Prabowo Sebut Sawah Bisa Panen Tiga Kali Setahun 9 Ton per Hektare, Apa Kata Sains?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme mengenai peningkatan produktivitas pertanian Indonesia. Dalam Pidato Presiden RI dalam rangka Penyampaian Laporan Kinerja Lembaga-Lembaga Negara dan Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di hadapan anggota MPR RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Presiden menyebut produksi padi dapat mencapai 9 ton per hektare dengan panen tiga kali dalam setahun.
Di sela pidatonya, Presiden sempat menyapa nama Joko, petani yang dihadirkan pada acara yang sama. Sang petani yang disapa berdiri dengan pakaian etnis Jawa dan mendapatkan tepukan tangan riuh para hadirin.
Pernyataan Presiden menarik untuk dilihat dari perspektif agronomi. Jika yang dimaksud adalah produksi 9 ton gabah per hektare untuk setiap musim panen dan sawah tersebut benar-benar dapat dipanen tiga kali dalam satu tahun, produktivitas kumulatifnya secara matematis mencapai 27 ton gabah per hektare per tahun.
Angka tersebut sangat tinggi. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar bukan hanya apakah produktivitas 9 ton per hektare dapat dicapai dalam satu kali panen, melainkan apakah sawah dapat ditanami dan dipanen tiga kali dalam setahun secara terus-menerus tanpa kehilangan kesuburannya.
Baca Juga
Pidato Lengkap Presiden Prabowo pada Sidang Tahunan MPR Bersama DPR - DPD
Satu Musim Hanya Sekitar Empat Bulan
Untuk bisa melakukan tiga kali panen dalam satu tahun, kalender pertanian memang harus sangat ketat. Satu tahun terdiri atas 365 hari. Jika dibagi menjadi tiga siklus produksi, setiap musim hanya memperoleh waktu sekitar 122 hari atau empat bulan, termasuk waktu sejak persiapan lahan, penanaman, pertumbuhan tanaman hingga panen dan persiapan penanaman berikutnya.
Secara agronomis, hal itu memungkinkan dengan penggunaan varietas padi berumur pendek atau genjah, irigasi yang tersedia sepanjang tahun, mekanisasi pertanian, ketersediaan benih dan pupuk tepat waktu, serta pengelolaan budidaya yang baik.
Bukti ilmiahnya bahkan sudah tersedia selama puluhan tahun. International Rice Research Institute (IRRI) menjalankan Long-Term Continuous Cropping Experiment atau LTCCE di Los Baños, Filipina, sejak 1962. Eksperimen tersebut kemudian menggunakan sistem tiga kali tanam padi dalam setahun secara terus-menerus sejak 1968, setelah tersedia varietas padi berumur pendek dan berproduktivitas tinggi. (Google Sites)
IRRI membagi satu tahun menjadi tiga musim: Januari-April, Mei-Agustus, dan September-Desember. Bahkan, dalam eksperimen tersebut jarak antara panen dan penanaman kembali hanya sekitar 14 hari. Dengan kata lain, tanah praktis terus digunakan untuk menghasilkan padi sepanjang tahun. (Google Sites)
Fakta tersebut memberikan jawaban penting terhadap pertanyaan apakah tanah harus selalu “diistirahatkan” setelah panen. Secara ilmiah, sawah tidak harus dibiarkan bera selama berbulan-bulan agar tetap produktif. Namun, ada syarat besar: unsur hara, air, varietas, kondisi tanah, serta hama dan penyakit harus dikelola dengan sangat baik.
Produksi 9 Ton Per Hektare Bukan Mustahil
Angka produksi 9 ton per hektare dalam satu musim juga bukan sesuatu yang mustahil secara biologis. Dalam eksperimen jangka panjang IRRI, misalnya, produksi 8,9 ton per hektare pernah dicapai pada musim kering 2002 dengan pengelolaan nitrogen optimal dan kondisi iklim yang mendukung. IRRI menyebut radiasi matahari merupakan salah satu faktor dominan yang memengaruhi produktivitas ketika nitrogen dan pengelolaan tanaman telah dioptimalkan.
Bahkan varietas IR8 yang dikembangkan IRRI pada masa Revolusi Hijau pernah menunjukkan potensi hasil hingga sekitar 8,7 ton per hektare pada musim dengan kondisi produksi tinggi. Artinya, dari perspektif potensi biologis tanaman, produksi mendekati 9 ton per hektare bukan angka yang tidak masuk akal.
Yang perlu diperhatikan adalah 9 ton per hektare sekali panen berbeda dengan mempertahankan 9 ton per hektare sebanyak tiga kali setiap tahun. IRRI pernah mencatat total produksi tiga musim sekitar 17 ton per hektare per tahun dalam eksperimen jangka panjangnya. Catatan historis IRRI juga menunjukkan tiga kali panen pada 1966 menghasilkan total sekitar 20,2 ton per hektare dalam setahun.
Dengan demikian, apabila produksi 9 ton per hektare dapat dicapai pada setiap musim selama tiga musim, total 27 ton per hektare per tahun merupakan produktivitas yang sangat tinggi dibandingkan pengalaman eksperimen jangka panjang IRRI. Angka itu bukan sekadar persoalan kemampuan varietas menghasilkan 9 ton pada satu musim, tetapi kemampuan mempertahankan hasil setinggi itu pada musim pertama, kedua dan ketiga dengan perbedaan cuaca, radiasi matahari, ketersediaan air, tekanan hama, serta kondisi unsur hara.
Karena itu, untuk membaca pernyataan Presiden secara tepat, perlu diperjelas pula apakah angka 9 ton per hektare merupakan hasil aktual seluruh lahan, hasil ubinan, gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), atau potensi produktivitas varietas. Perbedaan definisi tersebut penting sebelum angka itu dibandingkan dengan produktivitas nasional maupun hasil penelitian internasional.
Apakah Sawah Tidak Perlu Diistirahatkan?
Penelitian jangka panjang IRRI memberikan temuan yang menarik. Setelah puluhan tahun melakukan budidaya intensif tiga kali setahun, produksi padi tetap dapat dipertahankan apabila pengelolaan agronomi terus diperbaiki. Penelitian yang dipublikasikan dalam Agronomy Journal pada Juli 2000 menemukan bahwa produktivitas tinggi dan efisiensi penggunaan nitrogen dapat dipertahankan apabila rezim pemupukan terus diperbarui agar pasokan nitrogen dari tanah dan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Artinya, konsep bahwa tanah harus “tidur” agar kembali subur tidak sepenuhnya tepat untuk sawah beririgasi yang dikelola secara modern. Persoalan sebenarnya adalah neraca unsur hara.
Setiap kali sawah menghasilkan padi, tanaman mengambil nitrogen, fosfor, kalium dan unsur mikro dari tanah. Sebagian unsur tersebut kemudian keluar dari lahan bersama gabah maupun biomassa tanaman. Semakin tinggi produksi dan semakin sering sawah dipanen, semakin besar pula unsur hara yang harus tersedia bagi tanaman berikutnya.
Tanah karena itu dapat dianalogikan sebagai sebuah rekening. Panen adalah penarikan, sedangkan pemupukan, pengembalian residu tanaman dan proses biologis tanah merupakan setoran. Jika sawah menghasilkan panen besar tiga kali setahun sementara unsur hara yang dikeluarkan tidak dikembalikan secara seimbang, modal kesuburan tanah pada akhirnya akan terkuras.
Baca Juga
Hilangkan 145 Aturan, Prabowo: Harga Pupuk Kita Turunkan 20%
Penelitian Terbaru Memberikan Peringatan
Di sinilah penelitian terbaru menjadi sangat relevan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Field Crops Research, Volume 342, pada 15 Mei 2026, menganalisis sampel tanah selama puluhan tahun dari dua eksperimen padi intensif di Filipina, termasuk sistem tiga kali tanam IRRI.
Penelitian tersebut menemukan paradoks. Sistem sawah intensif memang dapat meningkatkan atau mempertahankan karbon organik tanah, tetapi hal itu tidak otomatis berarti kesuburan tanah semakin baik. Penggunaan pupuk kimia secara intensif dalam jangka panjang dapat mengubah cadangan dan keseimbangan unsur hara tanah.
IRRI dalam ulasannya mengenai penelitian tersebut juga mengingatkan adanya risiko penurunan kualitas kesuburan tanah yang dapat tersembunyi di balik peningkatan karbon tanah dan semakin besarnya ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi strategi swasembada pangan Indonesia. Mengejar panen tiga kali setahun merupakan langkah yang secara ilmiah memungkinkan, tetapi intensifikasi tidak cukup dilakukan hanya dengan menambah pupuk dan memperpendek jarak antarmusim.
Diperlukan pengujian tanah secara berkala, pemupukan berimbang sesuai kebutuhan spesifik lokasi, pengelolaan bahan organik dan jerami, ketersediaan irigasi sepanjang tahun, penggunaan varietas unggul berumur pendek, mekanisasi untuk memperpendek waktu antara panen dan tanam, serta pengendalian hama terpadu.
Bukan Hanya 9 Ton, tetapi 9 Ton yang Berkelanjutan
Karena itu, pernyataan Presiden Prabowo mengenai produktivitas 9 ton per hektare dan tiga kali panen setahun mempunyai dasar kemungkinan secara agronomis. Penelitian IRRI membuktikan bahwa padi dapat ditanam tiga kali setahun selama puluhan tahun dan produksi mendekati 9 ton per hektare dapat dicapai dalam satu musim pada kondisi yang sangat baik.
Namun, tantangan yang jauh lebih besar adalah menggabungkan keduanya secara konsisten. Jika 9 ton per hektare benar-benar dicapai dalam setiap musim dan panen berlangsung tiga kali setahun, Indonesia berbicara tentang produktivitas sekitar 27 ton gabah per hektare per tahun.
Maka, keberhasilan kebijakan pangan tidak seharusnya hanya diukur dari rekor produksi satu musim. Ukurannya harus lebih panjang: berapa produksi per hektare per tahun, berapa biaya produksinya, bagaimana pendapatan petaninya, berapa banyak pupuk dan air yang dibutuhkan, dan apakah kesuburan sawah tersebut tetap terjaga setelah 10, 20 hingga 50 tahun.
Pengalaman lebih dari setengah abad IRRI memberikan kesimpulan yang cukup terang. Sawah tidak harus berhenti berproduksi untuk tetap subur. Tetapi semakin sering sawah dipanen dan semakin tinggi hasil yang dituntut, semakin baik pula tanah itu harus dipelihara.
Dengan demikian, tantangan Indonesia setelah mampu meningkatkan produktivitas bukan sekadar mencapai 9 ton per hektare, melainkan memastikan bahwa 9 ton hari ini tidak dibayar dengan penurunan kesuburan tanah dan produksi pangan pada masa depan.

