James Riady: Kini Saatnya Kemerdekaan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menegaskan bahwa setelah 81 tahun merdeka secara politik, tantangan generasi Indonesia saat ini adalah membangun “kemerdekaan berikutnya” berupa kekuatan dan kemandirian ekonomi yang memungkinkan seluruh rakyat hidup produktif dan bermartabat. Kemerdekaan ekonomi bukan berarti Indonesia menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, Indonesia justru harus membangun fondasi ekonomi yang kuat di dalam negeri sekaligus tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, teknologi, pendidikan, serta kerja sama internasional.
“Political independence was achieved in 1945. But independence is never completely finished. Every generation must build its meaning again,” kata James dalam opening remarks pada Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast (KMED) bertema “The Next Independence: Building Indonesia’s Economic Strength in a Changing World” di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Jumat (14/08/2026).
Acara menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dihadiri Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, para duta besar dan anggota korps diplomatik, pimpinan Kadin daerah dari berbagai wilayah Indonesia, pengurus Kadin Indonesia, komite bilateral, kamar dagang asing, serta kalangan dunia usaha.
Baca Juga
Maknai Kemerdekaan, James Riady: Indonesia Harus Buka Diri dan Kuasai Hulu AI
Menurut James, pemilihan Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai tempat penyelenggaraan acara memiliki makna khusus. Di tempat itulah, pada malam menjelang 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa berdiskusi dan merumuskan kata-kata yang kemudian menjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Tempat tersebut, kata dia, mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak datang dengan sendirinya. Kemerdekaan harus terlebih dahulu dibayangkan, diperjuangkan dan diputuskan, kemudian diwujudkan melalui pembangunan.
Delapan puluh satu tahun kemudian, Indonesia menghadapi pertanyaan yang berbeda tetapi sama pentingnya: apa arti kemerdekaan bagi generasi sekarang?Menurut James, jawabannya terletak pada kemampuan Indonesia membangun kekuatan ekonominya sendiri. Setelah memperoleh kedaulatan politik pada 1945, Indonesia kini membutuhkan ketahanan pangan dan energi, sumber daya manusia yang kuat, kemampuan teknologi, industri yang kompetitif, lapangan kerja produktif, serta institusi yang mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakat terhadap masa depan.
Namun, James mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi tidak identik dengan isolasi ekonomi. “Economic independence does not mean economic isolation. Quite the opposite,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia yang percaya diri justru harus kuat di dalam negeri, terbuka terhadap dunia, dan cukup percaya diri untuk bekerja sama dengan siapa pun. Dalam konteks tersebut, James menilai hubungan Indonesia dengan negara-negara sahabat menjadi semakin penting. Para diplomat yang hadir dalam KMED bukan sekadar menjadi pengamat perjalanan ekonomi Indonesia. Negara yang mereka wakili, termasuk perusahaan, investor, universitas dan masyarakatnya, merupakan mitra Indonesia dalam membangun babak pertumbuhan berikutnya.
Kerja sama itu dapat diwujudkan melalui investasi, perdagangan, transfer dan pengembangan teknologi, pendidikan, ketahanan pangan serta energi. Namun, James menekankan satu fondasi yang berada di balik seluruh bentuk kerja sama tersebut, yakni kepercayaan atau trust.
Kadin, menurut James, mempunyai tanggung jawab besar dalam proses tersebut. Pemerintah dapat menentukan arah pembangunan dan menetapkan kebijakan, tetapi kekuatan ekonomi pada akhirnya dibangun oleh masyarakat sendiri—mulai dari pengusaha, pekerja, petani, pendidik, inovator hingga berbagai komunitas di seluruh Indonesia.
Karena itu, pembangunan ekonomi juga tidak boleh hanya berpusat di Jakarta. “Indonesia will not be built only from Jakarta,” tegas James.
Kekuatan Indonesia, lanjut dia, harus dibangun dari seluruh provinsi, kota, kabupaten dan komunitas yang tersebar di Nusantara. Kehadiran para pimpinan Kadin daerah dalam forum tersebut mencerminkan pentingnya menghubungkan agenda pembangunan nasional dengan kekuatan ekonomi di daerah.
James juga mengapresiasi kepemimpinan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dalam menjadikan Kadin sebagai jembatan antara pemerintah dan dunia usaha, pusat dan daerah, serta Indonesia dengan komunitas internasional.
Ia berharap Kadin Diplomatic Economic Breakfast tidak berhenti menjadi acara bulanan, tetapi berkembang menjadi komunitas yang dibangun melalui hubungan yang kuat, percakapan terbuka, saling percaya dan kepentingan bersama terhadap masa depan Indonesia.
Menjelang peringatan kemerdekaan, James mengajak dunia usaha dan komunitas internasional melihat Indonesia dalam perspektif yang lebih panjang: Indonesia seperti apa yang ingin dibangun dalam 20 hingga 30 tahun mendatang?
Menurut James, proklamasi 1945 memberikan Indonesia kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Tantangan berikutnya adalah memastikan kedaulatan tersebut menghasilkan kemampuan nyata bagi setiap warga negara. “The first independence gave us sovereignty. The next independence must give every Indonesian capability,” katanya.
Baca Juga
James Riady: Indonesia & Thailand Harus Beralih dari Tetangga Baik Menjadi Mitra Hebat ASEAN
Kemerdekaan berikutnya, menurut dia, harus membuat setiap orang Indonesia mempunyai kemampuan memperoleh pendidikan, bekerja secara produktif, membangun usaha, berpartisipasi dalam perkembangan teknologi, memiliki rumah, dan menjalani kehidupan secara bermartabat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi benang merah pidato James. Jika generasi 1945 memperjuangkan kemerdekaan untuk menentukan nasib bangsa, generasi sekarang menghadapi tugas untuk memberikan isi ekonomi terhadap kemerdekaan itu.
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, ukuran kemerdekaan tidak cukup hanya kedaulatan politik. Kemerdekaan harus tercermin dalam kekuatan pangan dan energi, kualitas manusia, penguasaan teknologi, daya saing industri, kesempatan kerja dan kemampuan rakyat meningkatkan taraf hidup.
Karena itu, James merumuskan posisi Indonesia ke depan dalam tiga prinsip: kuat di dalam negeri, terbuka terhadap dunia, dan percaya diri bekerja sama dengan siapa pun. Jika kemerdekaan pertama memberikan Indonesia kedaulatan, maka kemerdekaan berikutnya harus memberikan rakyat Indonesia kemampuan untuk maju dan hidup bermartabat.

