SKK Migas Siapkan 110 Blok Baru, Eksplorasi 39 Sumur Jadi Andalan Dongkrak Produksi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mempercepat strategi menarik investasi baru guna menopang produksi migas nasional. Salah satu langkah utama dilakukan melalui penawaran wilayah kerja migas dalam Indonesia Petroleum Bidding Round serta penguatan kegiatan akuisisi data migas untuk meningkatkan daya tarik investor.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus mengatakan, penyediaan data wilayah kerja menjadi faktor krusial bagi investor dalam menilai potensi eksplorasi, khususnya pada wilayah open area yang berisiko tinggi namun berpotensi menghasilkan cadangan besar.
Baca Juga
Dari Bandara ke Lokasi Banjir Sumatra, Begini Aksi Cepat ESDM–SKK Migas
“Untuk menarik investasi baru, SKK Migas juga menawarkan wilayah kerja melalui Indonesia Petroleum Bidding Round serta kegiatan akuisisi data migas yang sangat penting bagi investor dalam menilai potensi wilayah open area,” ujar Rikky dalam webinar bertajuk Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional, Rabu (4/2/2026).
Dia mengungkapkan, jumlah blok migas yang ditawarkan terus meningkat. Pada pertengahan tahun lalu, pemerintah menawarkan 65 blok, kemudian meningkat menjadi 75 blok. Hingga akhir 2025, Indonesia telah mengidentifikasi hampir 110 blok migas yang berpotensi ditawarkan guna memperkuat kegiatan eksplorasi dan eksploitasi hulu migas.
Menurut Rikky, eksplorasi sumur baru akan menjadi tulang punggung peningkatan produksi migas nasional dalam jangka menengah dan panjang. Pada 2026, SKK Migas menargetkan inisiasi pengeboran 39 sumur eksplorasi.
“Ditargetkan terdapat 39 sumur eksplorasi yang akan diinisiasi, dengan harapan lima sumur di antaranya dapat memberikan temuan signifikan di wilayah Sumatra, lepas pantai Natuna, Laut Arafura, dan Jawa. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi kategori big fish maupun giant discovery,” sebutnya.
Rikky menilai keberhasilan temuan cadangan migas di Andaman dan Kutai Basin pada periode 2024–2025 menjadi momentum penting untuk mendorong eksplorasi di wilayah lain. Namun demikian, ia mengakui tantangan peningkatan produksi migas nasional masih cukup besar.
Baca Juga
SKK Migas dan KPK Perkuat Komitmen Antikorupsi Melalui Deklarasi Integritas
Salah satu tantangan utama adalah penurunan alamiah produksi di lapangan tua yang berkisar 3,9% hingga 4,5% per tahun. Kondisi tersebut menuntut peningkatan kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan baru secara lebih agresif.
Selain faktor teknis, industri hulu migas juga menghadapi tantangan regulasi dan perizinan yang dinilai masih kompleks. Proses pengembangan lapangan migas kerap memerlukan waktu panjang karena melibatkan banyak pemangku kepentingan, mulai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat setempat.
“Tantangan investasi juga menjadi perhatian, baik dari sisi daya saing fiskal, persepsi risiko global, maupun keterbatasan pendanaan, khususnya bagi pelaku usaha domestik dalam pengembangan dan eksplorasi migas,” kata Rikky.

