Masela Bisa Jadi Andalan Baru Migas RI, Pengamat Dorong Pertamina Turun Tangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia masih menyimpan potensi besar di sektor minyak dan gas bumi (migas) yang dapat menjadi penopang produksi energi nasional ke depan. Salah satu yang dinilai strategis adalah pengembangan Blok Masela di Maluku.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai percepatan pengembangan Blok Masela dapat menjadi salah satu sumber penting produksi migas nasional, khususnya gas bumi.
“Kalau gas memang potensinya masih besar dan tersebar di berbagai daerah, termasuk Masela,” kata Fahmy saat dihubungi, dikutip Selasa (18/8/2026).
Menurut Fahmy, pengembangan Masela perlu dipercepat untuk segera menghasilkan produksi gas sekaligus memberikan tambahan penerimaan bagi negara. Untuk itu, dia mendorong keterlibatan PT Pertamina (Persero) dalam proyek tersebut.
Fahmy menilai Pertamina memiliki kapasitas untuk masuk dan mencari skema pendanaan yang sesuai, baik melalui sumber internal perusahaan maupun pendanaan eksternal. Dengan demikian, pengembangan Masela tidak harus bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau Pertamina masuk di Masela, maka ini akan mempercepat produksi dari Masela. Kemudian menghasilkan gas yang bisa menjadi pendapatan bagi negara,” sebut Fahmy.
Dia menilai, pengembangan Blok Masela menjadi semakin strategis seiring dengan target pemerintah meningkatkan produksi migas nasional untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 6%. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Untuk sektor energi, pemerintah menargetkan lifting minyak pada 2027 mencapai 610 ribu barel per hari (BOPD). Sementara lifting gas ditargetkan sebesar 954 ribu barel setara minyak per hari.
“Pertumbuhan ekonomi 2027 ditargetkan mencapai 6% lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%, inflasi akan kita jaga pada kisaran 2,5%, suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%, nilai tukar rupiah kisaran Rp 17.500 per 1 dolar," kata Prabowo saat pidato pada Rapat Paripurna DPR.

