun makin berlipat.
Maka tak salah jika Zhaofang Chu menyimpulkan bahwa investasi logistik berdampak signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Sebuah keniscayaan tentunya, jika ekosistem logistik yang terbangun mapan dari sisi infrastruktur dan didukung oleh logistic player yang mumpuni tadi, sasaran pertumbuhan ekonomi tinggi bukan sebuah omon-omon.
Bisnis Berkelanjutan
Menjadi bagian dari penopang pertumbuhan ekonomi tak lantas bisnis logistik tak lepas dari sorotan tentang dampak emisi karbon dari operasional usaha. Maklum, DHL Express yang memiliki layanan Time Definite International (TDI) --barang dikirim lintas negara dalam waktu yang sangat cepat-- maka pesawat menjadi tulang punggung operasional.
Masalahnya, penerbangan membutuhkan energi sangat besar dan bahan bakarnya masih didominasi jet fuel berbasis fosil.
Namun DHL Group bukannya tak memiliki visi net zero emission dalam menjalankan bisnisnya. Manajemen DHL Group dalam pernyataannya di Annual Report 2025 menyebutkan bahwa DHL bertujuan mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) secara signifikan pada tahun 2030, dengan meningkatkan efisiensi dan beralih dari bahan bakar fosil ke bahan bakar alternatif non fosil.
“Selain itu, kami telah menetapkan target net zero (nol emisi bersih) pada tahun 2050. Kami paparkan target kami, serta metodologi yang digunakan sesuai target mitigasi perubahan iklim. Pada prinsipnya, sangat memungkinkan untuk mengganti seluruh bahan bakar dengan alternatif lain, yang berarti kami tidak memiliki emisi terikat (locked-in emissions) dalam jangka panjang yang dapat mengancam target, tindakan, serta sumber daya kami terkait target iklim,” demikian kata CEO DHL Group Tobias Meyer dalam Annual report 2025.
Bukan sekadar pernyataan semata, DHL Group di tahun 2025 telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca yang terkait bisnis logistiknya menjadi 32,31 juta ton CO₂e, atau turun 4,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 33,77 juta ton CO₂e. Lumayan ya.
Yang menarik, untuk DHL Express saja, emisi terkait logistik pada 2025 berhasil ditekan ke angka 13,69 juta ton CO₂e, turun dari 17,12 juta ton CO₂e pada tahun dasar 2021.
Hal yang menarik pula, DHL Express menggunakan menggunakan beberapa armada pesawat berbahan bakar Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bukan aftur. Sebagaimana diketahui SAF adalah bahan bakar pengganti aftur murni yang berasal dari sumber yang lebih berkelanjutan, seperti limbah minyak sawit, atau di Indonesia biasa disebut jelantah.
Mengacu laporan DHL Express 2025, SAF dapat menghasilkan pengurangan emisi siklus hidup hingga sekitar 80% dibandingkan bahan bakar jet fosil, tergantung feedstock dan proses produksinya.
Dan pada tahun 2025, porsi penggunaan SAF telah mencapai 10% dari konsumsi bahan bakar armada pesawat milik DHL sendiri. Angka ini merupakan kenaikan 3,5% dibanding pada tahun 2024. Sejauh ini, DHL telah menggunakan sekitar 185 kiloton SAF pada armada udaranya.
Nah di dalam negeri, maksudnya di Negeri Tercinta Indonesia, DHL Express Indonesia berencana ngebut untuk urusan transisi menuju operasional ramah lingkungan. Cara salah satunya ya menambah armada kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mereka.
Setidaknya di tahun ini saja DHL Express bakal menambah 125 unit EV. Dalam satu kesempatan, Ahmad menyebut bahwa dalam jangka panjang, penggunaan EV akan lebih menguntungkan bagi perusahaan.
Pada tahun 2025 lalu, DHL mengoperasikan 28 kendaraan listrik pengiriman first dan last-mile, sebagai bagian dari target global DHL Group untuk mengalihkan lebih dari 66% armada penjemputan dan pengiriman ke kendaraan listrik pada tahun 2030.
Bisnis yang punya dampak yang sangat signifikan. Menjadi semacam medium yang mampu mengangkat harkat para pelaku UMKM agar bisa naik kelas dan memperbesar usahanya, DHL Express juga menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tempat mereka hadir. Sementara itu dari sisi operasional, DHL Express berusaha terus mengurangi dampak emisi karbon agar bumi tetap ‘sehat’.
Jadi nggak salah juga kalau ada anggapan pegawai dan pekerja di DHL Express bakal masuk surga, karena telah berupaya memberikan manfaat yang besar bagi umat.
