Harga Emas Tembus US$ 4.400 Tertinggi 2 Bulan Setelah Inflasi AS Sesuai Ekspektasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik ke level tertinggi dalam lebih dari 2 bulan pada Rabu (12/8/2026), didukung pelemahan dolar AS setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi pasar. Kondisi itu memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.
Harga emas spot naik 1% menjadi US$ 4.409,35 per ons atau sekitar Rp 79 juta per ons dengan asumsi kurs Rp 17.900 per dolar AS. Harga tersebut juga berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di US$ 4.387,28 per ons. Emas batangan sempat mencapai level tertinggi sejak 5 Juni pada awal perdagangan. Kontrak berjangka emas AS turut menguat 0,6% menjadi US$ 4.466,80 per ons.
Baca Juga
Inflasi konsumen AS naik tipis 0,1% pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan ekonom setelah indeks harga konsumen turun 0,4% pada Juni.
“Data CPI cukup menggembirakan. Angkanya lebih tinggi dari bulan lalu, tetapi sesuai dengan perkiraan, ditambah dengan dolar yang lebih lemah dan faktor teknikal yang semuanya membantu harga emas ikut naik,” kata Analis Marex Edward Meir dilansir CNBC.
Indeks dolar AS sedikit melemah setelah data inflasi dirilis. Pelemahan tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sekitar 40%, turun dari 46% sebelum data inflasi dirilis.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan 29 Juli. Keputusan tersebut disertai perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan, dengan 3 dari 12 pejabat yang memiliki hak suara memilih kenaikan suku bunga.
Pergerakan suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga. Ketika suku bunga meningkat, biaya peluang memegang emas cenderung ikut naik.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Rp 30.000 Jadi Rp 2,68 Juta per Gram
Pasar Tunggu Data PPI AS
Perhatian investor kemudian beralih ke data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) yang dijadwalkan terbit pada Kamis (13/8/2026). Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai tekanan harga pada tingkat produsen di Amerika Serikat.
Selain kebijakan moneter, perkembangan geopolitik juga berpotensi memengaruhi pergerakan emas. Amerika Serikat dan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal pada Selasa (11/8/2026), ketika prospek penyelesaian konflik Iran semakin tidak pasti.
Meir memperingatkan bahwa eskalasi kembali konflik dapat mendorong harga minyak naik dan mengubah ekspektasi terhadap suku bunga. “Jika permusuhan kembali berlanjut, harga minyak bisa kembali mendekati angka US$100, yang dalam hal ini suku bunga bisa naik dan harga emas bisa melemah,” kata Meir.

