Harga Emas Turun 1,4% Setelah Inflasi AS Sesuai Ekspektasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas kembali melemah pada Rabu (26/8/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sebagian besar sesuai ekspektasi, mendorong spekulasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada bulan depan. Investor juga menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pekan ini yang berpotensi memberikan petunjuk arah kebijakan moneter AS.
Harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 4.592,97 per ons dan kontrak berjangka emas AS juga melemah 0,9% menjadi US$ 4.653,30 per ons.
Pergerakan tersebut terjadi setelah harga emas sempat naik ke level tertinggi sejak 14 Mei pada perdagangan Selasa (25/8/2026).
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 18.000, 'Buyback' Jadi Rp 2,61 Juta
Indeks dolar AS menguat 0,3%. Kondisi tersebut membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang selain dolar AS.
“Pergerakan harga emas hingga data hari ini hanyalah aksi ambil untung. Data PCE (Personal Consumption Expenditures) atau inflasi sebagian besar sesuai ekspektasi, jadi saat ini kita sedang berkonsolidasi dalam kisaran harga kemarin,” kata Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, dilansir CNBC.
Data Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures Price Index meningkat 3,7% dalam 12 bulan hingga Juli.
Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang digunakan The Fed dalam menetapkan kebijakan suku bunga. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga bulan depan naik menjadi 38%, dari 36% sebelum data dirilis. Pada saat yang sama, pasar masih memperkirakan peluang 62% bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Grant melihat tekanan terhadap harga emas belum mengubah tren kenaikan dalam jangka lebih panjang. “Saya pikir tren kenaikan harga emas mulai menguat kembali. Jadi saya melihat potensi kembali di atas US$5.000 tahun ini,” kata Grant.
Dia juga memperkirakan harga emas masih memiliki ruang untuk mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa pada kuartal II 2027.
Baca Juga
Prospek Emas hingga Hilirisasi Menguat, Saham Antam (ANTM) Layak Dibeli dengan Target Harga Ini
Pergerakan emas juga berlangsung di tengah perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global.
Iran dan Oman disebut telah mencapai kesepakatan mengenai pembagian Selat Hormuz beserta pendapatannya. Namun, Garda Revolusi Iran mengatakan jalur air strategis tersebut belum akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat tidak menerima persyaratan yang diajukan kedua negara.
