Rentetan Kecelakaan Transportasi Dinilai Pengawasan Pemerintah Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi V DPR, Lasarus menilai rentetan kecelakaan yang terjadi di berbagai moda transportasi menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aspek keselamatan.
Pernyataan tegas itu disampaikan Lasarus kepada investortrust.id saat menanggapi insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep, Jawa Timur, yang menewaskan lima orang pada 2 Agustus 2026.
"Ini kan kejadian sudah berulang-ulang kali. Kalau saya lihat sih lemahnya pengawasan dari pemerintah. Kenapa kapal boleh berlayar di saat muatannya tidak dipastikan aman? Kondisi kapal juga belum tentu aman. Tapi penyebabnya kan belum ketahuan, kita lagi tunggu investigasi dari KNKT," kata Lasarus, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga
Menurut Lasarus, terulangnya kecelakaan menjadi gambaran lemahnya pengawasan pemerintah terhadap sektor transportasi. Ia juga menyoroti informasi mengenai ketidaksesuaian antara manifest dan jumlah penumpang KMP Mutiara Sentosa II.
"Saya dapat informasi juga antara manifest dengan jumlah penumpang juga tidak sama. Ini selalu juga berulang. Orang yang naik ke kapal itu kan harusnya terdata. Berapa yang naik, jadi kalau ada apa-apa kan ketahuan siapa yang naik, berapa yang ditemukan, masih ada yang hilang atau tidak. Jadi operasi juga menjadi sulit karena tidak sama manifest dengan jumlah penumpang," tegas dia.
Lasarus meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap penyebab kebakaran kapal tersebut.
"Ini kejadian berulang dan perlu diinvestigasi secara menyeluruh oleh KNKT. Ini adalah gambaran lemahnya pengawasan Kementerian Perhubungan terhadap moda transportasi," lugas politisi PDI Perjuangan itu.
Tak hanya insiden kapal laut tersebut, Lasarus juga menyoroti sejumlah kecelakaan transportasi lain yang terjadi belakangan ini, mulai kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 hingga kecelakaan bus ALS di wilayah Sumatra pada 6 Mei 2026.
"Kita kan baru menerima kemarin kecelakaan kereta api beberapa waktu yang lalu. Kemarin juga ada kereta api nabrak truk lagi beberapa hari yang lalu. Lalu ada kecelakaan bus tempo hari yang juga kita alami bersama beberapa orang meninggal. Jadi menurut saya ini harus jadi perhatian serius pemerintah," ungkap dia.
Selain itu, ia menilai keterbatasan anggaran pengawasan keselamatan berpotensi memengaruhi upaya pencegahan kecelakaan.
Anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada 2026 mengalami penurunan Rp 1,03 triliun dari periode sebelumnya, yakni Rp 29,51 triliun. Adapun pada tahun ini kementerian mengalokasikan sekitar Rp 6,88 triliun untuk dukungan keselamatan seluruh moda transportasi.
Baca Juga
Menhub: Evakuasi Korban KM Mutiara Sentosa II Dioptimalkan, Penyebab Kebakaran Diinvestigasi
Terpisah, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kemenhub menyatakan, proses penanganan korban dan investigasi kebakaran KMP Mutiara Sentosa II masih berlangsung. Pemerintah telah mengerahkan Kapal Negara Patroli KN Grantin P. 211 dan Kapal Negara Kenavigasian KN Masalembo untuk membantu proses evakuasi korban.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Kemenhub M Masyhud mengungkapkan, sebanyak 62 korban dievakuasi dari Masalembu ke Surabaya menggunakan KN Masalembo pada Selasa (4/8/2026). Dengan demikian, total korban yang telah dievakuasi mencapai 238 orang, terdiri atas 233 orang selamat dan lima orang meninggal dunia.
Masyhud juga menyampaikan, Kementerian Perhubungan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan pelayaran. Bahkan, pihaknya juga telah menyurati dan memanggil operator PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) untuk menjalani audit penerapan sistem manajemen keselamatan.

