Laporan GSMA: Industri Seluler Asia Pasifik Berkontribusi US$1,4 Triliun pada 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Laporan terbaru GSMA berjudul Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat bahwa teknologi dan layanan seluler diproyeksikan memberikan kontribusi sebesar US$1,4 triliun bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030.
Nilai tersebut mengalami peningkatan hingga 40% dibandingkan kontribusi saat ini yang berada di angka US$1 triliun. Laporan yang dirilis di Kuala Lumpur pada 20 Agustus 2026 ini menyoroti bahwa fase pertumbuhan digital berikutnya tidak hanya ditentukan oleh faktor konektivitas semata, melainkan dari cara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas utama.
Ketentuan tersebut meliputi perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), penurunan tingkat kepercayaan digital, tingginya permintaan infrastruktur digital yang tangguh, serta kian besarnya minat terhadap kedaulatan digital.
Pertumbuhan tersebut hadir di tengah fokus pemerintah kawasan Asia Pasifik dalam mengatasi lonjakan penipuan online, ketidakpastian geopolitik, hingga tingginya ekspektasi terhadap kedaulatan digital. Pemerintah dan industri kini secara proaktif berinvestasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud tepercaya, lingkungan data yang aman, serta kapabilitas digital nasional untuk mendukung prioritas daerah dengan tetap menjaga kolaborasi lintas batas. Isu-isu utama ini dijadwalkan menjadi topik pembahasan mendalam dalam ajang M360 ASEAN yang digelar pada 9 hingga 10 September 2026 di Kuala Lumpur.
Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman menjelaskan bahwa industri seluler memainkan peran krusial dalam memandu masa depan digital kawasan. Menurutnya, perekonomian dan masyarakat Asia Pasifik tengah mengalami digitalisasi pesat dengan jaringan seluler sebagai fondasi utama bagi adopsi AI, kepercayaan digital, serta ketahanan infrastruktur.
"Sebagaimana ditunjukkan dalam laporan ini, perekonomian dan masyarakat di seluruh kawasan mengalami digitalisasi yang pesat, di mana jaringan seluler bertindak sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh. Seiring dengan penekanan pemerintah pada kedaulatan digital dan harapan masyarakat akan perlindungan yang lebih kuat dari penipuan (scam, fraud) serta ancaman siber, tanggung jawab yang diemban oleh industri kita terus bertambah. M360 ASEAN mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan inovator untuk mengatasi berbagai tantangan ini, memperkuat kepercayaan, serta memastikan bahwa transformasi digital memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bagi semua pihak," ujar Julian Gorman, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Pemanfaatan 5G,AI dan IoT
Laporan GSMA memaparkan bahwa pemanfaatan 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) akan membawa lonjakan produktivitas di sektor manufaktur dan jasa yang diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi teknologi seluler canggih. Selain itu, aspek kepercayaan digital menjadi keharusan ekonomi mengingat persentase konsumen di ASEAN yang menjadi korban penipuan melonjak dari 31% pada tahun 2024 menjadi 45% pada tahun 2025. Dari sisi infrastruktur, ketahanan jaringan kini bergeser dari isu teknis menjadi prioritas strategis guna mengantisipasi gangguan akibat iklim, risiko rantai pasok, maupun ketegangan geopolitik.
Baca Juga
6,8 Juta Nomor Seluler Sudah Registrasi Biometrik, Kemenkomdigi Ajak Masyarakat Lindungi NIK
Temuan penting lain dalam laporan menunjukkan bahwa koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2030 atau mewakili 50% dari total koneksi seluler di Asia Pasifik. Operator diperkirakan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure) melebihi US$200 miliar sepanjang 2025 hingga 2030, di mana ekosistem seluler menyokong 18 juta lapangan kerja pada tahun 2025. Meski demikian, tantangan inklusi digital masih ada dengan ditemukannya lebih dari 700 juta orang dewasa yang belum tersambung ke internet kendati wilayahnya telah tercakup jaringan pita lebar seluler.
Menteri Komunikasi Malaysia YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil menyambut baik gelaran M360 ASEAN di Kuala Lumpur sebagai ajang strategis memperkuat integrasi digital di kawasan.
"Malaysia bangga dapat mendukung perjalanan ASEAN menuju masa depan digital yang lebih terintegrasi, inovatif, dan inklusif. Melalui penguatan kolaborasi di antara pemerintah, industri, dan masyarakat, kita dapat membuka peluang pertumbuhan baru, memperluas partisipasi digital, dan memastikan manfaat dari transformasi digital dirasakan secara merata di seluruh kawasan. M360 ASEAN adalah platform yang penting untuk memajukan visi bersama ini," tegas Fahmi Fadzil.
Pandangan senada disampaikan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn yang menekankan krusialnya kerja sama lintas sektor untuk mewujudkan ambisi ekonomi digital terintegrasi.
"Seiring langkah ASEAN memajukan visi ekonomi digital yang terintegrasi dan siap menghadapi masa depan, kolaborasi lintas pemerintah, industri, dan mitra regional menjadi hal yang esensial. M360 ASEAN menawarkan platform yang sangat berharga untuk merajut dialog, memperkuat kemitraan, dan mendukung upaya kolektif yang diperlukan guna mengubah ambisi digital bersama menjadi hasil nyata bagi kawasan," tutur Dr. Kao Kim Hourn.
Perhelatan M360 ASEAN bakal menghadirkan berbagai pidato utama dan sesi diskusi dari jajaran pimpinan senior, antara lain Deputi Perdana Menteri Malaysia sekaligus Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof, Menteri Komunikasi Malaysia YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn, Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini, serta Presiden Vodafone Business International Bhupinder Singh. Para pemimpin dan pembuat kebijakan ini akan berkolaborasi merumuskan langkah ASEAN dalam membangun infrastruktur digital yang aman dan tangguh di masa depan.

