Emas Bangkit dari Level Terendah 3 Bulan, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia naik pada perdagangan Senin (8/6/2006) setelah muncul harapan tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Iran. Kabar tersebut membantu logam mulia bangkit dari level terendah dalam lebih dari tiga bulan, meski penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih membatasi ruang kenaikan harga.
Harga emas spot naik 0,33% menjadi US$ 4.343,03 per ons. Sebelumnya, logam mulia itu sempat menyentuh level terendah sejak 23 Maret di posisi US$ 4.268,39 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Agustus naik 0,05% menjadi US$ 4.367,30 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Melemah 1% Saat Ketegangan Iran-AS Memanas, Investor Waspadai Suku Bunga
Pergerakan harga emas terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Israel dan Iran sama-sama berupaya mencapai gencatan senjata secepat mungkin. Ia juga menyebut negosiasi akhir terkait perdamaian sedang berlangsung.
Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar merespons positif kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Kami pulih dari titik terendah di luar negeri hanya karena berita bahwa mungkin ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Jadi itu sedikit mengurangi tekanan penurunan,” kata Grant dilansir Reuters.
Meski selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven saat terjadi konflik geopolitik, prospek perdamaian justru mengurangi kebutuhan investor untuk mencari perlindungan. Selain itu, meredanya risiko gangguan pasokan energi berpotensi menurunkan tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama. Bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, lingkungan suku bunga tinggi biasanya menjadi faktor negatif karena meningkatkan daya tarik instrumen berbunga seperti obligasi.
Dolar dan Suku Bunga Penahan Kenaikan
Di sisi lain, kenaikan harga emas masih tertahan oleh penguatan dolar AS yang diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir. Penguatan mata uang AS itu terjadi setelah laporan ketenagakerjaan pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada akhir tahun.
Dolar yang lebih kuat membuat komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Akibatnya, permintaan terhadap emas cenderung berkurang.
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada Desember mencapai 43%. Angka itu meningkat tajam dibandingkan sekitar 14% sebulan sebelumnya.
Fokus investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat. Pasar menantikan rilis indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) untuk Mei pada Rabu (10/6/2026), disusul data indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Kamis. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai emas masih menghadapi risiko penurunan apabila data inflasi menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan. “Harga emas mungkin akan menguji level US$ 4.000 sebagai titik dukungan kritis jika pasar menerima data CPI yang lebih tinggi dari perkiraan minggu ini, atau jika FOMC bersikap sangat hawkish minggu depan,” kata Tan.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Bertahan di Rp 2,774 Juta, Investor Menunggu Data AS
Federal Open Market Committee (FOMC) merupakan komite pembuat kebijakan moneter Federal Reserve yang bertugas menentukan arah suku bunga acuan Amerika Serikat.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1% menjadi US$ 68,52 per ons. Sebaliknya, platinum turun 1,3% menjadi US$ 1.752,87 per ons. Harga paladium juga melemah 1,3% menjadi US$ 1.209,29 per ons.

