Pemadaman Listrik di Jawa, Ketahanan Pasokan Batu Bara PLTU Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta pemerintah melakukan investigasi menyeluruh atas gangguan sistem kelistrikan yang memicu pemadaman listrik di sejumlah wilayah Jawa sejak Selasa (9/6/20260 hingga hari ini Kamis (11/6/2026). Gangguan pada satu pembangkit seharusnya tidak berkembang menjadi pemadaman luas dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Menurut IESR, sistem kelistrikan Jamali dirancang dengan cadangan daya (reserve margin), sistem proteksi, dan redundansi jaringan yang memadai untuk mengantisipasi gangguan pada pembangkit maupun jaringan transmisi. Dengan reserve margin sekitar 30%, sistem seharusnya tetap mampu menjaga keandalan pasokan listrik.
Baca Juga
Istana Telpon Dirut PLN, Minta Pasang Listrik di Pengungsian Kebakaran Kemayoran
IESR mempertanyakan penjelasan awal terkait penyebab gangguan tersebut. IESR menduga pemadaman bergilir yang terjadi belakangan berkaitan dengan berkurangnya kemampuan sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam memasok listrik akibat keterbatasan bahan bakar batu bara.
Kondisi tersebut diduga menyebabkan beberapa PLTU beroperasi di bawah kapasitas optimal. Pada saat yang sama, gangguan pada pembangkit lain, termasuk PLTGU Jawa 1, turut mengurangi pasokan listrik ke sistem.
IESR menilai salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi pasokan batu bara adalah keterlambatan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan. Industri pertambangan sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran terkait dampak keterlambatan RKAB terhadap rantai pasok batu bara sejak Maret dan April 2026.
“Jika sejumlah informasi yang beredar bahwa adanya gangguan pasokan batu bara yang membuat PLTU harus menurunkan kapasitas pembangkitannya adalah benar, ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sistem kelistrikan yang didominasi batu bara dan terpusat merupakan ancaman bagi keamanan pasokan energi,” ujar CEO IESR Fabby Tumiwa, Kamis (11/6/2026).
Fabby menilai lambatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan (EBT) serta pembatasan pengembangan PLTS atap dalam beberapa tahun terakhir ikut meningkatkan risiko terhadap keandalan sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga
PLN Bagi-bagi Voucher Listrik pada Juni, Syaratnya Isi Token di Aplikasi 'Mobile'
Menurut Fabby, peristiwa pemadaman listrik di Jawa harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan sistem ketenagalistrikan nasional. Apalagi kebutuhan listrik terus meningkat seiring pertumbuhan industri, pembangunan pusat data (data center), dan percepatan elektrifikasi transportasi.
IESR menegaskan bahwa pasokan listrik yang andal merupakan kebutuhan mendesak untuk menjaga daya saing ekonomi. Gangguan pasokan yang meluas tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi menimbulkan kerugian bagi dunia usaha.
IESR meminta Kementerian ESDM sebagai regulator ketenagalistrikan melakukan investigasi komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab utama, faktor pemicu, serta kelemahan sistem yang memungkinkan gangguan berkembang menjadi pemadaman luas. “Hasil investigasi perlu disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas dan upaya memperkuat kepercayaan terhadap sistem kelistrikan nasional,” sebut Fabby.
