Serangan Iran ke Basis Militer AS Guncang Harga Emas Jatuh ke Level Terendah Sejak November 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas kembali kehilangan kilau pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut mendorong investor melepas aset logam mulia, sehingga harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari enam bulan.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup turun 3,57% menjadi US$ 4.133,30 per ons, penutupan terendah sejak 24 November 2025. Sementara itu, harga emas spot merosot 4,5% menjadi US$ 4.070,56 per ons.
"Emas tetap menjadi korban meningkatnya risiko inflasi meskipun ketegangan geopolitik memicu penghindaran risiko. Permusuhan AS-Iran yang kembali memanas pada dasarnya telah menyabotase upaya untuk mengakhiri perang," kata Analis Riset Senior FXTM Lukman Otunuga dilansir Reuters.
Baca Juga
Konflik Geopolitik Picu Volatilitas Komoditas, Transaksi Olein dan Emas di JFX Melonjak
Pelaku pasar semula memperkirakan ketegangan geopolitik akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset aman. Namun, lonjakan risiko inflasi justru mengubah arah sentimen karena investor semakin yakin bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Garda Revolusi Iran sebelumnya menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas aksi militer Amerika Serikat terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Bentrokan terbaru itu menjadi salah satu pertukaran serangan terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April lalu. Meningkatnya ketegangan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Inflasi Jadi Musuh Baru Emas
Harga emas batangan tercatat telah turun lebih dari 20% sejak perang yang didukung AS dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Konflik berkepanjangan mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi semakin sulit dikendalikan.
Secara historis, emas memang dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika inflasi memicu kenaikan suku bunga, daya tarik emas cenderung berkurang karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Menurut alat CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember 2026 mencapai 67%.
Lukman Otunuga mengatakan data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dirilis Rabu berpotensi menjadi penentu arah kebijakan Federal Reserve pada paruh kedua 2026.
Baca Juga
"Laporan CPI hari Rabu dapat sangat memengaruhi ekspektasi mengenai tindakan apa yang akan diambil The Fed pada paruh kedua tahun 2026. Dari sisi teknis, penurunan harga emas di bawah SMA 200 hari merupakan sinyal bearish yang dapat memicu tekanan jual tambahan, yang didukung oleh fundamental," ujar Otunuga.
Simple Moving Average (SMA) merupakan indikator teknikal yang digunakan untuk mengukur tren harga berdasarkan rata-rata pergerakan dalam periode tertentu. Ketika harga bergerak di bawah SMA 200 hari, pasar umumnya menganggap tren jangka panjang sedang berada dalam fase pelemahan.
Sementara harga platinum turun hampir 3% menjadi US$ 63,40 per ons. Perak juga terkoreksi 3,6% menjadi US$ 1.664,48 per ons. Berbeda dengan dua logam tersebut, paladium justru mampu menguat 0,6% ke posisi US$ 1.213,75 per ons.

