ESDM Ungkap Strategi 4A Perkuat Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Geopolitik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah memperkuat strategi ketahanan dan kemandirian energi nasional untuk menghadapi dinamika geopolitik serta potensi krisis energi global. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari stabilitas keamanan nasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan Indonesia perlu memastikan ketersediaan energi sekaligus memperkuat akses, keterjangkauan harga, dan penerimaan lingkungan. Hal tersebut disampaikan Laode dalam diskusi panel Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX TA 2026 di Lemhannas RI, Jakarta.
Baca Juga
Perkuat Dominasi, Xiaomi Rilis Redmi 15 dengan Baterai Jumbo di Indonesia!
“Indonesia diperhitungkan di kancah internasional. JP Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua yang paling tangkas saat menghadapi dinamika krisis energi global. Ketika negara-negara tetangga di kawasan harus menyatakan kondisi darurat hingga masyarakatnya jalan kaki akibat keterbatasan BBM, pasokan dan jumlah pekerjaan di Indonesia tetap terjaga dan terpenuhi,” ujar Laode, dikutip Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, ketahanan pasokan energi Indonesia tetap terjaga ketika sejumlah negara lain di kawasan menghadapi tekanan akibat keterbatasan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat kemandirian energi.
Laode mengatakan penguatan ketahanan energi juga dilakukan melalui pembenahan tata kelola sektor migas. Mengacu pada Asta Cita Presiden dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025, pemerintah memberikan ruang bagi pengelolaan sumur minyak masyarakat melalui skema yang lebih tertib dan terukur.
“Puluhan tahun saudara-saudara kita dikejar-kejar karena melakukan pengeboran minyak secara ilegal. Sumur-sumur minyak masyarakat tersebut diatur melalui penetapan regulasi yang baru, Permen ESDM No. 14 Tahun 2025,” jelas dia.
Melalui aturan tersebut, masyarakat yang tinggal di wilayah kerja dapat melakukan produksi dan menjual hasilnya kepada pemilik wilayah kerja seperti Pertamina atau Medco. Pemerintah memberikan masa transisi selama empat tahun untuk membenahi tata kelola, terutama dari sisi keselamatan kegiatan produksi.
Dalam menjalankan kebijakan energi, Ditjen Migas menerapkan pendekatan 4A, yakni Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptability. Dari sisi Availability, pemerintah berupaya meningkatkan ketersediaan energi melalui optimalisasi cadangan dan produksi migas nasional.
Langkah tersebut dilakukan, antara lain dengan mengaktifkan kembali sumur-sumur idle, menerapkan teknologi, seperti enhanced oil recovery (EOR) dan horizontal drilling, serta meningkatkan eksplorasi di wilayah Indonesia Timur. Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan pada jalur impor yang memiliki risiko geopolitik tinggi, termasuk jalur Selat Hormuz.
Baca Juga
Bahlil Lantik 4 Pejabat Pimpinan Tinggi di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
Dari sisi accessibility, pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur gas bumi, termasuk pipa transmisi Cirebon–Semarang (CISEM) dan Dumai–Sei Mangkei (Dusem). Untuk wilayah kepulauan Indonesia bagian tengah dan timur, pemerintah menyiapkan pasokan melalui moda small scale liquefied natural gas (LNG), sekaligus memperluas program BBM Satu Harga di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Sementara affordability diarahkan untuk menjaga harga energi tetap terjangkau melalui subsidi BBM dan LPG yang tepat sasaran serta keberlanjutan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi tujuh sektor industri prioritas. Adapun Acceptability ditempuh melalui pengembangan teknologi rendah emisi, termasuk Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).
Selain memperkuat pasokan domestik, pemerintah juga terus berupaya menekan defisit impor akibat konsumsi minyak nasional yang masih lebih tinggi dibandingkan produksi dalam negeri. Salah satu langkah strategisnya adalah pengembangan bahan bakar nabati sebagai substitusi BBM fosil.

