Industri Pengolahan Daging di Indonesia Masih Punya Potensi Besar
JAKARTA, investortrust.id - Industri pengolahan daging di Indonesia masih punya potensi besar untuk berkembang. Pasalnya,permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan meningkat.
"Masih rendahnya konsumsi daging nasional juga merupakan peluang bagi industri pengolahan daging untuk mengembangkan pasar produk daging olahan di dalam negeri," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam keterangan di Jakarta, Jumat (19/01/2024).
Baca Juga
Dewas Ungkap KPK Sedang Usut Dugaan Keluarga SYL Atur Pengadaan Sapi di Kementan
Kementerian Perindustrian, lanjut Putu, terus mendorong peningkatan potensi industri pengolahan daging. Salah satunya melalui penyusunan kebijakan yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan menjaga keberlangsungan industri ini.
Menekan Stunting
Hal itu juga beriringan dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional, dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk. Berdasarkan laporan OECD FAO, saat ini, konsumsi daging sapi nasional sebesar 2,25 kilogram/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi daging ayam sebesar 8,37 kilogram/kapita/tahun.
"Tingkat konsumsi tersebut termasuk rendah, bila dibandingkan Malaysia yang mencapai angka konsumsi daging sapi sebesar 5,72 kg/kapita/tahun dan daging ayam sebesar 50,48 kg/kapita/tahun. Ini juga masih di bawah rata-rata angka konsumsi daging sapi dan ayam di dunia," papar Putu.
Baca Juga
Atasi Populasi Sapi Anjlok, Presiden Baru Harus Wujudkan Swasembada Daging
Meski demikian, berdasarkan data perusahaan pemasaran intelijen yang berbasis di London, Mintel, pertumbuhan industri pengolahan daging di Indonesia tergolong paling cepat secara global. Industri pengolahan daging RI saat ini berjumlah 64 perusahaan, dengan nilai investasi Rp 3,45 triliun dan tenaga kerja sebanyak 25.839 orang.
Ekspor Meningkat
Kinerja ekspor produk olahan daging (HS 1601 dan 1602) di tahun 2023 juga meningkat signifikan, mencapai 80% dibandingkan tahun 2019. Nilai ekspor di tahun 2023 mencapai USD 3,5 juta, meningkat dari capaian tahun 2019 sebesar USD 2,8 juta.
“Nilai ekspor tersebut memang masih kecil, bila dibandingkan negara produsen olahan daging utama di dunia. Namun, menunjukkan bahwa potensi ekspor produk olahan daging cukup tinggi dan mengalami pertumbuhan yang signifikan,” tandas Putu.
Ia menambahkan, kinerja industri pengolahan daging, antara lain, dipengaruhi oleh perubahan pola hidup sebagian masyarakat perkotaan, yang dituntut lebih cepat dan instan. Hal ini mendorong peningkatan konsumsi makanan olahan termasuk produk olahan daging.
“Pertumbuhan angka konsumsi daging sapi dan unggas, di tahun 2023, mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 8,20% dan 12,03% dibandingkan dari tahun 2019. Pertumbuhan konsumsi daging sapi di Indonesia di negara ASEAN berada pada posisi ketiga, setelah Vietnam dan Malaysia. Sedangkan untuk pertumbuhan daging unggas, Indonesia berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Filipina,” ungkapnya.
Industri pengolahan daging dinilai merupakan salah satu industri yang dapat bertahan menghadapi tantangan global. Selain itu, tetap mengalami pertumbuhan yang positif.
Putu mengatakan, tantangan ke depan akan semakin dinamis. “Perubahan yang cepat menuntut industri untuk terus berinovasi dan beradaptasi, agar tidak hanya bisa eksis, namun juga berkembang menjadi lebih baik sesuai tuntutan zaman,” ujarnya.

