Taiwan, Negara Tujuan Favorit Pekerja Migran Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Taiwan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara tujuan favorit Pekerja Migran Indonesia (PMI). Bukan hanya jumlah penempatan baru yang besar, Taiwan juga menjadi salah satu sumber remitansi terbesar bagi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu pekerja Indonesia berangkat setiap tahun ke Taiwan, sementara kiriman uang mereka ke keluarga di Tanah Air telah mencapai miliaran dolar AS per tahun.
Data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan lonjakan penempatan PMI ke Taiwan terutama terjadi setelah pandemi Covid-19. Pada 2022 tercatat 53.471 orang ditempatkan di Taiwan. Angkanya melonjak menjadi sekitar 83.142 hingga 83.216 orang pada 2023, kemudian meningkat lagi menjadi 84.581 orang pada 2024. Dengan demikian, hanya dalam tiga tahun 2022-2024, lebih dari 221.000 penempatan PMI tercatat menuju Taiwan.
Posisi Taiwan tetap sangat kuat pada 2026. Data BP2MI menunjukkan, sepanjang Januari-April 2026 terdapat 97.423 penempatan PMI ke berbagai negara. Taiwan berada di peringkat pertama dengan 32.202 orang atau sekitar 33% dari seluruh penempatan, disusul Malaysia 26.538 orang, Jepang 10.093 orang, Hong Kong 8.546 orang, Singapura 5.115 orang, Turki 4.703 orang, Arab Saudi 2.410 orang, dan Korea Selatan 2.036 orang. Artinya, pada empat bulan pertama 2026, kira-kira satu dari setiap tiga PMI yang ditempatkan ke luar negeri berangkat ke Taiwan.
Baca Juga
Angka tersebut penting dibedakan dari jumlah stok PMI yang sedang bekerja di luar negeri. Data penempatan BP2MI mencatat orang yang ditempatkan dalam periode tertentu dan tidak sama dengan seluruh PMI yang masih aktif bekerja. Bank Indonesia memperkirakan jumlah PMI yang bekerja di luar negeri mencapai sekitar 4,2 juta orang pada akhir 2025. Sekitar 76% bekerja di kawasan Asia-Pasifik, dengan konsentrasi terbesar antara lain di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.
Untuk Taiwan sendiri, angka administratif dapat berbeda tergantung definisi dan periode penghitungan. KemenP2MI, misalnya, pada 2025 menyebut terdapat 181.342 PMI di Taiwan dalam pencatatan sejak 2023 hingga Maret 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 115.000 bekerja di sektor domestik dan caregiver. Data ini sekaligus memperlihatkan bahwa kebutuhan perawatan lansia dan pekerjaan domestik merupakan salah satu pintu terbesar masuknya pekerja Indonesia ke Taiwan.
Taiwan Semakin Menarik
Ada beberapa alasan Taiwan menjadi magnet bagi pekerja Indonesia. Selain kebutuhan tenaga kerja yang besar akibat populasi yang menua dan kekurangan pekerja di sejumlah sektor, tingkat upahnya relatif menarik dibandingkan banyak negara tujuan tradisional PMI. Sistem ketenagakerjaan Taiwan juga relatif terstruktur, sementara hubungan penempatan pekerja dengan Indonesia telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Mulai 1 Januari 2026, pemerintah Taiwan menaikkan upah minimum bulanan menjadi NT$29.500, dari NT$28.590 pada 2025, atau meningkat 3,18%. Upah minimum per jam naik dari NT$190 menjadi NT$196. Kementerian Tenaga Kerja Taiwan mencatat ini merupakan kenaikan upah minimum selama 10 tahun berturut-turut sejak 2016. Dalam satu dekade, upah minimum bulanan telah meningkat 47,4%.
Baca Juga
Ketentuan NT$29.500 tersebut terutama relevan bagi pekerja yang tercakup dalam Minimum Wage Act dan Labor Standards Act, termasuk banyak pekerja di sektor manufaktur. Pekerja rumah tangga dan live-in caregiver mempunyai rezim pengupahan yang berbeda, sehingga tidak tepat menyamaratakan seluruh PMI di Taiwan menerima minimum NT$29.500 per bulan.
Peluang kerja bagi PMI juga mulai meluas. Selama bertahun-tahun Indonesia identik dengan pekerja domestik dan caregiver di Taiwan. Kini penempatan juga berlangsung ke manufaktur dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi. Dalam program Special Placement Program to Taiwan (SP2T), misalnya, BP2MI membuka penempatan operator industri. Salah satu perekrutan untuk perusahaan tekstil di Taoyuan pada 2025 menawarkan pekerjaan operator produksi dengan kontrak tiga tahun.
Perubahan ini penting. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya memperbesar jumlah PMI yang berangkat ke Taiwan, tetapi menggeser sebanyak mungkin penempatan menuju pekerjaan formal dan skilled jobs dengan produktivitas serta pendapatan lebih tinggi.
Remitansi PMI Terus Membesar
Besarnya jumlah PMI di luar negeri menghasilkan arus devisa yang sangat signifikan bagi Indonesia. Data Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia menunjukkan remitansi PMI mencapai US$9,16 miliar pada 2021, kemudian meningkat menjadi US$12,85 miliar pada 2022 dan melonjak menjadi US$14,22 miliar pada 2023.
Kenaikan berlanjut setelah pandemi. Data BI terbaru menunjukkan remitansi PMI mencapai sekitar US$15,70 miliar pada 2024 dan kembali meningkat menjadi US$17,26 miliar pada 2025. Dengan demikian, dalam empat tahun, remitansi PMI meningkat hampir dua kali lipat dari US$9,16 miliar pada 2021 menjadi US$17,26 miliar pada 2025.
Baca Juga
Taiwan 'Senggol' Indonesia Gegara Latihan Militer dengan AL China di Perairan Timur Wilayahnya
Dengan menggunakan kurs rata-rata tahunan, nilai US$17,26 miliar tersebut setara sekitar Rp280 triliun. Ini menjelaskan mengapa pekerja migran sering disebut sebagai salah satu penyumbang devisa penting Indonesia. Namun istilah “pahlawan devisa” tidak boleh hanya berhenti sebagai slogan. Di balik angka tersebut terdapat jutaan pekerja yang meninggalkan keluarga, menghadapi risiko pekerjaan, dan mengirim sebagian pendapatannya untuk membiayai kehidupan keluarga di Indonesia.
Remitansi mempunyai dampak ekonomi yang jauh melampaui penerimaan devisa. Uang tersebut masuk ke rumah tangga, digunakan untuk konsumsi, pendidikan anak, kesehatan, renovasi rumah, pembayaran utang, pembelian tanah dan modal usaha. Efek ekonominya sangat terasa di daerah-daerah kantong PMI karena uang yang dikirim dari luar negeri kemudian berputar kembali di warung, pasar, sekolah, transportasi, konstruksi rumah dan kegiatan ekonomi lokal.
Yang menarik, pertumbuhan remitansi dari Taiwan berlangsung lebih cepat. Bank Indonesia mencatat remitansi PMI dari Taiwan sebesar US$1,37 miliar pada 2021. Angkanya naik menjadi US$1,64 miliar pada 2022, lalu menjadi sekitar US$2,02 miliar pada 2023.
Pada 2024, kiriman PMI dari Taiwan kembali melonjak menjadi US$2,512 miliar. Setahun kemudian, pada 2025, nilainya mencapai US$2,972 miliar. Artinya, hanya dalam empat tahun, remitansi dari Taiwan telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari US$1,37 miliar pada 2021 menjadi hampir US$3 miliar pada 2025.
Jika digunakan asumsi kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, remitansi PMI dari Taiwan pada 2025 setara sekitar Rp47,6 triliun.
Besarnya angka tersebut menempatkan Taiwan sebagai salah satu sumber remitansi PMI terbesar. Pada 2025, Malaysia masih berada di posisi pertama dengan sekitar US$4,77 miliar, disusul Arab Saudi sekitar US$3,99 miliar, kemudian Taiwan US$2,97 miliar dan Hong Kong US$2,63 miliar.
Dengan total remitansi nasional US$17,26 miliar, Taiwan sendiri menyumbang sekitar 17,2%. Dengan kata lain, hampir satu dari setiap enam dolar remitansi PMI yang masuk ke Indonesia pada 2025 berasal dari Taiwan.
Perkembangannya bahkan masih menunjukkan tren meningkat pada 2026. Data sementara Bank Indonesia mencatat pada triwulan I-2026 remitansi PMI secara keseluruhan mencapai US$4,536 miliar. Dari Taiwan saja masuk sekitar US$801 juta, naik dibandingkan US$697 juta pada triwulan I-2025.
Jika dibandingkan secara tahunan, kenaikannya sekitar 15%. Taiwan dengan demikian bukan hanya menjadi salah satu tujuan terbesar penempatan PMI, tetapi juga salah satu sumber remitansi dengan pertumbuhan kuat.
Dari US$1,4 Miliar Menjadi Hampir US$3 Miliar
Perjalanan remitansi Taiwan memperlihatkan perubahan tersebut dengan jelas. Pada 2020, ketika pandemi menekan mobilitas pekerja internasional, remitansi PMI dari Taiwan masih sekitar US$1,41 miliar. Tahun 2021 turun tipis menjadi US$1,37 miliar. Setelah mobilitas pekerja kembali normal, nilainya melonjak menjadi US$1,64 miliar pada 2022, US$2,02 miliar pada 2023, US$2,51 miliar pada 2024, dan US$2,97 miliar pada 2025.
Artinya, dalam lima tahun 2020-2025, remitansi dari Taiwan meningkat sekitar 111%. Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya penempatan pekerja. Pada 2022, BP2MI mencatat 53.471 penempatan ke Taiwan. Pada 2023 meningkat menjadi lebih dari 83.000 dan pada 2024 menjadi 84.581. Taiwan bahkan sempat berada di posisi kedua setelah Hong Kong pada 2024 berdasarkan penempatan tahunan, tetapi kembali menduduki posisi pertama dalam data Januari-April 2026.
Hubungan ketenagakerjaan ini sesungguhnya bersifat saling membutuhkan. Taiwan menghadapi persoalan demografi yang serius. Penduduk menua, angka kelahiran rendah, dan sebagian pekerjaan semakin sulit diisi tenaga kerja lokal. Kebutuhan terhadap caregiver meningkat seiring bertambahnya jumlah warga lanjut usia, sementara sektor manufaktur tetap membutuhkan tenaga kerja untuk mempertahankan kapasitas produksinya.
Baca Juga
BRI Bekali PMI di Taiwan dengan Kewirausahaan untuk Bangun Usaha Produktif
Indonesia mempunyai kondisi yang hampir berlawanan. Penduduk usia produktif besar dan setiap tahun jutaan orang memasuki pasar kerja. Ketersediaan pekerjaan domestik belum seluruhnya mampu menyerap angkatan kerja dengan pendapatan yang diharapkan. Dalam konteks itulah kebutuhan Taiwan dan Indonesia bertemu.
Taiwan membutuhkan pekerja. Indonesia membutuhkan lapangan kerja. Hubungan tersebut akan menjadi semakin bernilai apabila Indonesia mampu mengubah struktur penempatan dari dominasi pekerjaan berkeahlian rendah menuju caregiver profesional, operator manufaktur berteknologi tinggi, teknisi, tenaga kesehatan, hospitality, transportasi dan pekerjaan terampil lainnya.
Taiwan mempunyai basis industri yang sangat maju dalam semikonduktor, elektronik, mesin presisi, AI, server dan manufaktur. Karena itu, peluang kerja Indonesia semestinya tidak berhenti pada sektor domestik.
Besarnya remitansi juga menimbulkan pertanyaan penting: apa yang terjadi dengan uang tersebut setelah sampai di Indonesia? Remitansi hampir Rp50 triliun setahun dari Taiwan akan mempunyai dampak jauh lebih besar apabila sebagian dapat diubah menjadi tabungan, pendidikan, kepemilikan rumah dan modal usaha. Pekerja yang pulang setelah lima atau sepuluh tahun semestinya tidak harus kembali ke titik awal karena seluruh pendapatannya habis untuk konsumsi.
Di sinilah literasi keuangan, tabungan, investasi, perlindungan sosial, serta program pemberdayaan purna-PMI menjadi sama pentingnya dengan penempatan pekerja itu sendiri. Keberhasilan kebijakan migrasi tenaga kerja seharusnya tidak hanya diukur dari berapa orang yang berhasil diberangkatkan, tetapi juga dari berapa besar pendapatan yang mereka peroleh, berapa banyak yang berhasil ditabung, keterampilan apa yang dibawa pulang, dan apakah setelah kembali mereka mampu naik kelas secara ekonomi.
Ada pula persoalan pekerja nonprosedural yang perlu dipisahkan dari statistik penempatan resmi. Berbagai estimasi pemerintah mengenai jutaan PMI di luar negeri mencakup stok pekerja yang telah berada di negara tujuan selama bertahun-tahun, sementara statistik BP2MI mengenai penempatan tahunan hanya mencatat pekerja yang melalui proses penempatan pada periode tersebut. Karena perbedaan definisi itu, angka “PMI yang bekerja di luar negeri” tidak boleh langsung dibandingkan dengan “PMI yang ditempatkan” dalam satu tahun.
Hampir Satu dari Tiga Memilih Taiwan
Namun satu kecenderungan terlihat jelas. Taiwan telah menjadi salah satu kutub utama migrasi tenaga kerja Indonesia. Pada Januari-April 2026 saja, 32.202 dari 97.423 PMI yang ditempatkan ke luar negeri memilih Taiwan. Itu berarti satu negara dengan penduduk hanya sekitar 23 juta jiwa menyerap sekitar sepertiga penempatan baru PMI Indonesia pada periode tersebut.
Lebih menarik lagi, hubungan tersebut menghasilkan arus pendapatan yang besar bagi keluarga Indonesia. Sepanjang 2025, PMI di Taiwan mengirim hampir US$3 miliar atau sekitar Rp48 triliun ke Tanah Air. Pada kuartal pertama 2026 saja, kirimannya sudah mencapai US$801 juta.
Di sinilah arti strategis Taiwan bagi Indonesia. Taiwan bukan hanya negara tujuan bekerja, melainkan salah satu sumber pendapatan bagi ratusan ribu keluarga Indonesia dan salah satu pemasok devisa pekerja migran terbesar bagi perekonomian nasional.
Tantangan Indonesia berikutnya karena itu bukan sekadar mengirim lebih banyak pekerja ke Taiwan. Yang jauh lebih penting adalah mengirim pekerja dengan keterampilan lebih tinggi, memperoleh upah lebih besar, mendapatkan perlindungan lebih baik, dan pulang membawa bukan hanya remitansi, tetapi juga keterampilan, tabungan, pengalaman dan modal untuk naik kelas.
Jika itu dapat diwujudkan, hubungan ketenagakerjaan Indonesia-Taiwan tidak lagi sekadar cerita tentang orang Indonesia mencari pekerjaan di luar negeri. Ia menjadi cerita tentang migrasi tenaga kerja sebagai jalan peningkatan kesejahteraan, pembentukan modal manusia dan pembangunan ekonomi Indonesia.
BRI, Satu-satunya Bank Himbara di Taiwan
Besarnya jumlah pekerja migran dan warga negara Indonesia di Taiwan menciptakan kebutuhan layanan keuangan yang tidak kecil. Namun, kehadiran bank asal Indonesia secara fisik di Taiwan masih sangat terbatas. Hingga 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi satu-satunya bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mempunyai kantor cabang penuh di Taiwan.
BRI mulai mengoperasikan BRI Taipei Branch pada 30 November 2021 setelah memperoleh izin dari otoritas keuangan Taiwan. Kantor tersebut bukan sekadar kantor perwakilan, melainkan berstatus Full Retail Foreign Bank Branch. Dengan status tersebut, BRI dapat menjalankan berbagai kegiatan perbankan, mulai dari penghimpunan dana, kredit, remitansi, trade finance, treasury hingga pelayanan nasabah ritel dan korporasi.
Baca Juga
Terobos Kabut dan Jalan Terjal, Mantri BRI Menjaga Asa Pelaku Usaha Cianjur Selatan
Kehadiran BRI mempunyai arti strategis karena Taiwan telah berkembang menjadi salah satu kantong terbesar pekerja Indonesia di luar negeri. Sebagian besar PMI membutuhkan layanan keuangan untuk menerima gaji, menabung, serta mengirimkan pendapatannya kepada keluarga di Indonesia. Kebutuhan tersebut semakin besar sejalan dengan meningkatnya jumlah pekerja Indonesia yang ditempatkan di Taiwan.
Arus uang yang mengalir dari Taiwan ke Indonesia juga sangat besar. Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$2,97 miliar pada 2025, atau sekitar Rp47–48 triliun jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS. Nilainya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar US$1,37 miliar pada 2021.
Besarnya remitansi tersebut menjadikan Taiwan bukan hanya pasar penempatan tenaga kerja, tetapi juga pasar potensial bagi industri jasa keuangan Indonesia. Setiap bulan, ratusan ribu pekerja Indonesia menerima pendapatan dalam dolar baru Taiwan dan sebagian kemudian mengirimkannya kepada keluarga di Tanah Air. Di sinilah bank mempunyai peran penting untuk membuat transaksi tersebut lebih murah, cepat, aman dan masuk ke sistem keuangan formal.
BRI mempunyai posisi yang menarik karena basis bisnisnya di Indonesia memang sangat kuat pada segmen mikro, kecil dan menengah. Kehadiran di Taiwan memungkinkan bank tersebut menghubungkan dua sisi kehidupan ekonomi PMI: ketika mereka masih bekerja dan memperoleh penghasilan di Taiwan serta ketika uang itu dikirim, ditabung, diinvestasikan atau digunakan sebagai modal usaha di Indonesia.
Peran perbankan bahkan seharusnya tidak berhenti pada remitansi. PMI yang bekerja selama beberapa tahun di Taiwan mempunyai kesempatan mengakumulasi tabungan yang cukup besar. Apabila dikelola dengan baik, pendapatan tersebut dapat digunakan untuk membeli rumah, membiayai pendidikan anak, mempersiapkan dana pensiun, membeli instrumen investasi ataupun membangun usaha ketika kembali ke Indonesia.
Karena itu, layanan keuangan kepada PMI idealnya berubah dari sekadar “mengirim uang” menjadi “membangun aset”. Bank dapat menyediakan tabungan berjangka, investasi, pembiayaan rumah, perlindungan asuransi, literasi keuangan hingga pembiayaan usaha bagi PMI yang kembali ke Indonesia.
Baca Juga
Transformasi BRI Tuai Pengakuan Global, Raih Dua Penghargaan Asian Banking & Finance Awards 2026
Menariknya, bank-bank besar Indonesia lainnya belum mempunyai jaringan kantor cabang penuh seperti BRI di Taiwan. Bank Mandiri, misalnya, tetap dapat melayani WNI dan PMI di Taiwan melalui layanan digital seperti Livin’ by Mandiri serta program pemberdayaan Mandiri Sahabatku, tetapi tidak mempunyai kantor cabang perbankan penuh di Taiwan seperti BRI.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya ruang yang masih sangat besar bagi industri keuangan Indonesia. Dengan komunitas WNI yang besar dan remitansi PMI dari Taiwan mendekati US$3 miliar setahun, Taiwan merupakan pasar yang terlalu besar apabila hanya dipandang sebagai tempat pengiriman tenaga kerja.
Lebih jauh lagi, hubungan ekonomi Indonesia-Taiwan terus berkembang melalui perdagangan, investasi, manufaktur, teknologi dan mobilitas manusia. Kehadiran bank Indonesia karena itu juga dapat berfungsi sebagai jembatan bagi perusahaan Taiwan yang berinvestasi di Indonesia maupun perusahaan Indonesia yang melakukan transaksi dengan mitra Taiwan.
Di sinilah Taiwan menyimpan peluang yang lebih besar dari sekadar remitansi. Ratusan ribu orang Indonesia di Taiwan bukan hanya pekerja migran, tetapi juga penabung, investor, calon pemilik rumah, calon pengusaha dan nasabah perbankan. Tantangannya bukan hanya bagaimana membawa pulang uang yang mereka hasilkan, tetapi bagaimana mengubah hasil kerja bertahun-tahun di Taiwan menjadi aset produktif dan kesejahteraan jangka panjang ketika mereka kembali ke Indonesia.(PD)

