Harga Emas Naik Lagi, Jawabannya Ada di Trump dan Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat pada perdagangan Selasa (16/6/2026) setelah pasar menilai peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini semakin mengecil. Optimisme tersebut muncul menyusul kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menekan harga minyak serta meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.338,97 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni pada sesi sebelumnya. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat naik 0,1% dan ditutup pada US$ 4.354,40 per ons.
Penguatan logam mulia terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya sempat diblokir Iran sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada Februari.
Baca Juga
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Minggu, 1 Gram Dibanderol Rp 2,82 Juta
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan perkembangan geopolitik tersebut menjadi faktor utama yang menopang harga emas dalam dua sesi perdagangan terakhir. "Faktor yang mendukung pasar selama dua sesi terakhir adalah prospek kesepakatan antara AS dan Iran terkait pengakhiran perang," kata Meger dilansir Reuters.
Akibatnya, ada penurunan suku bunga jangka pendek, penurunan harga energi, dan berkurangnya kemungkinan The Fed perlu menaikkan suku bunga di akhir tahun ini.
Harga minyak mentah Brent juga merespons positif perkembangan tersebut. Minyak turun di bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret, setelah anjlok hampir 5% pada Senin (15/6/2026) menyusul pengumuman kesepakatan sementara tersebut.
Ekspektasi The Fed Berubah
Meredanya tekanan harga energi membuat pelaku pasar mengubah proyeksi kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan alat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember turun menjadi 58%, dari sebelumnya mendekati 70%.
Selama beberapa bulan terakhir, emas sempat tertekan akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Padahal, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Baca Juga
Emas Bisa Makin Berkilau Pasca-Selat Hormuz Dibuka, Bisa Tembus US$ 4,874 pada Akhir Tahun
Kini, fokus pasar tertuju pada rangkaian pertemuan bank sentral yang digelar pekan ini. Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu (17/6/2026), yang menjadi keputusan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.
Keputusan tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat hingga akhir tahun, sekaligus menentukan pergerakan aset safe haven seperti emas.
Harga perak spot naik 0,7% menjadi US$ 70,51 per ons. Platinum menguat 2,7% menjadi US$ 1.812,76 per ons, sedangkan paladium bertambah 0,9% menjadi US$ 1.360,75 per ons.
