Menteri PKP Maruarar Sebut Perumahan Butuh 'Super Team'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan, percepatan pembangunan perumahan membutuhkan kerja bersama pemerintah, Danantara, BUMN, perbankan, dan pengembang swasta. Dukungan pembiayaan harus diikuti penyediaan hunian dan kemudahan akses agar menghasilkan transaksi nyata, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian.
“Saya berharap Danantara Housing Expo menjadi momentum untuk mempertemukan semua ekosistem. Kita harus kompak. Kami percaya dengan Super Team, kami kurang percaya dengan Super Man,” ujar Maruarar, yang akrab disapa Ara, dalam pembukaan Danantara Housing Expo 2026 di Hall A, NICE PIK 2, Kamis (27/8/2026).
Ara mengatakan, pameran tersebut menunjukkan kolaborasi nyata dalam sektor perumahan. Danantara Housing Expo mempertemukan masyarakat, pengembang, perbankan, dan berbagai pelaku industri untuk menyediakan informasi serta solusi kepemilikan rumah dalam satu ekosistem terintegrasi.
Melalui pilihan hunian yang beragam dan alternatif pembiayaan, masyarakat diharapkan lebih mudah menemukan rumah sesuai kebutuhan sekaligus memperoleh kredit yang sesuai kemampuan. Ara menekankan, keberhasilan pameran perlu tercermin pada transaksi dan semakin banyaknya hunian yang terserap masyarakat.
“Dan yang paling penting, kami sangat senang dan yakin bagaimana event hari ini bisa mendorong transaksi nyata, mempercepat penyerapan hunian, menggerakkan industri perumahan, serta menciptakan multiplier effect bagi perekonomian,” katanya.
Untuk mendukung sektor tersebut, Ara menyebut pemerintah telah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui kredit program perumahan sebesar Rp50 triliun pada tahun ini. Pembiayaan itu ditujukan untuk sisi pasokan maupun permintaan, sehingga dapat mendukung pelaku usaha penyedia rumah sekaligus masyarakat yang membutuhkan hunian.
Baca Juga
Ara juga menyampaikan adanya dukungan Bank Indonesia yang dalam sambutannya ia sebut sebagai pelonggaran giro wajib minimum (GWM) dari 5% menjadi 4%. Menurut dia, kebijakan tersebut memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp80 triliun untuk mendukung pembiayaan perumahan.
Dalam kaitan dengan perluasan akses rumah subsidi, Ara menyebut kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) meningkat dari sekitar 220.000 menjadi 350.000 unit. Ia menyatakan, peningkatan kuota tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Ara, hasil dukungan kebijakan dan pembiayaan mulai terlihat melalui akad massal rumah subsidi pada 30 Juli di Batang. Kegiatan tersebut, katanya, mencakup 62.710 unit rumah di 36 provinsi dan 372 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, lanjut Ara, juga dilaksanakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan senilai Rp880 miliar bagi 7.100 debitur.
“Ini menunjukkan bahwa kebijakan dan dukungan pembiayaan yang kita bangun mulai dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Ara memberikan apresiasi khusus kepada CEO Danantara Rosan P. Roeslani serta COO Danantara yang juga Kepala BP BUMN Dony Oskaria. Ia mengatakan, dukungan keduanya membuat Kementerian PKP memiliki mitra yang aktif membantu percepatan program perumahan.
“Kami tidak merasa sendirian sebagai mitra di kabinet, sebagai pembantu Bapak Presiden. Kami merasakan dukungan yang nyata untuk sektor perumahan dari Danantara dan BP BUMN,” kata Ara.
Apresiasi juga disampaikan kepada Kementerian Keuangan, Himbara, BP Tapera, pemerintah daerah, serta pengembang. Ara berharap kerja sama tersebut terus berlanjut dan Danantara Housing Expo dapat diselenggarakan kembali pada tahun-tahun berikutnya.
Baca Juga
Untuk menindaklanjuti kolaborasi itu, Ara mengusulkan pertemuan bersama Rosan pada pekan berikutnya dengan melibatkan sejumlah asosiasi pengembang, antara lain REI, Apersi, Himperra, Appernas, dan Asproumnas. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyampaikan peluang investasi, kendala usaha, serta usulan penguatan sinergi dengan Danantara dan BUMN.
Ara mengatakan, dirinya telah menerima masukan dari sejumlah tokoh senior dan perwakilan asosiasi. Berbagai persoalan di sektor perumahan, menurut dia, membutuhkan koordinasi langsung agar dapat ditangani bersama.
Salah satu kerja sama konkret yang disorotnya adalah pembangunan rumah susun di Manggarai oleh Kereta Api Indonesia. Ara menyebut pembangunan tersebut telah dimulai pada pekan sebelumnya dan menyampaikan apresiasi kepada KAI serta BTN atas langkah itu.
Ia juga menyoroti hibah lahan seluas 30 hektare di Meikarta dari Grup Lippo kepada negara. Ara mengucapkan terima kasih kepada James Riady dan berharap lahan tersebut dapat segera dimanfaatkan untuk pembangunan hunian, disertai skema pembelian yang dapat diakses masyarakat.
Menurut Ara, pihaknya telah memeriksa lokasi lahan tersebut. Ia menyebut akses menuju rumah sakit, pasar, sekolah, dan kawasan industri masing-masing berada pada kisaran waktu tempuh 10 menit.
“Saya pikir tanah yang dihibahkan oleh Lippo 30 hektare kami sudah cek; itu nggak jauh, 10 menit ke rumah sakit, 10 menit ke pasar, 10 menit ke sekolah, 10 menit kurang lebih ke kawasan industri. Jadi saya yakin itu adalah solusi yang luar biasa,” katanya.
Lebih jauh, Ara menekankan bahwa pembangunan perumahan juga harus membangun manusia dan ekosistem ekonomi di sekitarnya. Aktivitas sektor ini diharapkan memperluas pemerataan ekonomi serta membuka kesempatan bagi pengusaha muda dan pelaku usaha baru di daerah.
Ia berharap dari ekosistem tersebut lahir pengembang-pengembang baru yang kelak mampu tumbuh menjadi pelaku usaha besar. Dengan demikian, pembangunan perumahan tidak hanya memperluas kepemilikan hunian, tetapi juga memperbesar kesempatan masyarakat untuk bekerja dan berusaha.
